// <![CDATA[BANDAR LAMPUNG CITY WALK.]]> FERNANDO S. SIREGAR / 21.2003.011 Dosen Pembimbing 1 Ir. Meta Riany, M.T, Ir Bambang Subekti, M.T., Ir Dassa Sudana
Kehidupan masyarakat Bandar Lampung yang penuh kesibukan, seakan-akan mengharuskan manusia untuk berhenti sejenak dari kesibukannya masing-masing. Dalam mengurangi rasa penat tersebut, masyarakat pada umumnya mempunyai cara yang relatif sama, yakni rekreasi/ re-freshing. Banyak tempat-tempak yang memberikan fasilitas bagi kebutuhan masyarakat untuk menghilangkan kepenatan dalam kehidupan sehari-hari, diantaranya pusat perbelanjaan, namun pada umumnya pusat perbelanjaan yang terdapat di kota Bandar Lampung, hanya memberikan fasilitas untuk sekedar berbelanja, ”nonton bioskop”. Namun pusat perbelanjaan yang ada tidak memberikan konsep bagi para pengunjung untuk saling berinteraksi antara satu, dengan yang lainnya. Di lain sisi, tidak dapat dimungkiri bila saat ini banyak kualitas ruang kota kita semakin menurun dan masih jauh dari standar minimum sebuah kota yang nyaman, terutama pada penciptaan maupun pemanfaatan ruang terbuka yang kurang memadai. Penurunan kualitas itu antara lain dari tidak ditata dan kurang terawatnya pedestrian atau ruang pejalan kaki, perubahan fungsi taman hijau, atau telah menjadi tempat mangkal aktivitas tertentu yang mengganggu kenyamanan warga kota lain untuk menikmatinya. Tak heran sekarang banyak ruang komersial seperti mal dipenuhi warga kota walau hanya sekadar jalan-jalan dan cuci mata. Walaupun pertumbuhan jumlah mal atau trade center sudah dirasa sampai titik jenuh, tetapi ternyata tetap saja dipenuhi pengunjung. Salah satu pendorong hal ini adalah karena minimnya ruang bagi warga kota sekadar untuk melepas kepenatan dari kesemrawutan suasana jalan kota. Bahkan lebih tragis lagi hadir sejumlah pusat perbelanjaan dengan menamai dirinya Paza. Bila di telaah, kata plaza berasal dari istilah Spanyol, memiliki arti yang mirip dengan city/town square dalam Bahasa Inggris, atau piazza dalam Bahasa Italia. Arti plaza kemudian mulai bergeser, mungkin berubah makna akibat statistik, bahkan ketika sama sekali tidak ada ruang publik terbuka tetap diberi nama plaza. Sungguh menyedihkan saat mendengar orang yang hanya tahu bahwa plaza adalah bangunan besar berisi pusat perbelanjaan. Untuk itu penulis mencoba memahami dan menangkap kebutuhan manusia di dalam ruang komersial yang penulis coba hadirkan. Salah satunya dengan menciptakan ruang terbuka yang nyaman dan aman yang dilewatkan di tengah ruang ritel mereka yang sekarang sering disebut dengan istilah city walk. Dalam Bandar Lampung City Walk ini penulis mencoba meluruskan kembali makna plaza bagi masyarakat Kota Bandar Lampung, serta menyatukannya dengan fungsi komersial, dimana selain dapat berbelanja, masyarakat juga bisa saling berinteraksi, serta rekreasi dengan sahabat, atau keluarga masing-masing.