<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="13442">
<titleInfo>
<title><![CDATA[STUDI PERILAKU FISIKA MODULUS KEHALUSAN AGREGAT DALAM CAMPURAN BETON]]></title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Priyanto Saelan, Ir., M.T.</namePart>
<role><roleTerm type="text">Dosen Pembimbing 1</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>REZALDY WAHYU DARMAWAN /222017106</namePart>
<role><roleTerm type="text">Penulis</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Teknik Sipil]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[FTSP]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2022]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[0]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[en]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[English]]></languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Text]]></form>
<extent><![CDATA[]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Modulus kehalusan agregat berperan dalam membentuk workability campuran beton segar. Pada perancangan campuran beton cara SNI 03-2834-2000, parameter modulus kehalusan agregat gabungan tidak diikutsertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air yang diperlukan untuk mencapai nilai slump yang direncanakan. Karena modulus kehalusan agregat menentukan workability beton segar maka sesungguhnya modulus kehalusan ini juga berpengaruh dalam menentukan kebutuhan air tersebut. Mengingat SNI tidak menyertakan parameter ini, maka dilakukan penelitian lanjut untuk mengetahui fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan agregat dalam campuran beton sehingga dapat diketahui penyebab tidak diikutsertakannya dalam penentuan kebutuhan jumlah air. Berdasarkan analisis formulasi modulus kehalusan, hasilnya menunjukkan bahwa fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan adalah fenomena rangkaian seri pegas yang berperan dalam membentuk kekakuan campuran beton segar. Penelitian berdasarkan data sekunder ini membuktikan bahwa sesungguhnya parameter modulus kehalusan agregat gabungan telah disertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air, namun dipersyaratkan di dalam persyaratan batas gradasi agregat gabungan dalam bentuk rentang nilai modulus kehalusan yang dengan sendirinya menghasilkan nilai slump dalam bentuk rentang tanpa menyebutkan parameter modulus kehalusan agregat gabungan.Modulus kehalusan agregat berperan dalam membentuk workability campuran beton segar. Pada perancangan campuran beton cara SNI 03-2834-2000, parameter modulus kehalusan agregat gabungan tidak diikutsertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air yang diperlukan untuk mencapai nilai slump yang direncanakan. Karena modulus kehalusan agregat menentukan workability beton segar maka sesungguhnya modulus kehalusan ini juga berpengaruh dalam menentukan kebutuhan air tersebut. Mengingat SNI tidak menyertakan parameter ini, maka dilakukan penelitian lanjut untuk mengetahui fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan agregat dalam campuran beton sehingga dapat diketahui penyebab tidak diikutsertakannya dalam penentuan kebutuhan jumlah air. Berdasarkan analisis formulasi modulus kehalusan, hasilnya menunjukkan bahwa fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan adalah fenomena rangkaian seri pegas yang berperan dalam membentuk kekakuan campuran beton segar. Penelitian berdasarkan data sekunder ini membuktikan bahwa sesungguhnya parameter modulus kehalusan agregat gabungan telah disertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air, namun dipersyaratkan di dalam persyaratan batas gradasi agregat gabungan dalam bentuk rentang nilai modulus kehalusan yang dengan sendirinya menghasilkan nilai slump dalam bentuk rentang tanpa menyebutkan parameter modulus kehalusan agregat gabungan.Modulus kehalusan agregat berperan dalam membentuk workability campuran beton segar. Pada perancangan campuran beton cara SNI 03-2834-2000, parameter modulus kehalusan agregat gabungan tidak diikutsertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air yang diperlukan untuk mencapai nilai slump yang direncanakan. Karena modulus kehalusan agregat menentukan workability beton segar maka sesungguhnya modulus kehalusan ini juga berpengaruh dalam menentukan kebutuhan air tersebut. Mengingat SNI tidak menyertakan parameter ini, maka dilakukan penelitian lanjut untuk mengetahui fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan agregat dalam campuran beton sehingga dapat diketahui penyebab tidak diikutsertakannya dalam penentuan kebutuhan jumlah air. Berdasarkan analisis formulasi modulus kehalusan, hasilnya menunjukkan bahwa fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan adalah fenomena rangkaian seri pegas yang berperan dalam membentuk kekakuan campuran beton segar. Penelitian berdasarkan data sekunder ini membuktikan bahwa sesungguhnya parameter modulus kehalusan agregat gabungan telah disertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air, namun dipersyaratkan di dalam persyaratan batas gradasi agregat gabungan