// <![CDATA[KAMPANYE GERAKAN KRITIS TERHADAP TELEFIKSI (MELEK)]]> RANDI DESTRIADI / 33.2005.068 Penulis Hendro Prayitno, S.Sn. Dosen Pembimbing 1 Agus R Mulyana, M.Ds. Dosen Pembimbing 2
Televisi telah menjadi anugerah dan masalah bagi masyarakat. Jangkauannya yang luas sebagai media massa sekaligus sarana hiburan yang “murah” ternyata menimbulkan dampak negatif yang cukup pelik di tengah masyarakat. Hal ini terlihat dari caranya yang secara implisit mengubah perilaku dan pola pikir pemirsanya, khususnya melalui tayangan-tayangan fiksi dan melodrama. Sadar ataupun tidak, ketika jutaan mata masyarakat menatap tayangan-tayangan tersebut, emosi mereka meninggi, pola pikir nya mendangkal, imajinasi nya melumpuh, dan lain sebagainya. Mendefinisikan masyarakat dan imbas dari tayangan melodrama atau fiksi dangkal televisi maka akan terbagi dua kategori, yaitu masyarakat yang kritis dan tidak kritis. Kritis disini adalah kelompok masyarakat yang bisa memfiltrasi konten tayangan pada dirinya sendiri, kelompok ini memiliki kemampuan media literasi*. Sedangkan kelompok masyarakat yang tidak kritis adalah kebalikannya, yaitu yang cenderung “percaya” terhadap sugesti imaji yang ditayangkan melodrama dan tayangan fiksi dangkal. Ironisnya, antar dua kelompok masyarakat ini seolah memiliki jurang pola pikir. Kelompok kritis akan dengan sendirinya membuat benteng terhadap konten tayangan yang menurutnya “murahan” sedangkan kelompok tidak kritis akan semakin terlena terhadap dunia yang dibentuk oleh melodrama televisi tersebut. Apa yang menjadi bahaya ? Tayangan-tayangan semacam itu semakin mendominasi dengan rating yang tinggi di stasiun-stasiun televisi, dan hal ini menjadi ironis dengan sikap masyarakat terhadap televisi itu sendiri , yang memperlakukannya seakan-akan sudah menjadi bagian dari “keluarga”, anggota yang senantiasa hadir di waktu berkumpul. Padahal, ketika tayangan-tayangan tersebut hadir ke jutaan ruang keluarga, pelan-pelan potret kehidupan nyata semakin kehilangan pijakan. Dari paparan diatas bisa disimpulkan ada dua permasalahan yang timbul, yaitu masalah ancaman kontennya dan masalah perlakuan masyarakat terhadap “alat”nya. Solusi konkrit ? Bertolak dari permasalahan yang pelik tersebut, tak heran jika sewajarnya masyarakat harus waspada dan sadar terhadap bahaya dan akibat dari tayangan televisi. Maka, diperlukan sebuah solusi yang konkrit dengan kecermatan dalam menyusun strategi untuk memecahkan masalah sosial ini, oleh sebab itu, dirancanglah “Kampanye Gerakan Kritis Terhadap Telefiksi”, (kata telefiksi dipilih untuk mengerucutkan televisi dan konten fiksinya) Kampanye ini merupakan kampanye gerakan dengan alur target two steps flow communication yang menyasar opinion leader (yaitu target dengan kondisi kritis dan memiliki pengaruh terhadap korban, yaitu kelompok pemirsa yang tidak kritis) Tahapan kampanye terbagi dalam tiga fase yaitu get realize (menyadari), get criticized (mengupas), dan get involve (terlibat). Melalui kampanye gerakan ini diharapkan akan terbentuk kesadaran kolektif di masyarakat terhadap masalah televisi yang kemudian dapat teraplikasikan ke dalam aksi dan perilaku keseharian sehingga lebih cermat dalam memilih dan memfiltrasi konten tayangan televisi atau bahkan mematikannya.