// <![CDATA[MODEL PENJADWALAN UNTUK FABRIKASI DAN ASSEMBLY PADA FLOWSHOP-4-STAGE DENGAN KRITERIA MINIMASI MAKSIMUM LATENESS UNTUK KASUS COMMON COMPONENT IDENTIK]]> Ir. Emsosfi Zaini, MT. Dosen Pembimbing 1 Ir. Alex Saleh, MT. Dosen Pembimbing 2 SUMINAR ROHIMATI / 13-2001-058 Penulis
Cheng dan Wang (1999) melakukan penelitian mengenai penjadwalan untuk fabrikasi dan assembly padajlowshop-2-stage dengan kriteria minimasi makespan. Pada model ini setiap job terdiri dari 1 unit common component dan 1 unit unique component. Unique component diproses sendiri-sendiri, sedangkan common component diproses dalam batch dan setup dilakukan untuk setiap batch dengan waktu setup batch konstan. Common component dan unique component ini diproduksi pada mesin pertama dan kemudian dirakit pada mesin kedua setelah kedua komponen tersebut tersedia. Penelitian ini hanya membahas penjadwalan untuk fabrikasi dan assembly pada flowshop-2-stage. Pada kenyataannya, proses produksi untuk membuat suatu produk biasanya dilakukan lebih dari 2 mesin. Penelitian tersebut dikembangkan oleh Mubarok (2004) yang membahas penjadwalan untuk fabrikasi dan assembly pada flowshop-3-stage dan flowshop-4-stage dengan kriteria minimasi makespan. Tetapi model penjadwalan dengan kriteria minimasi makespan tidak dapat digunakan apabila due date (saat penyerahan) setiap pekerjaan berbeda. Kriteria model penjadwalan yang mempertimbangkan due date sebagai faktor pembatas adalah minimasi maksimum lateness, minimasi jumlah tardy jobs, minimasi total waktu tinggal aktual, dan lain-lain. Penelitian selanjutnya dikembangkan oleh Halim dan Saleh (2004) yang membahas model penjadwalan untuk fabrikasi dan assembly pada flowshop-2-stage dengan kriteria minimasi total waktu tinggal aktual. Tetapi pada kriteria tersebut tidak diijinkan adanya job yang terlambat, sedangkan pada kenyataannya keterlambatan tersebut rnungkin saja terjadi, dan biasanya pihak perusahaan dikenakan penalti. Bila penalty dikenakan terbadap lamanya keterlambatan maka kriteria yang digunakan adalah minimasi maksimum lateness. Oleh karena itu perlu dikembangkan model dengan kriteria minimasi maksimum lateness. Penelitian ini rnembahas model penjadwalan untuk fabrikasi dan assembly pada flowshop-4-stage dengan kriteria minimasi maksimum lateness untuk kasus common component identik, mengembangkan model penjadwalan yang telah dibahas di atas yaitu Cheng dan Wang (1999), Halim dan Saleh (2004), dan Mubarok (2004). Pengernbangan model pada penelitian ini dilakukan tiga tahap, tahap pertama yaitu model penjadwalan untuk fabrikasi dan assembly pada flowshop-2-stage, selanjutnya model ini disebut Model (F2/(c,ui,ai),ba/Lmax*) Tahap kedua adalah model penjadwalan untuk fabrikasi dan assembly pada jlowshop-3-stage, selanjutnya model ini disebut Model (F3/(c,ui,ai),ba/Lmax*) Tahap ketiga adalah model penjadwalan untuk fabrikasi dan assembly pada floowshop-4-stage, selanjutnya model ini disebut Model (F4/(c,ui,ai),ba/Lmax*). Pada model ((F2/(c,ui,ai),ba/Lmax*) proses fabrikasi common component dan unique component dilakukan di Mesin 1, sedangkan proses assembly dilakukan di Mesin 2. Sama halnya untuk Model (F3/(c,ui,ai),ba/Lmax*) dan Model (F4/(c,ui,ai),ba/Lmax*) pada setiap model ini proses assembly dilakukan hanya pada mesin terakhir saja. Model (F4/(c,ui,ai),ba/Lmax*) adalah model yang lebih umum, model tersebut selain dapat menyelesaikan masalah penjadwalan untuk fabrikasi dan assembly pada flowshop-4-stage, model ini juga dapat menyclesaikan masalah penjadwalan untuk fabrikasi dan assembly pada flowshop-3-stage dan flowshop-2-stage. Persoalan penjadwalan pada penelitian ini diselesaikan dengan cara membuat persamaan untuk menghitung nilai lateness untuk setiap job serta maksimum lateness dari keseluruhan job, dan selanjutnya menyusun algoritma untuk menentukan urutan pengerjaan job, ukuran dan jurnlah batch. Urutan pengerjaan job berdasarkan earliest due date (EDD) untuk mesin tunggal. Sedangkan penentuan ukuran dan jurnlah batch dilakukan dengan metode pemrograman dinamis. Algoritma yang disusun tidak memberikan hasil yang optimal karena pada proses penjadwalan tidak dijamin optimal, meskipun proses hatching dapat menghasilkan ukuran batch optimal. Penelitian ini dilengkapi dengan contoh numerik untuk menunjukkan perilaku model.