dalam bentuk rentang nilai modulus kehalusan yang dengan sendirinya menghasilkan nilai slump dalam bentuk rentang tanpa menyebutkan parameter modulus kehalusan agregat gabungan.Modulus kehalusan agregat berperan dalam membentuk workability campuran beton segar. Pada perancangan campuran beton cara SNI 03-2834-2000, parameter modulus kehalusan agregat gabungan tidak diikutsertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air yang diperlukan untuk mencapai nilai slump yang direncanakan. Karena modulus kehalusan agregat menentukan workability beton segar maka sesungguhnya modulus kehalusan ini juga berpengaruh dalam menentukan kebutuhan air tersebut. Mengingat SNI tidak menyertakan parameter ini, maka dilakukan penelitian lanjut untuk mengetahui fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan agregat dalam campuran beton sehingga dapat diketahui penyebab tidak diikutsertakannya dalam penentuan kebutuhan jumlah air. Berdasarkan analisis formulasi modulus kehalusan, hasilnya menunjukkan bahwa fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan adalah fenomena rangkaian seri pegas yang berperan dalam membentuk kekakuan campuran beton segar. Penelitian berdasarkan data sekunder ini membuktikan bahwa sesungguhnya parameter modulus kehalusan agregat gabungan telah disertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air, namun dipersyaratkan di dalam persyaratan batas gradasi agregat gabungan dalam bentuk rentang nilai modulus kehalusan yang dengan sendirinya menghasilkan nilai slump dalam bentuk rentang tanpa menyebutkan parameter modulus kehalusan agregat gabungan.Modulus kehalusan agregat berperan dalam membentuk workability campuran beton segar. Pada perancangan campuran beton cara SNI 03-2834-2000, parameter modulus kehalusan agregat gabungan tidak diikutsertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air yang diperlukan untuk mencapai nilai slump yang direncanakan. Karena modulus kehalusan agregat menentukan workability beton segar maka sesungguhnya modulus kehalusan ini juga berpengaruh dalam menentukan kebutuhan air tersebut. Mengingat SNI tidak menyertakan parameter ini, maka dilakukan penelitian lanjut untuk mengetahui fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan agregat dalam campuran beton sehingga dapat diketahui penyebab tidak diikutsertakannya dalam penentuan kebutuhan jumlah air. Berdasarkan analisis formulasi modulus kehalusan, hasilnya menunjukkan bahwa fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan adalah fenomena rangkaian seri pegas yang berperan dalam membentuk kekakuan campuran beton segar. Penelitian berdasarkan data sekunder ini membuktikan bahwa sesungguhnya parameter modulus kehalusan agregat gabungan telah disertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air, namun dipersyaratkan di dalam persyaratan batas gradasi agregat gabungan dalam bentuk rentang nilai modulus kehalusan yang dengan sendirinya menghasilkan nilai slump dalam bentuk rentang tanpa menyebutkan parameter modulus kehalusan agregat gabungan.Modulus kehalusan agregat berperan dalam membentuk workability campuran beton segar. Pada perancangan campuran beton cara SNI 03-2834-2000, parameter modulus kehalusan agregat gabungan tidak diikutsertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air yang diperlukan untuk mencapai nilai slump yang direncanakan. Karena modulus kehalusan agregat menentukan workability beton segar maka sesungguhnya modulus kehalusan ini juga berpengaruh dalam menentukan kebutuhan air tersebut. Mengingat SNI tidak menyertakan parameter ini, maka dilakukan penelitian lanjut untuk mengetahui fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan agregat dalam campuran beton sehingga dapat diketahui penyebab tidak diikutsertakannya dalam penentuan kebutuhan jumlah air. Berdasarkan analisis formulasi modulus kehalusan, hasilnya menunjukkan bahwa fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan adalah fenomena rangkaian seri pegas yang berperan dalam membentuk kekakuan campuran beton segar. Penelitian berdasarkan data sekunder ini membuktikan bahwa sesungguhnya parameter modulus kehalusan agregat gabungan telah disertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air, namun dipersyaratkan di dalam persyaratan batas gradasi agregat gabungan dalam bentuk rentang nilai modulus kehalusan yang dengan sendirinya menghasilkan nilai slump dalam bentuk rentang tanpa menyebutkan parameter modulus kehalusan agregat gabungan.Modulus kehalusan agregat berperan dalam membentuk workability campuran beton segar. Pada perancangan campuran beton cara SNI 03-2834-2000, parameter modulus kehalusan agregat gabungan tidak diikutsertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air yang diperlukan untuk mencapai nilai slump yang direncanakan. Karena modulus kehalusan agregat menentukan workability beton segar maka sesungguhnya modulus kehalusan ini juga berpengaruh dalam menentukan kebutuhan air tersebut. Mengingat SNI tidak menyertakan parameter ini, maka dilakukan penelitian lanjut untuk mengetahui fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan agregat dalam campuran beton sehingga dapat diketahui penyebab tidak diikutsertakannya dalam penentuan kebutuhan jumlah air. Berdasarkan analisis formulasi modulus kehalusan, hasilnya menunjukkan bahwa fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan adalah fenomena rangkaian seri pegas yang berperan dalam membentuk kekakuan campuran beton segar. Penelitian berdasarkan data sekunder ini membuktikan bahwa sesungguhnya parameter modulus kehalusan agregat gabungan telah disertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air, namun dipersyaratkan di dalam persyaratan batas gradasi agregat gabungan dalam bentuk rentang nilai modulus kehalusan yang dengan sendirinya menghasilkan nilai slump dalam bentuk rentang tanpa menyebutkan parameter modulus kehalusan agregat gabungan.Modulus kehalusan agregat berperan dalam membentuk workability campuran beton segar. Pada perancangan campuran beton cara SNI 03-2834-2000, parameter modulus kehalusan agregat gabungan tidak diikutsertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air yang diperlukan untuk mencapai nilai slump yang direncanakan. Karena modulus kehalusan agregat menentukan workability beton segar maka sesungguhnya modulus kehalusan ini juga berpengaruh dalam menentukan kebutuhan air tersebut. Mengingat SNI tidak menyertakan parameter ini, maka dilakukan penelitian lanjut untuk mengetahui fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan agregat dalam campuran beton sehingga dapat diketahui penyebab tidak diikutsertakannya dalam penentuan kebutuhan jumlah air. Berdasarkan analisis formulasi modulus kehalusan, hasilnya menunjukkan bahwa fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan adalah fenomena rangkaian seri pegas yang berperan dalam membentuk kekakuan campuran beton segar. Penelitian berdasarkan data sekunder ini membuktikan bahwa sesungguhnya parameter modulus kehalusan agregat gabungan telah disertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air, namun dipersyaratkan di dalam persyaratan batas gradasi agregat gabungan dalam bentuk rentang nilai modulus kehalusan yang dengan sendirinya menghasilkan nilai slump dalam bentuk rentang tanpa menyebutkan parameter modulus kehalusan agregat gabungan.Modulus kehalusan agregat berperan dalam membentuk workability campuran beton segar. Pada perancangan campuran beton cara SNI 03-2834-2000, parameter modulus kehalusan agregat gabungan tidak diikutsertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air yang diperlukan untuk mencapai nilai slump yang direncanakan. Karena modulus kehalusan agregat menentukan workability beton segar maka sesungguhnya modulus kehalusan ini juga berpengaruh dalam menentukan kebutuhan air tersebut. Mengingat SNI tidak menyertakan parameter ini, maka dilakukan penelitian lanjut untuk mengetahui fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan agregat dalam campuran beton sehingga dapat diketahui penyebab tidak diikutsertakannya dalam penentuan kebutuhan jumlah air. Berdasarkan analisis formulasi modulus kehalusan, hasilnya menunjukkan bahwa fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan adalah fenomena rangkaian seri pegas yang berperan dalam membentuk kekakuan campuran beton segar. Penelitian berdasarkan data sekunder ini membuktikan bahwa sesungguhnya parameter modulus kehalusan agregat gabungan telah disertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air, namun dipersyaratkan di dalam persyaratan batas gradasi agregat gabungan dalam bentuk rentang nilai modulus kehalusan yang dengan sendirinya menghasilkan nilai slump dalam bentuk rentang tanpa menyebutkan parameter modulus kehalusan agregat gabungan.Modulus kehalusan agregat berperan dalam membentuk workability campuran beton segar. Pada perancangan campuran beton cara SNI 03-2834-2000, parameter modulus kehalusan agregat gabungan tidak diikutsertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air yang diperlukan untuk mencapai nilai slump yang direncanakan. Karena modulus kehalusan agregat menentukan workability beton segar maka sesungguhnya modulus kehalusan ini juga berpengaruh dalam menentukan kebutuhan air tersebut. Mengingat SNI tidak menyertakan parameter ini, maka dilakukan penelitian lanjut untuk mengetahui fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan agregat dalam campuran beton sehingga dapat diketahui penyebab tidak diikutsertakannya dalam penentuan kebutuhan jumlah air. Berdasarkan analisis formulasi modulus kehalusan, hasilnya menunjukkan bahwa fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan adalah fenomena rangkaian seri pegas yang berperan dalam membentuk kekakuan campuran beton segar. Penelitian berdasarkan data sekunder ini membuktikan bahwa sesungguhnya parameter modulus kehalusan agregat gabungan telah disertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air, namun dipersyaratkan di dalam persyaratan batas gradasi agregat gabungan dalam bentuk rentang nilai modulus kehalusan yang dengan sendirinya menghasilkan nilai slump dalam bentuk rentang tanpa