// <![CDATA[IDENTIFIKASI ECOLOGICAL NETWORK RUANG TERBUKA HIJAU UNTUK MEWUJUDKAN SUSTAINABLE CITY DI KOTA BANDUNG]]> TRIAGUNG AULIA PRANOTO/242017074 Penulis Nabilla Dina Adharina, S.T., M.PWK. Dosen Pembimbing 1
Beberapa isu global tentang krisis lingkungan di masa depan perlu mendapatkan perhatian khusus dan menjadi agenda kerja serius bagi pemerintah dan stakeholders. Salah satu upaya untuk mengantisipasi krisis lingkungan tersebut adalah dengan cara pengelolaan fisik lingkungan kota dengan melalui program yang meningkatkan keberlanjutan lingkungan kota. Kota Bandung sebagai salah satu kota besar di Indonesia juga turut mengalami permasalahan ketersediaan guna lahan untuk mengakomodasi berbagai kegiatan dan pembangunan kotanya. Tingginya kebutuhan terhadap pengembangan lahan mempengaruhi eksistensi RTH (RUANG TERBUKA HIJAU) perkotaannya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat ecological network Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung dan mengidentifikasi variable yang ada didalam ecological network, serta rekomendasi apa saja yang diambil untuk keberlanjutan kota. Ecological network atau jejaring ekolgi merupakan fenomena baru dalam ekologi perkotaan. Jejaring ekologi muncul sebagai respon dari kemerosotan dari kualitas dan eksistensi sistem alam serta dianggap sebagai pendekatan yang cocok dalam meningkatkan nilai ekologi dari sistem ruang terbuka di perkotaan dan dapat menjadi salah satu indikator dalam menerapkan sustainable city berdasarkan aspek lingkungan. Ketersediaan RTH (RUANG TERBUKA HIJAU) di Kota Bandung pada tahun 2020 yaitu sebesar 18.9% yang hanya dilihat dari undang-undang Republik Indonesia nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang. Dalam ecological network terdapat 3 (tiga) hal yang menjadi variable diantaranya pesebaran titik-titik RTH (RUANG TERBUKA HIJAU) (patch), pesebaran koridor (corridor), dan jaringan (network) serta dilihat juga derajat kealamian nya atau naturalness of degree. Hasil dari analisis pesebaran patch dan corridor menunjukan bahwa pesebaran patch tersebar merata dengan presentase 61% nilai tersebut termasuk dalam skor yang tinggi, sedangkan pesebaran corridor belum tersebar secara merata dengan presentase 66%, terbentuknya jaringan yang menghubungkan antar patch melalui corridor di Kota Bandung hanya sebesar 50% yang artinya belum terhubung secara keseluruhan. Dilihat dari sisi naturalness of degree patch dan corridor di Kota Bandung memiliki presentase 76% yang artinya kealamian patch dan corridor di Kota Bandung masih sangat alami. Untuk keberlanjutan kota perlu penyediaan RTH (RUANG TERBUKA HIJAU) dapat disusun dalam rencana detail penyediaan Ruang Terbuka Hijau per kecamatan di Kota Bandung, yang disertai dengan konsep dari Ruang Terbuka Hijau yang akan disediakan.