MODEL OPTIMISASI PENENTUAN UKURAN LOT PRODUKSI DENGAN MEMPERTIMBANGKAN PROBABILITAS KEGAGALAN PRODUKSI
Model penentuan ukuran lot produksi telah diteliti dalam lingkup kajian yang sangat luas. Salah satu lingkup kajian yang membahas masalah penentuan ukuran lot produksi yaitu Model Economic Production Quantity (EPQ) klas ik. Model EPQ klasik merupakan model yang berpijak pada asumsi bahwa kinerja sistem produksi berjalan sempuma dan stabil. Menurut Tersine (1994), dalam proses produksi yang sempuma dan stabil tersebut, sejumlah lot produk yang dihasilkan akan memenuhi spesifikasi mutu. Pada kondisi nyata, proses produksi tidak selalu berjalan sempurna dan stabil sehingga terdapat kemungkinan dihasilkan produk gagal dalam setiap proses produksi. Banyaknya produk gagal yang dihasilkan di setiap run produksi akan mempengaruhi ukuran lot yang akan diproduksi berdasarkan jumlah demand yang masih harus dipenuhi. Adanya produk gaga! akan mengakibatkan timbulnya biaya reject yang akan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya umur mesin. Dalam penelitian ini dikembangkan model optimisasi penentuan ukuran lot produksi dengan mempertimbangkan probabilitas kegagalan produksi. Model dikembangkan dengan menggunakan formulasi pemrograman dinamis dan kebijakan optimal diperoleh dengan meminimumkan total biaya keputusan selama perioda perencanaan terbatas. Pada penelitian ini yang menjadi variabel keputusan (x,) adalah jumlah yang diproduksi. Jumlah produk gagal yang dihasilkan di setiap run produksi dipengaruhi oleh probabilitas kegagalan (percenl defective), dimana probabilitas kegagalan tersebut akan semakin meningkat di setiap run produksi. Solusi optimal yang diperoleh dinyatakan oleh jumlab yang diproduksi. sehingga pembatas yang harus dipenuhi adalah jumlah demand berdasarkan kapasitas produksi yang tersedia. input data dari model yang dikembangkan terdiri dari dua set data. yaitu set data I dan set data 2. Input data dari model tersebut adalah jumlah demand (D), kapasitas produksi di setiap run produksi 1 (K,), laju kenaikan probabilitas produk gaga I (i), probabilitas terjadinya produk gagal di run produksi nol ( P.:o ), biaya produksilunit (c1) . biaya setup (c2), biaya simpan/unit (c3), biaya reject/unit (c4), dan biaya penalti/unit (cs). Perbedaan antara set data 1 dan set data 2 yaitu terletak pada kapasitas produksi. Untuk set data I, kapasitas produksi lebih kecil dari jumlah demand (K,
di tahap t (Ct) sehingga dapat dinyatakan oleh fungsi rekursif sebagai berikut:
C, (sl'x, ) = { (CP)+ (CH)+ (c2 ) }+ {cl+,· (sl+1)}
~ { (CP)+ (CH)+(c, ) }+{~~. x (t;.,· (s,.,))+ (1- P. )x x, x c.l}
Analisis terhadap model yang dihasilkan menunjukkan karakteristik solusi optimal dan kepekaan terhadap sejumlah parameter model, yaitu biaya produksi unit, biaya selllp, biaya simpan/unil, biaya reject/unit, dan biaya penalti/ unit. Kepekaan model terhadap sejumlah parameter ditunjukkan dengan berubahnya solusi optimal berdasarkan tingkat kenaikan biaya yang ditunjukkan oleh tabel berikut ini.
Detail Information
Citation
APA Style
. (2006).MODEL OPTIMISASI PENENTUAN UKURAN LOT PRODUKSI DENGAN MEMPERTIMBANGKAN PROBABILITAS KEGAGALAN PRODUKSI ().Teknik Industri:FTI
Chicago Style
.MODEL OPTIMISASI PENENTUAN UKURAN LOT PRODUKSI DENGAN MEMPERTIMBANGKAN PROBABILITAS KEGAGALAN PRODUKSI ().Teknik Industri:FTI,2006.Text
MLA Style
.MODEL OPTIMISASI PENENTUAN UKURAN LOT PRODUKSI DENGAN MEMPERTIMBANGKAN PROBABILITAS KEGAGALAN PRODUKSI ().Teknik Industri:FTI,2006.Text
Turabian Style
.MODEL OPTIMISASI PENENTUAN UKURAN LOT PRODUKSI DENGAN MEMPERTIMBANGKAN PROBABILITAS KEGAGALAN PRODUKSI ().Teknik Industri:FTI,2006.Text