// <![CDATA[Perancangan Buku Pop-Up Cerita Rakyat Sidang Belawan Dari Lampung Untuk Anak-Anak]]> Aris Kurniawan, M.Sn. Dosen Pembimbing 1 0426097405 - Sri Retnoningsih, S.Sn., M.Ds. Dosen Pembimbing 2 Nadya Chrisanti Saragih /332015091 Penulis
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki budaya lokal terkaya di dunia. Realita kehidupan modern saat ini, kebudayaan asli nusantara secara perlahan mengalami pergeseran nilai, akibat masuknya arus globalisasi yang membuka peluang negara tanpa batas. Sementara disisi lain, kemandirian sebuah bangsa tidak dapat terlepas dari kemampuannya mempertahankan nilai-nilai luhur dan budaya bangsanya. Oleh sebab itu maka eksistensi nilai kearifan budaya lokal nusantara sebagai bagian terintegrasi dari kebudayaan nasional sangat diperlukan. Nilai luhur budaya yang dimiliki oleh masyarakat adat sudah menunjukan gejala hampir punah akibat dari kurangnya pelestarian dari berbagai pihak, salah satu contoh tradisi lokal dari wilayah Lampung adalah cerita rakyat Sidang Belawan, yang hampir tidak dikenal lagi. Salah satu strategi pelestarian tradisi budaya lokal yaitu mengangkat folklore seperti cerita rakyat seperti Sidang Belawan yang berasal dari Lampung (Hasyim, 2017). Cerita rakyat ini mengajarkan anak-anak untuk tidak berbohong, bertanggung jawab, religius serta tidak mudah menyerah dan berani (Novianti, 2015). Anak-anak sudah mulai mengenal teknologi sejak dini. Cerita rakyat dapat di akses lebih mudah namun hal ini justru menyebabkan anak jauh dari buku cetak yang nyata dan lebih mengenal layar sentuh gawai. Menyebabkan anak jaman sekarang yang lebih tertarik dengan video dan permainan online daripada membaca buku. Hal ini karena Agar dapat lebih menarik minat baca anak, sebuah buku haruslah interaktif dan menarik. Buku Pop-Up adalah media interaktif berupa buku yang dapat dimainkan dan menambahkan informasi secara 3D. Buku pop-up sendiri lebih efektif sebanyak 26,875% sebagai media pengajaran daripada buku biasa (Dewanti, J E Toenlioe and Soepriyanto, 2018). Selain interaktif dan kreatif, buku pop-up juga dapat membantu anak memiliki waktu bersama orang tua dan teman sebayanya. Meskipun anak dengan mudah menyerap pelajaran, membuat anak diam dan mendengarkan dengan baik masihlah dirasa sulit karena anak masih sangat aktif dan senang beraktifitas. Menurut penelitian Devi Djijar (2015) anak akan lebih mudah belajar membaca dengan media buku pop-up karena buku pop-up menarik dan menyenangkan sehingga anak tertarik untuk belajar dan diam mendengarkan. Karena itu buku pop-up diharapkan menjadi alternatif yang cocok sebagai sarana pengenalan Sidang Belawan yang menyenangkan. Metode pengumpulan data sendiri akan dilakukan dengan Mix Method dengan mencari data kuantitatif, yaitu mengumpulkan data numerik dan deskriptif berupa gambar, kata-kata maupun hasil statistik, maupun kualitatif berupa hasil wawancara, observasi, kuesioner, dan study literature. Pendekatannya sendiri menggunakan consumer journey dan observasi agar bisa mendapat insight lebih dalam. (Hanington and Martin, 2012)