// <![CDATA[SARANA DUDUK MASINIS KERETA KOMUTER :]]> RENDY HIMAWAN / 32.2004.017 / DP Penulis Dedy Ismail, S.Sn. Drs. Suyitno, MM.
Percepatan pembangunan telah memunculkan pola beraktivitas baru bagi masyarakat, khususnya daerah perkotaan. Salah satu bentuk lapisan masyarakat baru yang terbentuk dengan pola pembangunan yang sentralistik adalah komuter. Komuter ialah lapisan masyarakat yang melakukan perjalanan rutin dari tempat tinggal menuju tempat beraktivitas. Dalam melakukan perjalanan lajuannya, muncul beberapa alternatif moda transportasi yang dapat digunakan. Salah satu bentukmoda transportasi tersebut adalah kereta komuter. Kereta komuter merupakan kereta yang melayani kebutuhan mobilitas komuter, terutama pada saat jam puncak (antara pukul 06.00-09.00 dan 15.00-18.00). Di daerah Jabodetabek, kereta komuter diwakili oleh keberadaan Kereta Rel Listrik (KRL). KRL Jabodetabek melayani komuter yang beraktivitas di ibukota Jakarta, dari daerah-daerah satelit di sekitarnya, seperti: Depok, Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Serpong. KRL tersebut rata-rata merupakan gubahan atau modifikasi dari KRL produksi Belgia, Jepang, dan Kanada. Sementara, untuk produsen dalam negeri diwakili oleh PT INKA, dengan menggunakan mesin propulsi listrik buatan Belgia atau Jepang. Pengoperasian kereta komuter dilakukan oleh seorang masinis. Masinis merupakan operator kereta yang bertanggung jawab terhadap perjalanan kereta secara keseluruhan. Dalam kereta komuter, masinis bekerja dalam kabin khusus yang diperlengkapi dengan peralatan kendali operasi dan sistem indikasi. Salah satu sarana kerja masinis dalam kabin adalah sarana duduk, sebagai tempatmasinis dalam mengoperasikan kendali kereta. Kerja yang dilakukan masinis merupakan kerja berat, yang menuntut tingkat kecermatan dan keakurasian dalam mengambil keputusan. Interaksi yang dlakukan masinis tidak hanya terbatas pada kabin kerja beserta instrumen kendalinya, tetapi juga dengan stasiun/shelter yang menjadi tempat pemberhentian kereta. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa aktivitas yang dilakukan masinis sangat kompleks. Karena berbagai tuntutan tersebut, faktor kewaspadaan merupakan faktor esensial dalam perancangan instrumen kerja yang terkait dengan profesi masinis.