// <![CDATA[IDENTIFIKASI SEDIMENTASI DAN ABRASI PANTAI MENGGUNAKAN CITRA SATELIT LANDSAT MULTI TEMPORAL (Studi Kasus :]]> 0411127504 - Dr.rer.nat. Dian Noor Handiani, S.Si., M.T. Dosen Pembimbing 2 0412017610 - Dr. Soni Darmawan, S.T., M.T. Dosen Pembimbing 1 Muhammad Fariz Suryahadi/23-2012-089 Penulis
Perubahan garis pantai terbentuk dengan adanya proses sedimentasi dan abrasi disepanjang garis pantai yang diakibatkan oleh aktifitas hidrooseanografi dan antropogenik. Besarnya perubahan garis pantai dapat dilihat terhadap luasan sedimentasi dan abrasi dengan metode Bilko dan Agso kemudian dilakukan proses deliniasi. Hasil deliniasi menunjukkan metode Bilko lebih akurat dikarenakan sesuai dengan ketetapan BIG terkait SNI peta dasar lingkungan pantai Indonesia skala 1:250.000 dengan nilai standar deviasi sebesar 19,8 meter berdasarkan hasil selisih jarak metode Bilko dengan hasil di lapangan. Sedimentasi terbesar terletak pada Kecamatan Blanakan dan Pusakanagara dengan persentase sebesar 43% dan 50% sedangkan abrasi terbesar terletak pada Kecamatan Legonkulon dengan persentase sebesar 70%. Berdasarkan tinjauan hidrooseanografi transportasi sedimentasi dan abrasi relatif stabil dikarenakan dipengaruhi oleh angin musiman, sedangkan tinjauan antropogenik menunjukkan aliran sungai ciasem dan cipunagara membawa partikel sedimentasi dari darat dan perubahan mangrove terbesar terjadi di Kecamatan Legonkulon yang mengakibatkan terjadinya abrasi.