// <![CDATA[PENGUKURAN BEBAN KERJA MENTAL PETUGAS PPKA STASIUN BANDUNG DENGAN MENGGUNAKAN METODE SUBJECTIVE WORKLOAD ASSESSMENT TECHNIQUE (SWAT)]]> Arie Desrianty, ST., MT. Dosen Pembimbing 2 Ir Yanti Helianty, M.T Dosen Pembimbing 1 YULLI FITRIANTY / 13 - 2000-137 Penulis
Kesalahan dalam bekerja bisa disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya adalah faktor manusia (human error). Human error dapat timbul salah satuuya karena meningkatnya beban kerja mental (mental workload) dari operator dalam suatu sistem kerja beban kerja yang terlalu tinggi bisa menyebabkan turunnya konsentrasi dalam bekerja, sehingga mengakibatkan kesalahan-kesalahan yang dapat berakibat fatal. Pengukuran beban kerja mental dapat digunakan sebagai salah satu alat untuk meminimasi terjadinya kesalahan dalam bekerja dengan menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap besamya beban kerja mental. Dalam sistem transportasi kereta api, bagian PPKA adalah bagian yang bertugas untuk mengatur penyiapan pemberangkatan perjalanan dan kedatangan kereta api di stasiun berdasarkan peraturan yang berlaku serta menjamin keamanannya dalam wilayah operasinya agar berjalan sesuai jadwal. Selain itu, bagian PPKA juga bertugas untuk mengatur langsiran kereta api dan bertanggung jawab atas keadaan lalu lintas kereta api dalam stasiun tempat ia bertugas. Bagian PPKA ini dituntut untuk dapat bekerja secara cepat, tepat. dan error free. Dalam penelitian ini akan dilakukan pengukuran beban kerja mental pada petugas bagian PPKA di Stasiun Bandung untuk mengetahui peogaruh dari shift kerja terhadap aktivitas pekerjaan petugas PPKA dan untuk mengetahui pada aktivitas apa saja terjadi nilai beban kerja mental yang tinggi sehingga dapat menyebabkan terjadinya kesalahan dalam bekerja. Metode yang dipergunakan untuk pengukuran beban kerja mental adalah metode Subjective Workload Assessment Technique (SWAT). Pada metode SWAT terdapat dua tahapan utama, yaitu tahap pembentokan skala (scale development) untuk membentuk skala beban kerja mental berdasarkan persepsi petugas PPKA yang perhitungannya dibantu dengan menggunakan software SWAT dan tahap penilaian situasi (event scoring) untuk mendapatkan rating beban kerja mental dari tiap aktivitas ketja petugas PPKA. Hasil akhir yang diperoleh dari metode SWAT pada penelitian ini adalah nilai beban kerja mental dari setiap aktivitas; kerja petugas PPKA. Berdasarkan hasil pengolahan data, aktivitas yang memiliki nilai beban kerja tertinggi adalah aktivitas mengambil keputusan untuk menerima kereta api yang akan masuk ke dalam stasiun (82,15 untuk shift pagi dan siang, 100 untuk shift malam). Melalui pengujian Anova, diketahui bahwa shift kerja berpengaruh terhadap aktivitas mengoperasikan meja pelayanan (mesin NX) dan menerima informasi kedatangan kereta api (melalui telefon atau alat komunikasi 1ainnya). Hasil akhir ini kemudian dianalisis untuk mencari faktor - faktor yang mempengaruhi beban kerja mental para petugas PPKA. Dari basil analisis tersebut dapat diusulkan suatu tindakan untuk menanggulangi beban kerja mental yang tinggi, sehingga dapat meminimasi terjadinya kesalahan dalam bekerja.