// <![CDATA[PENENTUAN INTERVAL WAKTU PENGGANTIAN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN KOMPONEN KRITIS MESIN SAND PLANT (Studi Kasus di Divisi Tempa dan Cor PT. PINDAD)]]> 0003025502 - Dr. Kusmaningrum Soemadi, Ir., MT Dosen Pembimbing 1 0410057301 - Fifi Herni Mustofa, S.T., M.T Dosen Pembimbing 2 Robbie S Soepian / 131998053 Penulis
PT. PINDAD merupakan salah satu industri yang memegang peranan penting dalam memproduksi berbagai produk militer dan komersial di Indonesia. Selama_ ini PT. PINDAD khususnya Divisi Tempa dan Cor telah menerapkan kebijakan perawatan mesin produksi, yakni: perawatan rutin (routine maintenance) sesuai dengan prosedur manual dan perawatan perbaikan (corrective maintenance) yang bertujuan untuk memperbaiki kerusakan yang telah terJadi. Perawatan rutin meliputi kegiatan pemeriksaan (inspection), pelumasan (lubrication), dan pembersihan (cleaning). Walaupun telah diterapkan kebijakan perawatan tersebut namun ongkos total perawatan yang harus dikeluarkan masih terlalu tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa kebijakan perawatan yang selama ini diterapkan perlu dikaji ulang agar diperoleh hasil yang lebih optimal, dalam hal ini ongkos total perawatan yang lebih rendah. Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk meminimalisir total ongkos perawatan adalah dengan menerapkan kebijakan penggantian pencegahan. Kebijakan penggantian pencegahan yang diterapkan harus mendapat dukungan dari bagian pengendalian persediaan, karena kegiatan penggantian pencegahan sering memerlukan penggantian komponen yang barns segera dipenuhi. Selama ini pengadaan komponen di PT. PINDAD khususnya Divisi TC dilakukan hanya berdasarkan pengalaman atau intuisi tanpa melalui prosedur yang sistematis. Untuk memecahkan permasalahan di atas maka dalam penelitian ini diusulkan suatu kebijakan penggantian pencegahan berupa penentuan interval waktu penggantian pencegahan (tp) komponen kritis yang optimal dengan kriteria minimasi ongkos total perawatan dan pengendalian persediaan berupa penentuan jumlah kebutuhan (D), ukuran pemesanan (Q*), titik pemesanan kembali (r*), dan besarnya cadangan pengaman (S) komponen kritis yang optimal dengan kriteria minimasi ongkos total persediaan. Dalam . tugas akhir ini dipilih mesin Sand Plant sebagai objek penelitian dengan mempertimbangkan faktor beban kerja dan harga mesin, sedangkan sebagai komponen kritis berdasarkan Diagram Pareto total biaya kerusakan terpilih Quick Conect Coupling, LCI-D12008, Seal Cylinder Sand Shot, Electric Contact Cleaner DR 150, V-Belt, dan Electrode Control Type PS-3S. Pengujian statistik terhadap waktu antar kerusakan tiap komponen kritis menunjukkan bahwa waktu antar kerusakannya berdistribusi Weibull dua parameter dengan nilai parameter beta untuk setiap komponen kritis lebih besar dari 1. Hal ini bila dikaitkan dengan Bath Tub Curve berarti pola kerusakan komponen berada pada fasa wear out dengan pola distribusi mendekati distribusi normal. Pada fasa wear out laju kerusakan meningkat seiring dengan bertambahnya waktu/umur komponen, sehingga kebijakan penggantian pencegahan tepat untuk dilaksanakan. Dengan menggunakan model Age Replacement untuk penggantian pencegahan dan dengan menggunakan model Q yang dikembangkan oleh Hadley Within untuk pengendalian persediaan didapat basil sebagai berikut: