// <![CDATA[USULAN RANCANGAN TATA LETAK PRODUK BERDASARKAN METODE MARKET BASKET ANALYSIS]]> Ir. Yuniar, MT. Dosen Pembimbing 1 BILLY RAJA PRANANTA/13-2001-084 Penulis Ir. Susy Susanty Dosen Pembimbing 2
Ritel merupakan salah satu industri paling dinamis dan sedang berkembang dewasa ini. Kondisi sosial, ekonomi, demografi, dan perubahan gaya hidup serta situasi kompetitif yang semakin lama meningkat adalah faktor-faktor yang menyebabkan teijadinya pergeseran dalam tema dan konsep industri ritel. Oleh karena itu, seiring dengan perubahan keadaan ekonomi, pemilik dan pengelola pusat perbelanjaan harus mampu mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi di dalam pasar dan dengan tanggap mampu mengadaptasikannya. Dengan mengenal dan memahami perilaku konsumen, pengusaha akan mendapatkan informasi-informasi yang dapat dijadikan acuan untuk memahami dan menganalisis kebutuhan-kebutuhan konsumen serta mengetahui pola perilaku betanja konsumen. Perilaku konsumen dalam melakukan proses pembelian merupakan hal yang penting untuk diperhatikan dan dipahami dalam menentukan hubungan kedekatan (asosiasi) diantara kelompok-kelompok produk untuk penyusunan tata letak produk. Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah dihasilkan suatu usulan rancangan tata letak produk toko sesuai dengan pola perilaku belanja konsumen. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk menganalisis pola perilaku belanja konsumen adalah dengan menggunakan metode market basket analysis. Market basket analysis merupakan suatu metode pemasaran yang digunakan untuk menentukan produk apa saja yang biasanya dibeli secara bersamaan oteh konsumen. Data yang digunakan berasal dari database transaksi penjualan yang dimiliki oleh supermarket yang diolah dengan proses penambangan data dengan menggunakan algoritma apriori. Algoritma apriori menghasilkan suatu bentuk aturan hubungan antar produk X => Y (konsumen yang membeli produk X juga seringkali membeli produk Y) dengan mengukur tingkat kepercayaan menggunakan minimum support, minimum confidence, dan minimum improvement sebagai pembatas tingkat kepercayaan aturan-aturan hubungan antar produk. Dari ± 14.000 propuk berbeda yang dibagi ke dalam 4 divisi yang ada pada supermarket, kemudian dilakukan proses generalisasi produk (penggabungan tingkatan hirarki produk) berdasarkan kesamaao karakteristik produk yang menghasilkan 20 item (kelompok produk). Item-item tersebut digunakan sebagai bahan analisis kedekatan antar item untuk rnenghasilkan aturan-aturan hubungan antar produk dengan menggunakan proses penambangan data Dari 38 buah aturan hubungan antar produk yang dihasilkan dapat diidentifikasi adanya 4 kelompok produk yang saling berhubungan, yaitu: 1. Spices, seasoning & cake make, cooking oil, canned, instant & dry food, beras, gula, tepung & kacang, dan mie & pasta. 2. Lauk pauk & bakery dan sayur, buah & telur. 3. Oral care dan body care. 4. Paper product dan hair care. Selanjutnya aturan-aturan hubungan antar produk yang telah dihasilkan, diinterpretasikan ke dalam proses penyusnnan rancangan tata letak produk, dimana untuk item-ilem yang mempunyai hubungan dialokasikan secara berdekatan. Hasil rancangan tersebut diharapkan dapat memberikan kemudahan konsumen dalam proses pencarian barang yang akan dibeli.