// <![CDATA[PENINGKATAN KUALITAS PRODUK BULB REISTER MENGGUNAKAN METODE SIX SIGMA (Studi Kasus di PT. Abadi Nusa Usaha Semesta)]]> 0422117502 - Rispianda , S.T., M.T., M.Phiil. Dosen Pembimbing 2 9900980216 - Ambar Rukmi Harsono Ir., M.T. Dosen Pembimbing 1 Ririn Driani/1397050 Penulis
PT. Abadi Nusa Usaha Semesta adalab perusabaan yang bergerak di bidang industry manufaktur yang menghasilkan alat-alat kesehatan yang digunakan oleh manusia. Akan tetapi, jumlah produk cacat yang dihasilkan PT. Abadi Nusa Usaha Semesta cukup besar, kurang lebib 20%. Karena itu, perusahaan akan meminimasi jumlah cacat melalui perbaikan proses produksi dan agar kualitas produk yang telah dicapai perusahaan tidak menurun maka program perbaikan harus dilakukan terus menerus. Six Sigma merupakan metodologi program peningkatan kualitas yang dilakukan secara terus menerus atau berkesinambungan. Tabapan inti Six Sigma adalab Define, Measure, Analyze, Improve, dan Control. Tahap define adalab tahap pendefinisian. Pada tabap define ditentukan produk yang menjadi objek penelitian adalab produk Bulb Riester karena produk Bulb adalab produk yang paling banyak mengalami kegagalan dibandingkan dengan produk Tubbing dan Bag. Selain itu produk Bulb Riester adalah jenis Bulb yang hampir selalu diproduksi oleh perusabaan pada tiap periode produksi. Pada tabap define diketahui babwa cacat pada produk telah diidentifikasi menjadi 17 jenis cacat produk. Tahap measure adalab tahap pengukuran. Pada tahap ini telah ditentukan 10 jenis cacat produk sebagai critical-to-quality (CTQ) kunci karena 10 jenis cacat tersebut memiliki potensi menyebabkan kegagalan. Pada tahap measure dilakukan pengukuran kinerja perusahaan saat ini untuk ditetapkan sebagai baseline kineija pada awal proyek Six Sigma. Ukuran kinerja perusahaan dilihat dari nilai defect per million opportunities (DPMO) dan nilai sigma. Adapun ukuran kinerja perusahaan saat ini adalah DPMO sebesar 11.007,10 dan nilai sigma sebesar 3,79. Tahap ketiga adalah tahap Analyze yaitu tahap analisis. Pada tahap ini dilakukan analisis terbadap proses produksi dan diketabui babwa proses produksi yang dilakukan terkendali, proporsi cacat pada produk masih dalam batas kendali. Selain itu dilakukan analisis dengan menggunakan Pareto dan diketahui bahwa 80% CTQ potensial menimbulkan kegagalan adalab jenis cacat badan keriput, sobek badan dee ping, kotor, sobek badan peeling dan sobek mulut. Dikarenakan perbedaan faktor penyebab, jenis cacat sobek badan deeping, kotor, sobek badan peeling dan sobek mulut teijadi karena faktor bahan baku dan manusia, sedangkan jenis cacat keriput terjadi karena faktor metode kerja maka jenis cacat keriput dinyatakan sebagai CTQ potensial yang paling besar atau paling tinggi menimbulkan kegagalan. Dan dari hasil analisis diagram fishbone dan RPN (Risk Priority Number) diketahui faktor yang paling beresiko menyebabkan terjadinya jenis cacat keriput pada pembuatan produk Bulb Riester adalab faktor metode kerja. Tahap Improve adalah tahap perbaikan. Pada tahap ini dilakukan Perancangan Eksperimen (Design of Experiment) untuk mengetahui setting optimal agar jumlah produk cacat yang dihasilkan berkurang. Adapun jumlab faktor dan jumlah level yang digunakan untuk kombinasi eksperimen adalah 2 sebingga jumlab kombinasi eksperimen adalah 4. Dan replikasi yang dilakukan adalab 9 kali maka jumlah eksperimen yang adalah 36 kali eksperimen. Dan hasil dari Perancangan Eksperimen adalab setting optimal yaitu pemanasan produk selama 4 jam dan temperatur pemanasan sebesar 80 °C. Tahap terakhir adalah tabap Control. Pada tabap ini akan didokumentasikan prosedur pedoman kerja hasil peningkatan kualitas untuk mencegah digunakannya kembali cara-cara kerja yang lama sehingga masalah yang sama tidak muncul kembali. Hasil kesimpulan dari penelitian Tugas Akhir ini adalah jenis cacat produk yang paling potensial menyebabkan timbulnya cacat adalah jenis cacat keriput yang terjadi diproses vulkanisasi, setting kondisi optimal untuk mendapat cacat yang minimum adalah waktu pemanasan produk selama 4 jam dan temperatur pemanasan sebesar 80 °C serta ukuran performansi proses produksi meningkat dari nilai DPMO sebesar 11.007,10 dan nilai sigma sebesar 3, 79 menjadi nilai DPMO sebesar 6.210,89 dan nilai sigma sebesar 4,00.