// <![CDATA[PENERAPAN METODE SIX SIGMA DALAM UPAYA PENINGKATAN KUALITAS PEMBUATAN PRODUK TRANSFORMATOR BALLAST DOMESTIK TIPE TS-220 (Studi Kasus di PT. Nikkatsu Elctric Works)]]> Drs. Hari Adianto, MT. Dosen Pembimbing 1 0410057301 - Fifi Herni Mustofa, S.T., M.T Dosen Pembimbing 2 Debbie Triyane Putri/13-2000-258 Penulis
Persaingan yang semakin ketat dalam dunia industri mengharuskan para pelaku industry berlomba untuk meningkatkan kualitas produk baik produk jadi maupun work in process. PT. Nikkatsu Electric Works merupakan perusahaan yang memproduksi alat-alat listrik seperti Transformator Ballast, Transformer dan Lighting Fixture, yang memiliki visi berupaya menghasilkan produk yang berkualitas dengan harga bersaing dan menguasai pasar domestic dan Asia. Pennasalahan yang dihadapi perusahaan dalam proses produksi khususnya Transformator Ballast Domestik Tipe Ts-220, cacat yang terjadi di setiap stasiun kerja sulit untuk dihindarkan dan menurut perusahaan masih dalam frekuensi yang tinggi yaitu hingga 30%. Perusahaan menyadari bahwa cacat tidak dapat dihilangkan, akan tetapi dapat diminimasi dalam upaya peningkatan kualitas. Oleh karena itu perusahaan menginginkan adanya perbaikan terhadap proses produksi melalui peningkatan kualitas. Selain itu perusahaan ingin mengetahui akar masalah penyebab terjadinya cacat produk yang diikuti dengan pengimplementasian tahap perbaikan dan pengendaliannya. Untuk mengetahui dan menganalisis penyebab dari variasi yang terjadi serta dalam usaha meningkatkan kapabilitas proses, maka perusahaan hams menerapkan suatu program peningkatan kualitas yang berkesinambungan. Salah satu metode peningkatan kualitas untuk mengatasi permasalahan diatas adalah metode Six Sigma. Tahapan-tahapan dalam Six Sigma mengikuti suatu pola siklus Define-Measure-Analyze-Improve-Control (DMAIC). Dari pengumpulan data frekuensi dan jenis cacat pada proses pembuatan Transformator Ballast Domestik Tipe Ts-220 didapatkan lima staSiun kerja yang dilaluinya antara lain: winding, welding, assembling, oven dan packing. Berdasarkan penentuan stasiun kerja kritis yang dilakukan melalui diskusi dengan pihak perusahaan, frekuensi munculnya jenis cacat dan biaya yang dikeluarkan akibat produk cacat tersebut maka diperoleh bahwa stasiun kerja welding menjadi fokus penelitian. Pada stasiun kerja welding terjadi beberapa jenis cacat antara lain: tinggi, rendah, short, putus, kawat kotor, welding pecalt, welding tipis, welding bolong, core miring, dan core karat. Dengan menggunakan diagram pareto didapatkan welding bolong merupakan kontributor terbesar sehingga perbaikan dilakukan terhadap penyebab-penyebab welding bolong untuk meminimasi jumlah cacat tersebut sehingga bisa menaikkan nilai Sigma dan menurunkan nilai DPMO (Defect Per Million Opportunities).