menyebutkan parameter modulus kehalusan agregat gabungan.Modulus kehalusan agregat berperan dalam membentuk workability campuran beton segar. Pada perancangan campuran beton cara SNI 03-2834-2000, parameter modulus kehalusan agregat gabungan tidak diikutsertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air yang diperlukan untuk mencapai nilai slump yang direncanakan. Karena modulus kehalusan agregat menentukan workability beton segar maka sesungguhnya modulus kehalusan ini juga berpengaruh dalam menentukan kebutuhan air tersebut. Mengingat SNI tidak menyertakan parameter ini, maka dilakukan penelitian lanjut untuk mengetahui fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan agregat dalam campuran beton sehingga dapat diketahui penyebab tidak diikutsertakannya dalam penentuan kebutuhan jumlah air. Berdasarkan analisis formulasi modulus kehalusan, hasilnya menunjukkan bahwa fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan adalah fenomena rangkaian seri pegas yang berperan dalam membentuk kekakuan campuran beton segar. Penelitian berdasarkan data sekunder ini membuktikan bahwa sesungguhnya parameter modulus kehalusan agregat gabungan telah disertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air, namun dipersyaratkan di dalam persyaratan batas gradasi agregat gabungan dalam bentuk rentang nilai modulus kehalusan yang dengan sendirinya menghasilkan nilai slump dalam bentuk rentang tanpa menyebutkan parameter modulus kehalusan agregat gabungan.Modulus kehalusan agregat berperan dalam membentuk workability campuran beton segar. Pada perancangan campuran beton cara SNI 03-2834-2000, parameter modulus kehalusan agregat gabungan tidak diikutsertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air yang diperlukan untuk mencapai nilai slump yang direncanakan. Karena modulus kehalusan agregat menentukan workability beton segar maka sesungguhnya modulus kehalusan ini juga berpengaruh dalam menentukan kebutuhan air tersebut. Mengingat SNI tidak menyertakan parameter ini, maka dilakukan penelitian lanjut untuk mengetahui fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan agregat dalam campuran beton sehingga dapat diketahui penyebab tidak diikutsertakannya dalam penentuan kebutuhan jumlah air. Berdasarkan analisis formulasi modulus kehalusan, hasilnya menunjukkan bahwa fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan adalah fenomena rangkaian seri pegas yang berperan dalam membentuk kekakuan campuran beton segar. Penelitian berdasarkan data sekunder ini membuktikan bahwa sesungguhnya parameter modulus kehalusan agregat gabungan telah disertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air, namun dipersyaratkan di dalam persyaratan batas gradasi agregat gabungan dalam bentuk rentang nilai modulus kehalusan yang dengan sendirinya menghasilkan nilai slump dalam bentuk rentang tanpa menyebutkan parameter modulus kehalusan agregat gabungan.Modulus kehalusan agregat berperan dalam membentuk workability campuran beton segar. Pada perancangan campuran beton cara SNI 03-2834-2000, parameter modulus kehalusan agregat gabungan tidak diikutsertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air yang diperlukan untuk mencapai nilai slump yang direncanakan. Karena modulus kehalusan agregat menentukan workability beton segar maka sesungguhnya modulus kehalusan ini juga berpengaruh dalam menentukan kebutuhan air tersebut. Mengingat SNI tidak menyertakan parameter ini, maka dilakukan penelitian lanjut untuk mengetahui fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan agregat dalam campuran beton sehingga dapat diketahui penyebab tidak diikutsertakannya dalam penentuan kebutuhan jumlah air. Berdasarkan analisis formulasi modulus kehalusan, hasilnya menunjukkan bahwa fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan adalah fenomena rangkaian seri pegas yang berperan dalam membentuk kekakuan campuran beton segar. Penelitian berdasarkan data sekunder ini membuktikan bahwa sesungguhnya parameter modulus kehalusan agregat gabungan telah disertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air, namun dipersyaratkan di dalam persyaratan batas gradasi agregat gabungan dalam bentuk rentang nilai modulus kehalusan yang dengan sendirinya menghasilkan nilai slump dalam bentuk rentang tanpa menyebutkan parameter modulus kehalusan agregat gabungan.Modulus kehalusan agregat berperan dalam membentuk workability campuran beton segar. Pada perancangan campuran beton cara SNI 03-2834-2000, parameter modulus kehalusan agregat gabungan tidak diikutsertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air yang diperlukan untuk mencapai nilai slump yang direncanakan. Karena modulus kehalusan agregat menentukan workability beton segar maka sesungguhnya modulus kehalusan ini juga berpengaruh dalam menentukan kebutuhan air tersebut. Mengingat SNI tidak menyertakan parameter ini, maka dilakukan penelitian lanjut untuk mengetahui fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan agregat dalam campuran beton sehingga dapat diketahui penyebab tidak diikutsertakannya