// <![CDATA[KAJIAN PERSEPSI DAN PREFERENSI PENGUNJUNG TERHADAP ATRAKSI, AKSESIBILITAS, DAN AMENITAS KAMPUNG ADAT CIREUNDEU]]> 0427027601 - Sony Herdiana S.T, M.RegDev. Dosen Pembimbing 1 Ahmad Rivaldi Aghasta/24-2014-039 Penulis
Kampung Adat Cirendeu terletak di Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi. Kampung Adat Cireundeu memiliki budaya yang sudah ada sejak dahulu, mulai dari ritual tahun baru kalendar sunda, pakaian tradisional, kesenian tradisional, hingga pertujukan seni. Uniknya, masyarakat disana masih menjadikan singkong sebagai makanan pokok. Budaya ini berpotensi untuk dikembangkan menjadi daya tarik wisata di Kota Cimahi. Namun minat wisatawan untuk berkunjung ke objek wisata tersebut masih terbilang kurang. Jumlah kunjungan per tahun Kampung Adat Cireundeu hanya sebanyak 1.935 orang, jumlah tersebut masih terbilang kurang jika dibandingkan dengan wisata sejenisnya seperti Kampung Naga yang memiliki jumlah kunjungan per tahun mencapai 88.578 orang. Maka dari itu untuk mengetahui kurangnya minat wisatawan untuk berkunjung ke objek wisata tersebut yaitu dicari berdasarkan persepsi dan preferensi pengunjung Kampung Adat Cireundeu yang mengacu pada komponen 3A pariwisata (atraksi, aksesibilitas, amenitas). Maka muncul pertanyaan penelitian, yaitu “Bagaimana Persepsi dan Preferensi pengunjung terhadap komponen 3A pariwisata Kampung Adat Cireundeu?” Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi dan preferensi wisatawan terhadap aspek 3A pariwisata (atraksi, aksesibilitas, amenitas) Kampung Adat Cireundeu dengan menggunakan analisis statistik deskriptif dan analisis kesenjangan (GAP). Hasil dari analisis tersebut adalah kesenjangan antara persepsi dan preferensi wisatawan terhadap aspek 3A pariwisata (atraksi, aksesibilitas, amenitas) Kampung Adat Cireundeu. Berdasarkan hasil analisis, didapatkan dari 25 atribut terdapat 11 atribut yang bernilai GAP negatif sedangkan 14 atribut lainnya bernilai positif. Atribut yang bernilai GAP negatif diantaranya jumlah tempat ibadah, jumlah toilet, kondisi tempat parkir, kondisi toilet, daya tarik kehidupan sehari – hari masyarakat, daya tarik bercocok tanam singkong, kondisi tempat ibadah, luas tempat parkir, jumlah petunjuk arah, jumlah toko souvernir, dan luas toko souvernir. Maka, 11 atribut yang bernilai GAP negatif tersebut perlu diperbaiki kinerjanya, karena atribut yang bernilai GAP negatif memiliki kinerja yang buruk.