// <![CDATA[PENERAPAN METODA BETROC PADA PEMBENTUKAN SEL MANUFAKTUR (Studi kasus PT. PINDAD Bandung)]]> Ir. Susy Susanti, M.T. Dosen Pembimbing 2 0003025502 - Dr. Kusmaningrum Soemadi, Ir., MT Dosen Pembimbing 1 Eli Pranugrah Dwiyanti Sri Kristina/13-1998-105 Penulis
lndustri manufaktur telab mengalami perkembangan yang berarti dalam beberapa tahun terakhir. Persaingan yang semakin meningkat, serta keinginan konsunen yang berubah-ubah memaksa praktisi industri untuk memiliki kemampuan dalam hal tepat waktu dan disertai dengan peningkatan fleksibilitas, produktivitas dan kualitas. Pemilihan dan penggunaan yang efektif dari sumber daya akan meningkatkan produktivitas, tetapi pada saat yang sama, masalab-masalah perancangan yang berhubungan dengan sistem manufaktur modem menjadi semakin kompleks. PT. PlNDAD merupakan perusahaan yang bergerak dibidang industri manufaktur yang memproduksi berbagai jenis tipe produk yang harus dikerjakan oleh berbagai mesin yang dimiliki. Departemen Permesinan Divisi Rekayasa lndustri dan Jasa (DPDRIJ) merupakan salah satu bagian dari unit usaha Divisi Rekayasa lndustri dan Jasa PT. PINDAD yang memberikan jasa pennesinan untuk mengeJjakan komponen-komponen yang dipesan. Komponen-komponen yang dipesan umumnya memiliki jenis yang bervariasi. Saat ini departemen tersebut memiliki karakteristik pola aliran job shop. Pola aliran job shop memiliki fleksibilitas yang tinggi dengan efektifitas yang rendah, tetapi variasi komponen yang dipesan menimbulkan beragam urutan proses pennesinan, sehingga tata letak saat ini yang memilild aliran material job shop sudah tidak cocok lagi. Hal ini ternyata menyebabkan beberapa masalah yang timbul seperti aliran perpindahan yang tidak teratur sehingga mengakibatkan waktu perpindahan material (material handling) dan ongkos yang ditimbulkan menjadi tinggi, akibatnya biaya produksi menjadi besar. Selain itu terdapat kesulitan dalam pelacakan dan pengendalian produksi. Salah satu metode pendekatan untuk memecahkan masalah pembebanan mesin dengan jenis tipe produk yang bervariasi adalah dengan pendekatan group technology. Pendekatan group technology merupakan pendekatan yang banyak digunakan dalam membentuk sistem sel manufaktur, yaitu dengan cara mengelompokan mesin-mesin kedalam sel agar tiap sel dapat menghasilkan satu atau 1ebih part family yang diharapkan dapat mempermudah perencananan dan pengendalian produksi, meningkatkan performansi sistem manufaktur dan pada akhimya akan meningkatkan produktivitas perusahaan. Metoda yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan diatas salah satunya adalah metoda Beller Alternative to ROC (BETROC}. Pemilihan metoda ini didasarkan pada basil penelitian yang dilakukan oleh Babu. AS., el a/. (2000) dalam jurnalnya, mengatakan bahwa metoda yang dikembangkan ini terbukti sebagai metode yang cukup baik untuk menyelesaikan pennasalahan mengenai tata letak fasilitas dengan mengelompokan mesin kedalam sel-sel tertentu. Disamping hal tersebut,pemilihan metoda ini dikarenakan metoda ini memiliki aturan dalam mempertimbangkan jumJah mesin yang harus diduplikasi dan menganggap bahwa penduplikasian mesin merupakan masalah. Kondisi ini sangat sesuai dengan kondisi PT.PINDAD dimana perusahaan mengijinkan penambahan mesin biJa memang harus dilakukan penambahan mesin. Sedangkan penduplikasian mesin tidak diselesaikan pada beberapa algoritma-algoritma lainnya, karena penduplikasian mesm tidak menjadi masalah untuk algoritma-algoritma lainnya Hasil studi menunjukan bahwa sel manufaktur yang terbentuk melalui penerapan group technology memberikan nilai perfonnansi yang lebih baik. Hal ini ditunjukan dari nilai performansi layout yaitu group efficacy untuk tata letak awal sebesar 0,157 dan tata letak .akhir sebesar 0,409. Selain hal tersebut diatas, dengan menerapkan group technology koordinasi antara kelompok part-mesin menjadi semakin jelas, pelacakan dan pengendalian produksi menjadi lebib mudah untuk dilakukan. Aliran material pun menjadi tidak terlalu rumit, sekalipun ada part yang harus keluar sel tetapi perpindahannya dapat dikoordinir dengan baik.