// <![CDATA[PENERAPAN MODEL INTEGRASI SISTEM LOGISTIK TIGA ESELON DENGAN MEMPERHITUNGKAN JALUR TRANSPORTASI DI PT. TIRTA INVESTAMA - SUBANG]]> 0003025502 - Dr. Kusmaningrum Soemadi, Ir., MT Dosen Pembimbing 1 0410057301 - Fifi Herni Mustofa, S.T., M.T Dosen Pembimbing 2 RETNO INDRAYANTI/13-1999-166 Penulis
PT. Tirta Investama Subang merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi minuman, salah satu produk yang dihasilkan adalah air mineral merek AQUA dalam kemasan galon. Perusahaan ini memiliki distributor resmi yaitu PT. Tirta Utama Abadi yang bertanggung jawab terhadap proses distribusi untuk wilayah Bandung dan Jawa Barat, dan memiliki 4 depot di Bandung, salah satunya adalah Depot Gede Bage yang memiliki 16 pengecer. Adanya permintaan yang tinggi dari konsumen, membuat PT. Tirta Utama Abadi dan pengecemya sebagai subsistem distribusi perlu dapat meningkatkan mutu pelayanan kepada konsumen, salah satunya dengan menyediakan produk pada konsumen dalam jumlah, tempat dan waktu yang tepat. Oleh karena itu, perlu adanya penanganan sistem logistik dan sistem pendistribusian produk yang baik. Salah satu bentuk penanganan sistem logistik adalah penentuan interval pemesanan, jumlah tingkat persediaan maksimum serta persediaan cadangan (saftty stock) pada unit produksi, depot dan pengecer. Sedangkan penanganan sistem pendistribusian produk berupa penentuan rute pengiriman produk yang efisien dari depot ke pengecer yang memberikan ongkos transportasi yang minimum. Senator dan Sofitra [2001] mengembangkan model integrasi sistem logistik tiga eselon dengan memperhitungkan jalur transportasi guna menentukan interval pemesanan, tingkat persediaan maksimum, persediaan cadangan untuk setiap eselon, dan penentuan rute transportasi pengiriman produk. Hasil yang diperoleh berdasarkan penerapan model ini adalah sebagai berikut: a. Pada eselon unit produksi, waktu siklus produksi sebesar 2,8 hari, tingkat persediaan maksimum sebesar 29.102 unit, dan safety stock sebesar 5.936 unit. Sedangkan biaya operasi unit produksi didapat sebesar Rp 299.424,10. b. Pada eselon depot,waktu siklus depot sebesar 0,9405 hari, tingkat persediaan maksimum sebesar 15.003 unit, dan safety stock sebesar 4.081 unit. Sedangkan biaya operasi depot didapat sebesar Rp 242.149,51. c. Pada eselon pengecer, waktu siklus pengecer sebesar 0,4703 hari, sedangkan tingkat persediaan maksimum dan saftty stock untuk masing-masing pengecer