// <![CDATA[USULAN PENERAPAN MODEL OPTIMASI INTEGRAL SISTEM RANTAI NILAI 3 ESELON DALAM PERENCANAAN DISTRIBUSI DI PT.SEMEN PADANG]]> 0415016301 - Abu Bakar Ir.,MM. Dosen Pembimbing 1 0425107701 - Hendro Prassetiyo, S.T., M.T. Dosen Pembimbing 2 Siska Yulia Ningsih / 131998101 Penulis
PT. Semen Padang merupakan pabrik semen tertua di Indonesia yang didirikan pada tanggal 18 Maret 1910. Saat ini memiliki empat pabrik yang aktif, yaitu Indarung II, lndarung ill, Indarung IV, dan Indarung V. Daerah pemasaran PT. Semen Padang hampir meliputi seluruh wilayah Indonesia, dengan wilayah perwakilan terdapat diseluruh wilayah, yaitu Padang, Medan, Jambi, Pekan Baru, Rantau Prapat, Bagan Batu, Lampung, Batam, Jakarta dan Semarang. Sedangkan untuk ekspor baru untuk daerah Asia. Permasalahan yang timbul di PT. Semen Padang adalah sering terjadinya kekurangan barang di beberapa wilayah perwakilan, dan terjadinya penumpukan barang di beberapa wilayah perwakilan yang lain. Oleh sebab itu perlu dilakukan pengaturan aliran barang yang diminta dari konsumen agar tingkat pelayanan memadai dan ongkos operasi yang dikeluarkan minimal, dengan tetap memperhatikan keterkaitan antara subsistem produksi dan subsistem distribusi. Karena itu perlu dilakukan perencanaan distribusi yang baik yang dalam perencanaannya melibatkan semua subsistem yang berpengaruh pada kegiatan pendistribusian semen Padang, yaitu subsistem produksi dan subsistem distribusi. Senator Nur Bahagia [ 1999] mengembangkan suatu model yang melakukan pengaturan aliran produk dari produsen ke konsumen dengan penentuan ukuran lot produksi optimal pada subsistem produksi dan perencanaan penentuan kebijakan persediaan barang yang ada pada subsistem distribusi. Dalam model ini Senator Nur Bahagia membagi sistem ke dalam 3 eselon, terdiri dari unit produksi, depot, dan retailer. Pada model ini retailer harus memperoleh barang dari depot. Kemudian model ini dikembangkan oleh Jimmy Ricky Nelson [2001], sistem tetap terdiri dari 3 eselon, tetapi yang membedakannya adalah bahwa retailer tidak harus disupply dari depot saja, tetapi dapat disupply langsung oleh unit produksi. Perencanaan persediaan barang pada subsistem distribusi dilakukan dengan penentuan frekuensi pemesanan dari wilayah perwakilan (retailer) ke unit produksi dan penentuan kuantitas pemesanannya yang akan memberikan ekspektasi total ongkos operasi yang minimum. Hasil perhitungan yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Pada eselon produksi, ukuran lot produksi optimal Qo* adalah sebesar 47,767.91 ton, ini berarti bahwa siklus tunggalnya (T) adalah 0.01352 dalam 1 tahun. Atau sama dengan 0.01352 x 365 hari kerja = 4.6644 hari. 2. Pada wilayah perwakilan hasil selengkapnya dapat ditunjukkan pada tabel berikut : Rekapitulasi Hasil Perhitungan Noj, Qj, R. pada Wilayah Perwakilan No. Wilayah Perwakilan Noj Qj Rj 1 Padang 21.14 557.59 411.16 2 Medan 4.75 1,852.55 7,725 .01 3 Jambi 3.30 705 .11 1,354.02 4 Pekan Baru 5.04 1,471.42 3,534.15 5 Rantau Prapat 1.52 368.68 668.41 6 Bagan Batu 1.31 299.16 156.56 7 Lampung 2.22 617.79 1,320.63 8 Batam 3.73 1,127.73 4,161.81 9 Jakarta 4.81 1,917.24 7,730.10 10 Semarang 2.35 715 .97 2,748.75 Minimasi, C = Cwp + Cdist + Cpro + Ctran = Rp 232,578,241 + 0 + Rp 1,649,433,522 + Rp 267,548,711 ,681 = Rp 269,430,723,400