// <![CDATA[ANALISIS KELAYAKAN PENAMBAHAN ARMADA ANGKUTAN KOTA]]> Ir. Lisye Fitria, MT. Dosen Pembimbing 2 KURNIA HERMAWAN/13 - 2000 - 019 SETIARDI Penulis Ir. Yanti Helianty Dosen Pembimbing 1
Salah satu sarana transportasi massal yang mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat kota Bandung adalah angkutan kota bertrayek skala pendek, atau biasa disebut dengan angkot. Tata transportasi angkot Kota Bandung diatur berdasarkan ijin kepemilikan dan pengusahaan (ijin trayek) yang dikeluarkan oleh PEMKOT Bandung dengan jumlah unit kendaraan terbatas pada masing-masing jalur trayek. Penentuan jumlah unit kendaraan pada suatu jalur trayek diatur oleh S.K Walikota Bandung. Saat ini P.A Minas merencanakan untuk melakukan penambahan satu buah armada dengan cara membeli ijin trayek dari 2 altematif jalur trayek yaitu: altematif A (St. Hall - Sarijadi) dan Altematif B (Sarijadi - Ciroyom). Pembelian ijin trayek dilakukan pada kondisi kendaraan dengan tahun pembuatan di bawah 1997. Kendaraan lama kemudian diremajakan ke dealer diganti dengan kendaraan baru tahun pembuatan 2007, dengan ijin trayek tetap. Namun dengan melihat kondisi perekonomian Indonesia saat ini, terutama sejak adanya dua kali kenaikan BBM oleh pemerintah dan adanya indikasi berkurangnya masyarakat yang menggunakan angkot sebagai sarana transportasi, membuat pengusaha P.A Minas merasa perlu untuk membuat suatu kajian studi kelayakan bisnis terhadap rencana penambahan armada tersebut. Proses analisis kelayakan dilakukan pada aspek pasar, teknis, legal dan sosial-ekonomi serta aspek finansial. Hasil dari analisis keseluruhan aspek kelayakan menunjukkan bahwa usaha penambahan armada di kedua altematif jalur trayek layak untuk dilaksanakan. Karena kedua altematif jalur trayek layak untuk dipilih, maka proses pemilihan jalur trayek dilakukan dengan cara incremental rate of return analysis (L\ROR). Hasil analisis menunjukkan bahwa altematif yang terpilih adalah altematif A (St. Hall - Sarijadi) dengan nilai NPV sebesar Rp. 38.378.314,-, payback periode pada tahun ke 4,70 dari umur proyeksi 10 tahun, dan IRR sebesar 17,42%. Berdasarkan basil analisis sentivitas pada jalur trayek terpilih untuk mengetahui kemungkinan tetjadi kondisi penurunan pendapatan dan kenaikan total biaya operasional, diketahui bahwa maksimum penurunan pendapatan adalah sebesar 39,7% dan maksimum kenaikan total biaya operasional adalah sebesar 173,6%. Apabila perubahan yang terjadi melebihi batas maksimumnya maka usaha penambahan armada dengan altematif trayek terpilih St. Hall - Sarijadi menjadi tidak layak untuk dilaksanakan.