// <![CDATA[ANALISIS BIAYA KUALITAS UNTUK EFISIENSI BIAYA PADA PEMBUATAN ULTRA MILK CHOCOLATE (Studi Kasus di PT. Ultrajaya Milk Industry & Trading Company, Tbk.)]]> 0430127601 - Arie Desrianty S.T., M.T. Dosen Pembimbing 2 9900980216 - Ambar Rukmi Harsono Ir., M.T. Dosen Pembimbing 1 ASTI ASTARI PUTRI EDDYAT IYAS/13-2001-186 Penulis
Saat ini PT. Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk. terus melakukan quality campaign dalam usaha mempertahankan dan meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan. Pcnelitian dilakukan pada pembuatan Ultra Milk Chocolate yang mengalami pcningkatan biaya dari tahun ke tahun. Hal tersebut dikarenakan perusahaan belum memperhitungkan segala factor biaya dalam hubungannya dengan fungsi pengendalian kualitas, sehingga menyebabkan biaya kualitas tidak terkendali yang dapat mengakibatkan biaya menjadi tidak efisien. Pada penelitian ini dilakukan identifikasi, pengukuran, dan analisis biaya kualitas dengan mcmperhitungkan setiap kategori elemen-elemen biaya kualitas. Dari basil perhitungan biaya kualitas didapatkan biaya kegagalan internal (internal failure cost) merniliki presentase tertinggi dari biaya kualitas total yaitu sebesar 93,163%. Kemudian selanjutnya biaya biaya pencegahan (prevention cost) yaitu sebesar 4,382%. Sedangkan biaya dengan presentase terendah yaitu biaya penilaian (appraisal cost) sebesar 2,455%. Tingginya biaya kegagalan internal (internal failure cost) disebabkan masih banyaknya produk scrap dan produk rework yang dihasilkan perusahaan, sehingga hal tersebut menjadi prioritas untuk dilakukan analisis identifikasi penyebab kegagalan. Produk rework tetjadi jika produk Ultra Milk Chocolate mengalami cacat tetapi masih dapat dilakukan perbaikan dengan melakukan pengulangan proses sterilisasi dan pengemasan. Produk scrap tetjadi jika produk Ultra Milk Chcoolate mengalami cacat dan sudah tidak dapat diperbaiki kembali. Presentase biaya rework terhadap biaya kegagalan internal (internal failure cost) yaitu sebesar 55,3%. Presentase biaya scrap terhadap biaya kegagalan internal (internal failure cost) yaitu sebesar 42,957%. Dengan menggunakan diagram pareto dilakukan identifikasi biaya kualitas yang akan diprioritaskan untuk dikendalikan yaitu: (1) volume produk yang tidak sesuai, (2) susu basil proses pencampuran tidak memenuhi standarisasi, dan (3) terjadi kebocoran pada kemasan. Sedangkan untuk produk scrap yang diprioritaskan untuk dikendalikan yaitu: (1) terjadi penggembungan kemasan, timbulnya perup,ahaQftllVour dan rasa asam, (2) umur simpan produk tidak sesuai, dan (3) adanya bau warna, dan rasa yang tidak sesuai. Diagram sebab-akibat digunakan dalam mengidentifikasi penyebab biaya kualitas tertinggi dengan cara membuat rangka tulang ikan yang terdiri dari faktor-faktor yang menyebabkan produk mengalami kegagalan. Setelah identifikasi kemudian dilakukan verifikasi untuk mencari penyebab utama yang paling berpengaruh dengan menggunakan Scatter Diagram dan Risk Priority Number. Dengan mengetahui penyebab utama dari setiap karakteristik cacat, maka usulana perbaikan dapat diberikan. Penyebab utama untuk cacat terjadi penggembungan kemasan, timbulnya perubahan flavour, dan rasa asam yaitu adanya pertumbuhan bakteri termofilik, maka usulan perbaikannya adalah dengan memperhatikan pengaturan suhu pada setiap tahapan proses pendinginan harus dilakukan sesuai prosedur. Penyebab utama untuk cacat umur simpan produk tidak sesuai yaitu stabilitas emulsi susu tidak dapat bertahan lama, maka usulan perbaikannya adalah memperhatikan proses homogenisasi melalui pengaturan suhu, waktu, dan tekanan yang sesuai. Penyebab utama untuk cacat adanya bau, warna, rasa yang tidak sesuai yaitu keaktifan enzim lipase yang tidak semestinya, maka usulan perbaikannya adalah meningkatkan faktor kebersihan yaitu pencucian Plate Heat Exchanger secara benar. Penyebab utama untuk cacat susu basil proses pencampuran tidak memenuhi standarisasi yaitu kesalahan pelaksanaan CIP (Cleaning In Place), maka usulan perbaikannya adalah memperbatikan prosedur CIP dan melaksanakannya dengan benar. Penyebab utama untuk cacat volume produk tidak sesuai yaitu kesalahan pada setting mesinfilling, maka usulan perbaikannya adalah melakukan training ulang pada operator mesinfilling. Penyebab utama untuk cacat terjadi kebocoran pada kemasan yaitu gesekan pada lintasan conveyor, maka usulan perbaikannya adalah memberi tambahan alat untuk mcnyangga antara produk dan conve-yor serta pemberian pelumas secara teratur.