// <![CDATA[PERANCANGAN BUKU SEJARAH PERJUANGAN DI RENGASDENGKLOK SEBAGAI PENGAYAAN MATA PELAJARAN SISWA SMA]]> 0429056704 - Ramlan, S.Sn., M.Sn. Dosen Pembimbing 2 0424057001 - Aris Kurniawan, S.Sn., M.Sn. Dosen Pembimbing 1 Zainul Yafi/332016096 Penulis
Awal pembentukan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia terjadi karena sekutu menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki. Kaisar Hirohito menyatakan menyerah tanpa syarat kepada sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945. Golongan muda yang terdiri dari Sukarni, Wikana, Chairul Shaleh, Yusuf Kunto dan lainnya mendengar kabar tersebut melalui radio yang kemudian para pemuda tersebut mendesak Soekarno dan Hatta untuk segera menyatakan proklamasi. Tanggal 16 Agustus 1945 pukul 03.30 Ir. Soekarno dan Hatta diculik golongan muda ke Rengasdengklok. Pada tanggal 17 Agustus 1945 pukul 03.00 WIB, naskah yang disusun oleh Ir Soekarno, Mohammad-Hatta, dan Soebardjo dibuat di ruang makan. Naskah tersebut berisi dua alinea selama dua jam, Sayuti Melik bertugas mengetik ulang naskah proklamasi. Naskah tersebut disahkan dan ditandatangani oleh Soekarno, pembacaan naskah proklamasi dilaksanakan pada tanggal 17 agustus 1945 pada pukul 10.00 WIB di jalan Pegangsaan Timur no. 56 (Jalan Proklamasi no 5, Jakarta Pusat). Peristiwa Rengasdengklok merupakan momen bersejarah bagi Indonesia dan memiliki nilai historis yang tinggi, akan tetapi kenyataanya pada saat ini mulai kurang diminati oleh genesai penerus bangsa. Seiring perkembangan zaman, generasi penerus seakan melupakan sejarah dan melupakan nilai yang terdapat pada sejarah tersebut yaitu perjuangan dan pengorbanan para pahlawan. Dampak yang akan terjadi apabila generasi penerus bangsa terus melupakan sejarah tentu akan terjadi penurunan budaya dan karakter bangsa yang menjadikan mereka apatis dalam hal sejarah, terlebih akan sangat susah menempatkan 2 diri di jaman yang serba berkembang dan penuh perubahan. Dengan kata lain, semangat patriotisme, kecintaan terhadap Negara akan hilang ditengah perkembangan bangsa. Salah satu contohnya adalah budaya hedonism yang sudah mulai dirasakan kehadirannya ditengah generasi aktif di Indonesia saat ini.