// <![CDATA[USULAN TARIF RAWAT INAP RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH BANDUNG DENGAN MENGGUNAKAN METODA ACTIVITY BASED COSTING]]> 0424116602 - Dwi Novirani ST., MT. Dosen Pembimbing 2 0415016301 - Abu Bakar Ir.,MM. Dosen Pembimbing 1 Anggara Ajie Pamungkas / 132000052 Penulis
Rumah Sakit Muhammadiyah Bandung adalah salah satu bentuk: usaha jasa yang menyediakan layanan kesehatan. Salah satu layanan di rumah sakit tersebut adalah rawat inap (inpatienl). Salah satu pennasalahan yang terjadi di fasilitas Jayanan ini adalah mengenai tarif dari masing-masing ruang rawat inap yang tersedia, dimana tarif yang sudah berlaku saat ini bukan didasarkan dari basil perhitungan yang proporsional Yang dimaksud dengan tarif proporsional disini adalah tarif yang mengandung Harga Pokok Penjualan {HPP) yang proporsional Suatu HPP akan dikatakan proporsional apabila suatu unit dari pembentuk HPP menanggungg biaya yang memang dihasilkan sebagai akibat dari aktivitas unit tersebut. Metode activity-based costing merupakan suatu metode perhitungan harga pokok penjualan dengan dasar bahwa aktivitas lah yang menyebabkan biaya itu timbul, bukan produk, dan produklah yang mengkonsumsi aktivitas. Dalam sistem activity-based costing, biaya-biaya tidak langsung dapat ditentukan melalui aktivitas yang dilaluinya, dan biaya-biaya untuk masing-masing aktivitas tersebut kemudian dibebankan ke produk atas dasar konsumsi masing-masing produk pada aktivitas. Dengan demikian diharapkan metode activity-based costing akan mampu untuk mendapatkan solusi yang lebih baik dalam penentuan harga pokok produksi kedua jenis produk seragam tersebut. Tarif (Rp) (Selisih )Kelas Rumah metode Keterangan Sakit c~c (Rp/Kelas) ~ VIP Dewi Sartika Super 55Q,.~." l)-339.432 210.568 Over Costing VIP Dewi Sartika SQPXX>D 286.053 213.947 Over Costing VIPA 4.! ./ 450.000 173.206 276.794 Over Costing VIPB 400.000 163.764 236.236 Over Costing lA 250.000 172.342 77.658 Over Costing lB 175.000 159.183 15.817 Over Costing 2 125.000 74.597 50.403 Over Costing 3 65.000 78.916 ( 13.916) Under Costing Dari hasil perbitungan didapat kondisi yang terjadi didalam masing-masing ruang rawat inap, dimana kondisi yang terjadi yaitu, Undercosting dan Overcosting. Kedua kondisi ini dapat dijadikan masukan kepada pihak perusahaan sebagai bahan pertimbangan untuk menganalisis kondisi yang terjadi dan penentuan kebijakan selanjutnya di dalam layanan rawat inap. Adapun usaha perbaikan lainnya yang dilakukan adalah melakukan analisis pada aktivitas penyebab biaya, dimana langkah ini dilakukan agar kita bisa melakukan reduksi biaya pada bagian yang memungkinkan untuk dilakukan reduksi biaya. Langkah-langkah perbaikan yang dilakukan harus sesuai dengan kondisi nyata di lapangan, sehingga akan memperoleh hasil perbaikan yang maksimal.