AREA ALLOCATION DIAGRAM MESIN HASIL PEMBENTUKAN SEL MANUFAKTUR MENGGUNAKAN METODE SIMILARITY COEFFICIENT BASED HEURISTIC (STUDI KASUS Dl PT. BANINUSA INDONESIA)
Industri manufaktur akhir-akhir ini berkembang cukup pesat. Permasalahan utama dalam suatu industri manufaktur adalah beragamnya variasi produk yang harus dikerjakan dan besarnya lot size produk (Singh dan Rajamani, 1996). Hal tersebut hams diakomodasi dan diselesaikan oleh suatu perusahaan agar dapat bersaing menciptakan desain produk barn, berproduksi, berkembang dan akhirnya mendapatkan keuntungan. Besarnya volume produksi dan variasi pada suatu produk dapat mempengaruhi ongkos produksi, kualitas produk, dan delivery lead times (Singh dan Rajamani, 1996). PT. Baninusa Indonesia merupakan industri manufaktur yang memproduksi komponen mobil, motor, dan mesin-mesin industri. Komponen yang diproduksi adalah camcart, ring carrier, cylinder linear dan cam sleeve. Komponen yang diproduksi secara kontinu dan dengan jumlah yang besar adalah ring carrier dan cylinder liner. Tata letak mesin yang diterapkan adalah process layout dan aliran produksinya berupa job shop. Banyaknya variasi dan volume produksi yang harus dikerjakan dalam pembuatan ring mengakibatkan aliran material di lantai produksi tidak teratur dan biaya pemindahan material meningkat.
Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan di atas adalah dengan menyusun kembali tata letak mesin melalui pendekatan group technology. Pendekatan group technology di lantai produksi dilakukan dengan pembentukan sel manufaktur. Pada penelitian ini metode pembentukan sel manufaktur yang digunakan adalah similarity coefficient based heuristic yang dikembangkan oleh Islami dan Sarker (2000). Similarity coefficient based heuristic merupakan salah satu pendekatan heuristik pembentukan sel manufaktur yang menggunakan similarity antar mesin dan antar komponen sebagai acuan untuk mengelompokkan mesin dan komponennya. Metode tersebut menghubungkan mesin dan komponen berdasarkan koefisien kemiripan antar mesin dan antar komponen, sehingga dapat dihasilkan suatu sel manufaktur. Pembentukan sel manufaktur diharapkan dapat memproses suatu kelompok komponen atau kelompok mesin secara efisien. Pembentukan sel manufaktur yang sesuai akan meminimasi jumlah aliran intra sel dan antar sel, sehingga akan meminimumkan ongkos material handling.
Penelitian ini mengusulkan tata letak mesin berupa area allocation diagram menggunakan pendekatan group technology dengan ongkos material handling sebagai parameter keberhasilannya. Berdasarkan pengolahan data yang dilakukan, tata letak mesin usulan memberikan pengurangan ongkos material handling sebesar 0.672% dari tata letak mesin awal. Hal ini disebabkan karena penempatan mesin dengan menggunakan konsep group technology memungkinkan pola aliran materialnya menjadi lebih teratur, sehingga ongkos material handling yang terjadi lebih kecil.
Detail Information
Citation
APA Style
. (2004).AREA ALLOCATION DIAGRAM MESIN HASIL PEMBENTUKAN SEL MANUFAKTUR MENGGUNAKAN METODE SIMILARITY COEFFICIENT BASED HEURISTIC (STUDI KASUS Dl PT. BANINUSA INDONESIA) ().Teknik Industri:FTI
Chicago Style
.AREA ALLOCATION DIAGRAM MESIN HASIL PEMBENTUKAN SEL MANUFAKTUR MENGGUNAKAN METODE SIMILARITY COEFFICIENT BASED HEURISTIC (STUDI KASUS Dl PT. BANINUSA INDONESIA) ().Teknik Industri:FTI,2004.Text
MLA Style
.AREA ALLOCATION DIAGRAM MESIN HASIL PEMBENTUKAN SEL MANUFAKTUR MENGGUNAKAN METODE SIMILARITY COEFFICIENT BASED HEURISTIC (STUDI KASUS Dl PT. BANINUSA INDONESIA) ().Teknik Industri:FTI,2004.Text
Turabian Style
.AREA ALLOCATION DIAGRAM MESIN HASIL PEMBENTUKAN SEL MANUFAKTUR MENGGUNAKAN METODE SIMILARITY COEFFICIENT BASED HEURISTIC (STUDI KASUS Dl PT. BANINUSA INDONESIA) ().Teknik Industri:FTI,2004.Text