dalam penentuan kebutuhan jumlah air. Berdasarkan analisis formulasi modulus kehalusan, hasilnya menunjukkan bahwa fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan adalah fenomena rangkaian seri pegas yang berperan dalam membentuk kekakuan campuran beton segar. Penelitian berdasarkan data sekunder ini membuktikan bahwa sesungguhnya parameter modulus kehalusan agregat gabungan telah disertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air, namun dipersyaratkan di dalam persyaratan batas gradasi agregat gabungan dalam bentuk rentang nilai modulus kehalusan yang dengan sendirinya menghasilkan nilai slump dalam bentuk rentang tanpa menyebutkan parameter modulus kehalusan agregat gabungan.Modulus kehalusan agregat berperan dalam membentuk workability campuran beton segar. Pada perancangan campuran beton cara SNI 03-2834-2000, parameter modulus kehalusan agregat gabungan tidak diikutsertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air yang diperlukan untuk mencapai nilai slump yang direncanakan. Karena modulus kehalusan agregat menentukan workability beton segar maka sesungguhnya modulus kehalusan ini juga berpengaruh dalam menentukan kebutuhan air tersebut. Mengingat SNI tidak menyertakan parameter ini, maka dilakukan penelitian lanjut untuk mengetahui fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan agregat dalam campuran beton sehingga dapat diketahui penyebab tidak diikutsertakannya dalam penentuan kebutuhan jumlah air. Berdasarkan analisis formulasi modulus kehalusan, hasilnya menunjukkan bahwa fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan adalah fenomena rangkaian seri pegas yang berperan dalam membentuk kekakuan campuran beton segar. Penelitian berdasarkan data sekunder ini membuktikan bahwa sesungguhnya parameter modulus kehalusan agregat gabungan telah disertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air, namun dipersyaratkan di dalam persyaratan batas gradasi agregat gabungan dalam bentuk rentang nilai modulus kehalusan yang dengan sendirinya menghasilkan nilai slump dalam bentuk rentang tanpa menyebutkan parameter modulus kehalusan agregat gabungan.Modulus kehalusan agregat berperan dalam membentuk workability campuran beton segar. Pada perancangan campuran beton cara SNI 03-2834-2000, parameter modulus kehalusan agregat gabungan tidak diikutsertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air yang diperlukan untuk mencapai nilai slump yang direncanakan. Karena modulus kehalusan agregat menentukan workability beton segar maka sesungguhnya modulus kehalusan ini juga berpengaruh dalam menentukan kebutuhan air tersebut. Mengingat SNI tidak menyertakan parameter ini, maka dilakukan penelitian lanjut untuk mengetahui fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan agregat dalam campuran beton sehingga dapat diketahui penyebab tidak diikutsertakannya dalam penentuan kebutuhan jumlah air. Berdasarkan analisis formulasi modulus kehalusan, hasilnya menunjukkan bahwa fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan adalah fenomena rangkaian seri pegas yang berperan dalam membentuk kekakuan campuran beton segar. Penelitian berdasarkan data sekunder ini membuktikan bahwa sesungguhnya parameter modulus kehalusan agregat gabungan telah disertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air, namun dipersyaratkan di dalam persyaratan batas gradasi agregat gabungan dalam bentuk rentang nilai modulus kehalusan yang dengan sendirinya menghasilkan nilai slump dalam bentuk rentang tanpa menyebutkan parameter modulus kehalusan agregat gabungan.Modulus kehalusan agregat berperan dalam membentuk workability campuran beton segar. Pada perancangan campuran beton cara SNI 03-2834-2000, parameter modulus kehalusan agregat gabungan tidak diikutsertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air yang diperlukan untuk mencapai nilai slump yang direncanakan. Karena modulus kehalusan agregat menentukan workability beton segar maka sesungguhnya modulus kehalusan ini juga berpengaruh dalam menentukan kebutuhan air tersebut. Mengingat SNI tidak menyertakan parameter ini, maka dilakukan penelitian lanjut untuk mengetahui fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan agregat dalam campuran beton sehingga dapat diketahui penyebab tidak diikutsertakannya dalam penentuan kebutuhan jumlah air. Berdasarkan analisis formulasi modulus kehalusan, hasilnya menunjukkan bahwa fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan adalah fenomena rangkaian seri pegas yang berperan dalam membentuk kekakuan campuran beton segar. Penelitian berdasarkan data sekunder ini membuktikan bahwa sesungguhnya parameter modulus kehalusan agregat gabungan telah disertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air, namun dipersyaratkan di dalam persyaratan batas gradasi agregat gabungan dalam bentuk rentang nilai modulus kehalusan yang dengan sendirinya menghasilkan nilai slump dalam bentuk rentang tanpa menyebutkan parameter modulus kehalusan agregat gabungan.Modulus kehalusan agregat berperan dalam membentuk workability