// <![CDATA[PERANCANGAN KOMIK WEBTOON MENGENAI TOXIC BEHAVIOR DALAM GAME ONLINE KOMPETITIF UNTUK DEWASA AWAL]]> 0414085901 - Agus Rahmat Mulyana M,Ds Dosen Pembimbing 1 0403018503 - Aditya Januarsa, S.Ds., M.Ds. Dosen Pembimbing 2 ______Muhammad Alfiola Naboya Pasha/332016024 Penulis
Dengan berkembangnya zaman pada saat ini, banyak sekali aktivitas yang dapat dilakukan oleh masyarakat pada masa senggang, dimana aktivitas tersebut dapat dilakukan di dalam maupun di luar ruangan. Ada yang menonton film secara maraton atau biasa disebut binge watching, berseluncur di dunia maya atau internet surfing sampai mencoba bermain video game yang baru. Video game sendiri bisa dikategorikan secara umum menjadi dua, yaitu single player video game, dimana game tersebut hanya dapat bisa dimainkan oleh satu player pada waktu yang sama, biasanya game ini lebih mengutamakan cerita atau story dan ada pula game multiplayer atau game online, dimana game tersebut dapat dimainkan oleh lebih dari satu orang. Seringkali game multiplayer atau game online ini menuntut para player untuk bekerja sama atau co-op atau berkompetisi dengan satu sama lain dengan dibaginya para player menjadi dua tim. Di Indonesia sendiri, bermain game online menjadi salah satu bentuk hiburan yang dipilih oleh para masyarakat ketika mengisi waktu senggang, terutama ketika pandemi COVID-19 pada saat ini, yang mengharuskan masyarakat untuk berdiam diri dirumah. Berdasarkan survey yang diselenggarakan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), masyarakat yang memilih bermain game online tersebut sebesar 16,5% sementara musik online 15,3% (Dahwilani. 2020). Apalagi dengan banyaknya pilihan game online kompetitif yang dapat dimainkan terutama yang gratis atau free-to-play, seperti Counter-Strike Global Offensive yang mencatat jumlah pemainnya sebanyak 20.535.709 orang bermain ketika game tersebut mendapatkan update terbaru, membuat game tersebut menjadi free-to-play dan adanya mode permainan baru yaitu Danger Zone, sebuah mode Battle Royale yang popular yang banyak dimainkan pada saat ini (O’Brien. 2019). Namun sayangnya, skena kompetitif game online ini tak jauh dari toxic behavior yang dilakukan oleh para sesama gamer di game online tersebut. Mulai dari abusive communication yang ditujukan kepada sesama gamer (pelecehan secara verbal, hate speech, flaming), tindakan yang mengganggu alur, hukum dan juga norma dalam permainan atau biasa disebut disruptive gameplay (griefing, spamming dan cheating) (A. Beres dkk. 2021). Sayangnya perilaku ini sudah diwajarkan oleh para komunitas pemain tersebut, padahal perilaku tersebut tergolong serius dan juga menodai skena video game online kompetitif, karena toxic behavior tersebut dapat berakibat terjadinya depresi dan mental illness (Blackburn & Kwak. 2014). Hal ini sangat tidak menguntungkan bagi para newcomer atau pendatang baru game online kompetitif. Banyak kasus yang terjadi dimana para newcomer merasa jera untuk bermain game online kompetitif ketika mereka menjadi korban toxic behavior yang dilakukan oleh para gamer lainnya di game online kompetitif tersebut (Shores dkk. 2014). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Haewoon Kwak dari Qatar Computing Research Institute, para gamer melakukan perilaku toxic tersebut karena adanya elemen kompetitif, anonymous (dikarenakan menggunakan nickname dan juga avatar, berkemungkinan besar mereka tidak akan bertemu langsung dengan gamer lain, membuat mereka merasa bebas untuk mengatakan apapun seolah-olah tidak adanya konsekuensi dalam game online), dan juga budaya sosial yang negatif (tumbuh dalam masyarakat individualis, tidak adanya empati atau merasa senang ketika melihat orang lain sedang menderita). Perilaku toxic di game online kompetitif ini salah satu bentuk dari cyberbullying, tindakan agresif yang disengaja dilakukan berulang kali melalui media elektronik terhadap korban (Smith dkk. 2008). Maka dari itu, dibutuhkan sebuah media yang dapat memberikan sosialisasi lebih lanjut tentang toxic behavior ini dan juga sekaligus memotivasi para gamer untuk bersikap good mannered ketika bermain game online kompetitif.