// <![CDATA[PENJADW ALAN BATCH MENGGUNAKAN PENDEKAT AN MAJU PADA LINGKUNGAN FLOW SHOP DENGAN KRITERIA MIN!MASI MAKESPAN {Studi Kasus di PT. Dharma Polimetal)]]> Ir. Emsosfi Zaini, MT. Dosen Pembimbing 1 Fifi Herni Mustofa, ST., M.T Dosen Pembimbing 2 NOVITA FITRIA TUNNISA / 13-1998-066 Penulis
Pengiriman order tepat waktu menjadi hal yang perlu diperhatikan oleh perusahaan untuk menjaga kesetiaan dan kepercayaan konsumen pada perusahaan. Bagi perusahaan dengan strategi make-to-stock, produk yang dihasilkan adalah produk standar. Ketika pengiriman order tepat waktu menjadi tuntutan., maka dibutuhkan persediaan yang cukup besar untuk merespon permintaan konsumen secara cepat sehingga pada saat konsumen datang produk jadi telah tersedia dan dapat dikirim ke konsumen secepatnya Produksi direncanakan untuk menjaga persediaan produk jadi yang akan ditawarkan dan dijual dalam jumlah tertentu untuk memenuhi permintaan konsumen (Kingsman et a!., 1993). Oleh karena itu, untuk menjaga persediaan produk jadi, maka bagian produksi harus menyelesaikan pekerjaan tepat pada waktunya. Di satu pihak bagian produksi dituntut untuk menyelesaikan pekerjaan tepat pada waktunya, di pihak lain sumber daya yang dimiliki perusahaan terbatas. Oleh karena itu, perlu dilakukan perencanaan dan pengendalian produksi di lantai pabrik, yaitu dengan melakukan penjadwalan. Waktu yang sangat panjang untuk menyelesaikan rencana produksi menjadi masalah PT. Dharma Polimetal untuk menjaga persediaan produk jadi. Kosongnya persediaan produk jadi akan menyebabkan pengiriman order kepada PT. Astra Honda Motor sebagai konsumen PT. Dharma Polimetal terlambat. Penjadwalan dengan menggunakan metode penjadwalan batch dapat menghasilkan makespan (waktu penyelesaian seluruh pekerjaan) yang lebih pendek. Dengan cara membagi lot dalam beberapa batch maka waktu menunggu produk untuk dikerjakan dan waktu idle mesin untuk mengerjakan job menjadi semakin pendek. Penjadwalan yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama yaitu penjadwalan dengan menggunakan aturan priority dispatching yaitu greatest total work, greatest total time. shortest processing time, yang mengasumsikan seluruh part berada dalam satu batch. Tahap ini dimaksudkan untuk mendapatkan makespan awal yang kemudian akan diperbaiki. Tahap kedua adalah menentukan jumlah batch untuk setiap jenis part yang dapat memberikan makespan yang minimum. Setelah didapatkan jumlah batch maka langkah selanjutnya adalah menjadwalkan batch-batch tersebut dengan urutan yang sama dengan penjadwalan yang dilakukan pada tahap pertama. Dengan menjadwalkan batch-batch tersebut, maka terjadi pergeseran saat mulai dan saat selesai dari setiap job sehingga dihasilkan makespan yang lebih pendek dari jadwal pada tahap pertama. Makespan awal yang dihasilkan dari penjadwalan dengan mengasumsikan seluruh part dalam satu batch adalah 19.38 jam, sedangkan makespan yang dihasilkan dari penjadwalan dengan ukuran batch yang 1ebih kecil menghasilkan makespan J 3.36 jam. Makespan yang dihasilkan dari penjadwalan dengan ukuran batch yang lebih kecil menunjukan pengurangan nilai sebesar 32.35% dari penjadwalan yang mengasumsikan seluruh part berada dalam satu batch.