campuran beton segar. Pada perancangan campuran beton cara SNI 03-2834-2000, parameter modulus kehalusan agregat gabungan tidak diikutsertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air yang diperlukan untuk mencapai nilai slump yang direncanakan. Karena modulus kehalusan agregat menentukan workability beton segar maka sesungguhnya modulus kehalusan ini juga berpengaruh dalam menentukan kebutuhan air tersebut. Mengingat SNI tidak menyertakan parameter ini, maka dilakukan penelitian lanjut untuk mengetahui fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan agregat dalam campuran beton sehingga dapat diketahui penyebab tidak diikutsertakannya dalam penentuan kebutuhan jumlah air. Berdasarkan analisis formulasi modulus kehalusan, hasilnya menunjukkan bahwa fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan adalah fenomena rangkaian seri pegas yang berperan dalam membentuk kekakuan campuran beton segar. Penelitian berdasarkan data sekunder ini membuktikan bahwa sesungguhnya parameter modulus kehalusan agregat gabungan telah disertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air, namun dipersyaratkan di dalam persyaratan batas gradasi agregat gabungan dalam bentuk rentang nilai modulus kehalusan yang dengan sendirinya menghasilkan nilai slump dalam bentuk rentang tanpa menyebutkan parameter modulus kehalusan agregat gabungan.Modulus kehalusan agregat berperan dalam membentuk workability campuran beton segar. Pada perancangan campuran beton cara SNI 03-2834-2000, parameter modulus kehalusan agregat gabungan tidak diikutsertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air yang diperlukan untuk mencapai nilai slump yang direncanakan. Karena modulus kehalusan agregat menentukan workability beton segar maka sesungguhnya modulus kehalusan ini juga berpengaruh dalam menentukan kebutuhan air tersebut. Mengingat SNI tidak menyertakan parameter ini, maka dilakukan penelitian lanjut untuk mengetahui fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan agregat dalam campuran beton sehingga dapat diketahui penyebab tidak diikutsertakannya dalam penentuan kebutuhan jumlah air. Berdasarkan analisis formulasi modulus kehalusan, hasilnya menunjukkan bahwa fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan adalah fenomena rangkaian seri pegas yang berperan dalam membentuk kekakuan campuran beton segar. Penelitian berdasarkan data sekunder ini membuktikan bahwa sesungguhnya parameter modulus kehalusan agregat gabungan telah disertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air, namun dipersyaratkan di dalam persyaratan batas gradasi agregat gabungan dalam bentuk rentang nilai modulus kehalusan yang dengan sendirinya menghasilkan nilai slump dalam bentuk rentang tanpa menyebutkan parameter modulus kehalusan agregat gabungan.Modulus kehalusan agregat berperan dalam membentuk workability campuran beton segar. Pada perancangan campuran beton cara SNI 03-2834-2000, parameter modulus kehalusan agregat gabungan tidak diikutsertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air yang diperlukan untuk mencapai nilai slump yang direncanakan. Karena modulus kehalusan agregat menentukan workability beton segar maka sesungguhnya modulus kehalusan ini juga berpengaruh dalam menentukan kebutuhan air tersebut. Mengingat SNI tidak menyertakan parameter ini, maka dilakukan penelitian lanjut untuk mengetahui fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan agregat dalam campuran beton sehingga dapat diketahui penyebab tidak diikutsertakannya dalam penentuan kebutuhan jumlah air. Berdasarkan analisis formulasi modulus kehalusan, hasilnya menunjukkan bahwa fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan adalah fenomena rangkaian seri pegas yang berperan dalam membentuk kekakuan campuran beton segar. Penelitian berdasarkan data sekunder ini membuktikan bahwa sesungguhnya parameter modulus kehalusan agregat gabungan telah disertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air, namun dipersyaratkan di dalam persyaratan batas gradasi agregat gabungan dalam bentuk rentang nilai modulus kehalusan yang dengan sendirinya menghasilkan nilai slump dalam bentuk rentang tanpa menyebutkan parameter modulus kehalusan agregat gabungan.Modulus kehalusan agregat berperan dalam membentuk workability campuran beton segar. Pada perancangan campuran beton cara SNI 03-2834-2000, parameter modulus kehalusan agregat gabungan tidak diikutsertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air yang diperlukan untuk mencapai nilai slump yang direncanakan. Karena modulus kehalusan agregat menentukan workability beton segar maka sesungguhnya modulus kehalusan ini juga berpengaruh dalam menentukan kebutuhan air tersebut. Mengingat SNI tidak menyertakan parameter ini, maka dilakukan penelitian lanjut untuk mengetahui fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan agregat dalam campuran beton sehingga dapat diketahui penyebab tidak diikutsertakannya dalam penentuan kebutuhan jumlah air. Berdasarkan analisis formulasi modulus kehalusan, hasilnya menunjukkan