// <![CDATA[PERENCANAAN SISTEM PEMANENAN AIR HUJAN (SPAH) SEBAGAI ALTERNATIF PENYEDIAAN AIR BERSIH DI KAWASAN PEDESAAN Studi Kasus:]]> 0409058001 - Mila Dirgawati, ST., MT., Ph.D. Dosen Pembimbing 1 Raden Roro Ratri Atsil Hendrardini / 252020043 Penulis
Penduduk di Kecamatan Adipala sehari-hari menggunakan air PDAM untuk memenuhi kebutuhan air bersihnya, bersumber dari IPA Kesugihan yang melayani 10 kecamatan. Namun, kapasitas PDAM tidak dapat memenuhi kontinuitas yang diharapkan diakibatkan oleh pertumbuhan penduduk yang pesat dan kekeruhan air baku. Kondisi resapan air di Desa Adireja Kulon berada pada kondisi buruk, ditunjukkan dengan kejadian banjir yang sering terjadi. Dengan intensitas curah hujan yang tinggi yaitu 232,2 mm/bulan atau 3226,3 mm/tahun, pemanfaatan air hujan dapat dilakukan untuk mengurangi terjadinya limpasan permukaan dan memenuhi kebutuhan air bersih. Penelitian ini bertujuan untuk merencanakan sistem pemanenan air hujan untuk masyarakat di Desa Adireja Kulon sebagai penerapan prinsip ekodrainase serta mengetahui besaran biaya yang dibutuhkan untuk membangun sistem. Perhitungan dilakukan menggunakan metode analisis kurva massa, dengan prinsip selisih antara surplus dan defisit air hujan yang ditampung. Kebutuhan air bersih di lokasi studi adalah 79,29 m3/hari. SPAH dibuat dengan sistem komunal setempat, satu tangki melayani dua sampai tiga rumah. Tangki direncanakan dengan kapasitas antara 40 m3 sampai 83 m3, dengan bentuk persegi dengan kedalaman 2,5 m, dan berada di atas permukaan tanah serta berbahan beton kedap. Ukuran talang yang direncanakan adalah 4 inch, dan pipa tegak memiliki diameter 2 inch. Efisiensi pemanfaatan air hujan dalam mengurangi limpasan permukaan adalah sebesar 12,19% atau 10432,26 m3. Biaya yang dibutuhkan untuk membangun satu unit SPAH adalah Rp. 26.160.487 Kata Kunci: air hujan, air bersih alternatif, ekodrainase, Kabupaten Cilacap, pemanenan air hujan