// <![CDATA[TREN DAN STATUS PENCEMARAN OZON DI DKI JAKARTA]]> 0409058001 - Mila Dirgawati, ST., MT., Ph.D. Dosen Pembimbing 2 Dr.Eng Didin Agustian Permadi, S.T., M.Eng Dosen Pembimbing 1 Talitha Zulfa Vania/252017049 Penulis
Ozon permukaan (O3) merupakan polutan sekunder yang terbentuk ketika bereaksi dengan prekursor ozon dibantu oleh sinar matahari. Prekursor ozon meliputi karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NOx) dan Non Methane Hidrocarbon (NMHC) yang dihasilkan dari emisi antropogenik dan biogenik VOC. Selain prekursor ozon, parameter meteorologi seperti radiasi matahari, temperatur, kelembaban, dan kecepatan angin juga ikut andil dalam pembentukan ozon. Data pengukuran diperoleh dari lima stasiun pemantauan udara DKI Jakarta (DKI 1 – DKI 5) pada periode tahun 2013 - 2017. Dari hasil data pengukuran, konsentrasi ozon rata-rata per jam jika dibandingkan dengan baku mutu PP No. 41 Tahun 1999 dan PP No. 22 Tahun 2021 berturut-turut sudah memenuhi baku mutu sebesar 99,20% dan 93,82%. Distribusi temporal ozon dalam diurnal (harian) mengalami puncak pada pukul 13.00 – 15.00. Pembentukan konsentrasi ozon dalam distribusi spasial dipengaruhi oleh arah angin. Terdapat korelasi yang positif pada parameter temperatur (R=0,512 – 0,730), radiasi matahari (R=0,486 – 0,618), dan kecepatan angin (R=0.202 – 0,389) terhadap ozon, sedangkan korelasi negatif terdapat pada parameter kelembaban, CO, NOx, dan NMHC terhadap ozon. Rekomendasi tahapan upaya penanganan pencemaran ozon harus dilakukan dengan melakukan pembuatan grafik isopleth untuk melihat sensitivitas penurunan NOx dan VOC terhadap perubahan konsentrasi rata-rata tahunan ozon.