PENJADWALAN PART DENGAN KRITERIA MINIMASI MAKSIMUM LATENESS DAN WORK-IN-PROCESS (Studi Kasus pada Departemen Produksi ll PT. Baninusa Indonesia)
PT. Baninusa Indonesia merupakan perusahaan dengan sistem manufaktur Make-To-Order (MTO) yang memproduksi suku cadang untuk mobil, motor, dan mesin industri. Di tengah persaingan yang semakin ketat di antara produsen sejenis, PT. Baninusa Indonesia ingin mempertahankan kepercayaan dari konsumennya melalui penyelesaian order secara tepat waktu. Kenyataan yang ada pada lantai produksi Departemeo ll PT. Baninusa Indonesia pada aat ini adalah seringnya terjadi keterlambatan penyelesaian job. Penjadwalan yang dilakukan dengan intuisi oleh bagian Production Planning and Control (PPC), adanya variasi yang tinggi dari setiap part, dan kedatangan job per hari dengan tidak memperhatikan beban kerja mesin nenyebabkan banyaknya penumpukan work-in-process (WLP) di lantai produksi. Penumpukan WIP yang berlebihan dapat mengganggu kelancaran aliran proses produksi dan menyebabkan keterlambatan dalam memenuhi due-date yang telah ditentukan.
Model penjadwalan yang dipilih dan sesuai untuk memecahkan masalah yang terjadi di perusahaan adalah Virtual Factory Algorithm (VFA) yang dikembangkan oleh Hodgson. et al. (1998) untuk meminimasi maksimun keterlambatan (Lmar). Constructive Algorithm LP (WlP)
yang dikembangkan oleh Schultz et al. (2003) untuk meminimasi nilai Work-In-Process berdasarkan Jadwal Terbaik VFA dan Algoritma Penjadwalan Ulang untuk menyusun jadwal di
hari-hari berikutnya. Pada penelitian ini dilakukan beberapa pengembangan terhadap ketiga model yang digunakan tersebut agar sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada di perusahaan, misalnya dapat mengakomodasi mesin paralel dan dapat mengakomodasi kedatangan job yang
bersifat dinamis di lantai produksi.
Penjadwalan disusun untuk empat hari di minggu pertama Bulan Februari. Penjadwalan yang dilakukan dengan menggunakan VFA, Constructive Algorithm LP (WlP), dan Algoritma
Penjadwalan Ulang menghasilkan Jadwal Akhir dengan nilai Lmax untuk Tanggal 1 Februari 2005 sampai dengan Tanggal 4 Februari 2005 adalah 0 jam, sedangkan nilai WIP untuk Tanggal Februari 2005 adalah 178,189 jam, nilai WIP untuk Tanggal 2 Februari 2005 adalah 176,833 jam, nilai WIP untuk Tanggal 3 Februari 2005 adalah 170,289 jam, dan nilai WIP untuk tanggal 4 Februari 2005 adalah 128,881 jam.
Detail Information
Citation
APA Style
. (2005).PENJADWALAN PART DENGAN KRITERIA MINIMASI MAKSIMUM LATENESS DAN WORK-IN-PROCESS (Studi Kasus pada Departemen Produksi ll PT. Baninusa Indonesia) ().Teknik Industri:FTI
Chicago Style
.PENJADWALAN PART DENGAN KRITERIA MINIMASI MAKSIMUM LATENESS DAN WORK-IN-PROCESS (Studi Kasus pada Departemen Produksi ll PT. Baninusa Indonesia) ().Teknik Industri:FTI,2005.Text
MLA Style
.PENJADWALAN PART DENGAN KRITERIA MINIMASI MAKSIMUM LATENESS DAN WORK-IN-PROCESS (Studi Kasus pada Departemen Produksi ll PT. Baninusa Indonesia) ().Teknik Industri:FTI,2005.Text
Turabian Style
.PENJADWALAN PART DENGAN KRITERIA MINIMASI MAKSIMUM LATENESS DAN WORK-IN-PROCESS (Studi Kasus pada Departemen Produksi ll PT. Baninusa Indonesia) ().Teknik Industri:FTI,2005.Text