bahwa fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan adalah fenomena rangkaian seri pegas yang berperan dalam membentuk kekakuan campuran beton segar. Penelitian berdasarkan data sekunder ini membuktikan bahwa sesungguhnya parameter modulus kehalusan agregat gabungan telah disertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air, namun dipersyaratkan di dalam persyaratan batas gradasi agregat gabungan dalam bentuk rentang nilai modulus kehalusan yang dengan sendirinya menghasilkan nilai slump dalam bentuk rentang tanpa menyebutkan parameter modulus kehalusan agregat gabungan.Modulus kehalusan agregat berperan dalam membentuk workability campuran beton segar. Pada perancangan campuran beton cara SNI 03-2834-2000, parameter modulus kehalusan agregat gabungan tidak diikutsertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air yang diperlukan untuk mencapai nilai slump yang direncanakan. Karena modulus kehalusan agregat menentukan workability beton segar maka sesungguhnya modulus kehalusan ini juga berpengaruh dalam menentukan kebutuhan air tersebut. Mengingat SNI tidak menyertakan parameter ini, maka dilakukan penelitian lanjut untuk mengetahui fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan agregat dalam campuran beton sehingga dapat diketahui penyebab tidak diikutsertakannya dalam penentuan kebutuhan jumlah air. Berdasarkan analisis formulasi modulus kehalusan, hasilnya menunjukkan bahwa fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan adalah fenomena rangkaian seri pegas yang berperan dalam membentuk kekakuan campuran beton segar. Penelitian berdasarkan data sekunder ini membuktikan bahwa sesungguhnya parameter modulus kehalusan agregat gabungan telah disertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air, namun dipersyaratkan di dalam persyaratan batas gradasi agregat gabungan dalam bentuk rentang nilai modulus kehalusan yang dengan sendirinya menghasilkan nilai slump dalam bentuk rentang tanpa menyebutkan parameter modulus kehalusan agregat gabungan.Modulus kehalusan agregat berperan dalam membentuk workability campuran beton segar. Pada perancangan campuran beton cara SNI 03-2834-2000, parameter modulus kehalusan agregat gabungan tidak diikutsertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air yang diperlukan untuk mencapai nilai slump yang direncanakan. Karena modulus kehalusan agregat menentukan workability beton segar maka sesungguhnya modulus kehalusan ini juga berpengaruh dalam menentukan kebutuhan air tersebut. Mengingat SNI tidak menyertakan parameter ini, maka dilakukan penelitian lanjut untuk mengetahui fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan agregat dalam campuran beton sehingga dapat diketahui penyebab tidak diikutsertakannya dalam penentuan kebutuhan jumlah air. Berdasarkan analisis formulasi modulus kehalusan, hasilnya menunjukkan bahwa fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan adalah fenomena rangkaian seri pegas yang berperan dalam membentuk kekakuan campuran beton segar. Penelitian berdasarkan data sekunder ini membuktikan bahwa sesungguhnya parameter modulus kehalusan agregat gabungan telah disertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air, namun dipersyaratkan di dalam persyaratan batas gradasi agregat gabungan dalam bentuk rentang nilai modulus kehalusan yang dengan sendirinya menghasilkan nilai slump dalam bentuk rentang tanpa menyebutkan parameter modulus kehalusan agregat gabungan.Modulus kehalusan agregat berperan dalam membentuk workability campuran beton segar. Pada perancangan campuran beton cara SNI 03-2834-2000, parameter modulus kehalusan agregat gabungan tidak diikutsertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air yang diperlukan untuk mencapai nilai slump yang direncanakan. Karena modulus kehalusan agregat menentukan workability beton segar maka sesungguhnya modulus kehalusan ini juga berpengaruh dalam menentukan kebutuhan air tersebut. Mengingat SNI tidak menyertakan parameter ini, maka dilakukan penelitian lanjut untuk mengetahui fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan agregat dalam campuran beton sehingga dapat diketahui penyebab tidak diikutsertakannya dalam penentuan kebutuhan jumlah air. Berdasarkan analisis formulasi modulus kehalusan, hasilnya menunjukkan bahwa fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan adalah fenomena rangkaian seri pegas yang berperan dalam membentuk kekakuan campuran beton segar. Penelitian berdasarkan data sekunder ini membuktikan bahwa sesungguhnya parameter modulus kehalusan agregat gabungan telah disertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air, namun dipersyaratkan di dalam persyaratan batas gradasi agregat gabungan dalam bentuk rentang nilai modulus kehalusan yang dengan sendirinya menghasilkan nilai slump dalam bentuk rentang tanpa menyebutkan parameter modulus kehalusan agregat gabungan.Modulus kehalusan agregat berperan dalam membentuk workability campuran beton segar. Pada perancangan campuran beton cara SNI 03-2834-2000, parameter modulus kehalusan agregat