// <![CDATA[PERHITUNGAN VALUE CHAIN AGROINDUSTRI KAKAO DI KABUPATEN BATANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE HAYAMI]]> 0424116602 - Dwi Novirani ST., MT. Dosen Pembimbing 1 Muhamad Rafi Aulia Habibi/132018266 Penulis
Kakao merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan indonesia yang cukup penting bagi perekonomian indonesia. Biji kakao kering yang saat ini masih sering diproduksi oleh petani di Kabupaten Batang memiliki nilai jual yang terbilang cukup rendah. Penelitian ini bertujuan untuk dapat membuat nilai biji kakao memiliki nilai tambah dari yang sebelumnya. Value added atau nilai tambah merupakan pertambahan nilai dari suatu produk. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menghitung nilai tambah adalah dengan metode hayami. Metode ini dapat digunakan untuk mengetahui nilai tambah dan untuk mengetahui nilai outputnya. Berdasarkan hasil penelitian dan perhitungan yang telah dilakukan, didapatkan bahwa untuk aktor petani produknya dapat memiliki nilai tambah sebesar 53,70% atau Rp 29.000,-, aktor pengepul desa sebesar 9,68% atau menjadi Rp 34.000, aktor pengepul kecamatan sebesar 5,88% atau menjadi Rp 36.000,-, aktor pedagang besar sebesar 6,49% atau Rp 40.000, dan pabrik sebesar 72,80% atau Rp 91.000 untuk cocoa powder dan 61,36% atau sebesar Rp 54.000 untuk cocoa butter. Berdasarkan hasil yang didapat, kelima aktor yang terlibat dalam industri kakao di Kabupaten Batang memiliki nilai tambah terhadap produknya masing masing. dan aktor yang memiliki nilai tambah terbesar adalah pabrik dengan rasio nilai tambah sebesar 72,80% dan 61,36%.