PEMANTAUAN KAWASAN BANJIR MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT 8 TAHUN 2015 dan 2016 (Studi Kasus: Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi)
Kabupaten Sarolangun memiliki topografi dataran rendah 5.248 km² (85%) dan dataran tinggi 926 km² (15%) dapat memicu terjadinya peristiwa bencana banjir rutin. Selain keadaan topografi, banjir rutin diakibatkan oleh factor perubahan penggunaan lahan sehingga daerah tangkapan air menjadi rusak. Penelitian ini bertujuan untuk memantau kawasan banjir dan area sebelumnya tergenang banjir di Kabupaten Sarolangun pada tahun 2015 dan tahun 2016 menggunakan Algoritma Decision Tree Approach dari Dao dan Liou (2015). Proses mendeteksi kawasan banjir menggunakan indeks Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) untuk dapat membedakan vegetasi dan bukan-vegetasi, serta Normalized Difference Water Index (NDWI) untuk mendeteksi kandungan air dan bukan-air pada Citra Landsat 8 OLI. Penelitian ini menghasilkan tiga klasifikasi yaitu badan air, banjir, dan area sebelumnya tergenang banjir. Pemantauan ini menghasilkan daerah yang terdeteksi kawasan banjir rutin terluas yaitu Kecamatan Mandiangin dan area sebelumnya tergenang banjir rutin yaitu Kecamatan Batang Asai, sedangkan daerah yang terpantau aman yaitu Kecamatan Singkut.
Detail Information
Citation
APA Style
. (2017).PEMANTAUAN KAWASAN BANJIR MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT 8 TAHUN 2015 dan 2016 (Studi Kasus: Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi) ().Teknik Geodesi:FTSP
Chicago Style
.PEMANTAUAN KAWASAN BANJIR MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT 8 TAHUN 2015 dan 2016 (Studi Kasus: Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi) ().Teknik Geodesi:FTSP,2017.Text
MLA Style
.PEMANTAUAN KAWASAN BANJIR MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT 8 TAHUN 2015 dan 2016 (Studi Kasus: Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi) ().Teknik Geodesi:FTSP,2017.Text
Turabian Style
.PEMANTAUAN KAWASAN BANJIR MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT 8 TAHUN 2015 dan 2016 (Studi Kasus: Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi) ().Teknik Geodesi:FTSP,2017.Text