gabungan tidak diikutsertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air yang diperlukan untuk mencapai nilai slump yang direncanakan. Karena modulus kehalusan agregat menentukan workability beton segar maka sesungguhnya modulus kehalusan ini juga berpengaruh dalam menentukan kebutuhan air tersebut. Mengingat SNI tidak menyertakan parameter ini, maka dilakukan penelitian lanjut untuk mengetahui fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan agregat dalam campuran beton sehingga dapat diketahui penyebab tidak diikutsertakannya dalam penentuan kebutuhan jumlah air. Berdasarkan analisis formulasi modulus kehalusan, hasilnya menunjukkan bahwa fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan adalah fenomena rangkaian seri pegas yang berperan dalam membentuk kekakuan campuran beton segar. Penelitian berdasarkan data sekunder ini membuktikan bahwa sesungguhnya parameter modulus kehalusan agregat gabungan telah disertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air, namun dipersyaratkan di dalam persyaratan batas gradasi agregat gabungan dalam bentuk rentang nilai modulus kehalusan yang dengan sendirinya menghasilkan nilai slump dalam bentuk rentang tanpa menyebutkan parameter modulus kehalusan agregat gabungan.Modulus kehalusan agregat berperan dalam membentuk workability campuran beton segar. Pada perancangan campuran beton cara SNI 03-2834-2000, parameter modulus kehalusan agregat gabungan tidak diikutsertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air yang diperlukan untuk mencapai nilai slump yang direncanakan. Karena modulus kehalusan agregat menentukan workability beton segar maka sesungguhnya modulus kehalusan ini juga berpengaruh dalam menentukan kebutuhan air tersebut. Mengingat SNI tidak menyertakan parameter ini, maka dilakukan penelitian lanjut untuk mengetahui fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan agregat dalam campuran beton sehingga dapat diketahui penyebab tidak diikutsertakannya dalam penentuan kebutuhan jumlah air. Berdasarkan analisis formulasi modulus kehalusan, hasilnya menunjukkan bahwa fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan adalah fenomena rangkaian seri pegas yang berperan dalam membentuk kekakuan campuran beton segar. Penelitian berdasarkan data sekunder ini membuktikan bahwa sesungguhnya parameter modulus kehalusan agregat gabungan telah disertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air, namun dipersyaratkan di dalam persyaratan batas gradasi agregat gabungan dalam bentuk rentang nilai modulus kehalusan yang dengan sendirinya menghasilkan nilai slump dalam bentuk rentang tanpa menyebutkan parameter modulus kehalusan agregat gabungan.Modulus kehalusan agregat berperan dalam membentuk workability campuran beton segar. Pada perancangan campuran beton cara SNI 03-2834-2000, parameter modulus kehalusan agregat gabungan tidak diikutsertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air yang diperlukan untuk mencapai nilai slump yang direncanakan. Karena modulus kehalusan agregat menentukan workability beton segar maka sesungguhnya modulus kehalusan ini juga berpengaruh dalam menentukan kebutuhan air tersebut. Mengingat SNI tidak menyertakan parameter ini, maka dilakukan penelitian lanjut untuk mengetahui fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan agregat dalam campuran beton sehingga dapat diketahui penyebab tidak diikutsertakannya dalam penentuan kebutuhan jumlah air. Berdasarkan analisis formulasi modulus kehalusan, hasilnya menunjukkan bahwa fenomena fisika yang terjadi pada modulus kehalusan adalah fenomena rangkaian seri pegas yang berperan dalam membentuk kekakuan campuran beton segar. Penelitian berdasarkan data sekunder ini membuktikan bahwa sesungguhnya parameter modulus kehalusan agregat gabungan telah disertakan dalam menentukan kebutuhan jumlah air, namun dipersyaratkan di dalam persyaratan batas gradasi agregat gabungan dalam bentuk rentang nilai modulus kehalusan yang dengan sendirinya menghasilkan nilai slump dalam bentuk rentang tanpa menyebutkan parameter modulus kehalusan agregat gabungan.</note>
<classification><![CDATA[]]></classification><identifier type="isbn"><![CDATA[]]></identifier><location>
<physicalLocation><![CDATA[Setiadi Open Source ETD System]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[2349SI/22]]></shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1"><![CDATA[2349SI/22]]></numerationAndChronology>
<sublocation><![CDATA[My Library]]></sublocation>
<shelfLocator><![CDATA[2349SI/22]]></shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:digitals>
<slims:digital_item id="13185" url="" path="/222017106_2349SI.pdf" mimetype="application/pdf"><![CDATA[STUDI PERILAKU FISIKA MODULUS KEHALUSAN AGREGAT DALAM CAMPURAN BETON]]></slims:digital_item>
</slims:digitals><recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[13442]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2022-06-14 10:28:39]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2022-06-14 10:31:28]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>