// <![CDATA[PENILAIAN RISIKO ERGONOMI DENGAN METODE BRIEF, NBMQ, DAN REBA PADA PEGAWAI DAILY CHECK DAN MONTHLY CHECK DI DEPO LOKOMOTIF BANDUNG PT X]]> Prof. dr. Juli Soemirat,M.P.H, Ph.D. Dosen Pembimbing 1 Dr.Eng. Didin Agustian Permadi, M.Eng. Dosen Pembimbing 2 Destiria Annisa/252015118 Penulis
Ergonomi merupakan ilmu untuk merancang suatu sistem pekerjaan agar mencapai tujuan yang diinginkan secara efektif, aman dan tidak berpotensi menimbulkan gangguan musculoskeletal disorders (MSDs). MSDs merupakan cedera dan kelainan jaringan lunak (otot, tendon, ligamen, sendi, dan tulang rawan), dan sistem saraf. MSDs sangat merugikan karena untuk skala dunia, merupakan penyakit yang memerlukan kompensasi terbesar dibanding penyakit akibat kerja lain. Penelitian lalu di beberapa industri mendapatkan pekerja dengan postur canggung sebanyak 30-50%. Target 8.8.SDG/Sustainable Development Goals, yang harus tercapai pada tahun 2030, menyebutkan harus melindungi hak pekerja dan meningkatkan keamanan lingkungan kerja untuk semua pekerja, terutama pekerja migran wanita. Penelitian ini menilai risiko ergonomi pekerja dengan postur canggung di Depo Lokmotif Bandung dengan menggunakan metoda Baseline Risk Identification of Ergonomic Factor/BRIEF, Nordic Body Map Quistionnaire/NBMQ, dan Rapid Entire Body Assessment /REBA yaitu penilaian untuk seluruh bagian tubuh yakni leher, punggung, lengan, pergelangan tangan, dan kaki pekerja. Postur canggung yang didapat bisa dikelompokkan menjadi 3 (tiga) yakni, berdiri canggung, membungkuk, dan berjongkok. Dari 78 pekerja, 56% bekerja dengan postur canggung tersebut. Analisis BRIEF menghasilkan skor 3 tergolong risiko tinggi untuk aktivitas pekerjaan pengecekan rangka bawah dan rangka mesin dalam. Analisis REBA menghasilkan skor risiko 10 untuk postur berdiri canggung, 9 untuk membungkuk, 11 untuk jongkok. Validasi NBMQ bahwa BRIEF selaras dengan keluhan rasa sakit pekerja, sedangkan REBA tidak selaras dengan keluhan rasa sakit pekerja. Semua skor menunjukkan risiko ergonomi taraf tinggi, sehingga memerlukan pengendalian lingkungan kerja secepatnya, a.l., manajemen waktu kerja, peralatan, dan sarana kerja yang memperbaiki postur canggung pekerja, agar bisa mengeliminasi potensi terjadinya cacat yang parah akibat penyakit MSDs.