// <![CDATA[EVALUASI KETIDAKRATAAN BENANG BERDASARKAN PERFORMANSI MESIN (Studi Kasus :]]> Diana Susanty/13-2001-074 Penulis Prof Dr. Harsono Taroepratjeka Dosen Pembimbing 1 Lisye Fitria Ir. MT Dosen Pembimbing 2
PT. Grand Textile Industry Bandung (PT. Grandtex) merupakan salah satu perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang textile yang membuat kain denim, benang cotton 100%, dan benang blended (benang campuran dari 2 macam serat yaitu serat alami dan serat buatan). Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kerataan benang antara lain thin (benang tipis), thick (benang tebal), neps (butiran-butiran pada benang), maupun massa dari benang. Ketidaksamaan persepsi antara bagian QC dan lantai produksi mendorong untuk dilakukannya evaluasi ketidakrataan benang berdasarkan performansi mesin sebagai salah satu penyebab banyaknya putus benang di mesin Open End (OE). Untuk meminimasi jumlah putus benang akibat adanya ketidakrataan benang, diperlukan evaluasi terhadap komponen/bagian-bagian spindel yang berinteraksi langsung dengan material yang diduga sebagai salah satu penyebab timbulnya ketidakrataan benang. Antara lain condensor, feed tray, feed roll, combing roll, channel plate, rotor, doff tube. navel, supporting disc, oli and wick, dan brake shoe. Dalam penyelesaian permasalahan ini, dikumpulkan data-data berupa data unevenness ( U%). coefisien variasi ( CV%), thin, thick, neps ; data laporan bulanan kualitas benang OE CD 10 CL & OE CD 16 CL: data putus benang OE CD 10 CL & OE CD 16 CL ; dan data pengontrolan laporan informator mesin no. l2 & no. l4. Ke empat data diatas saling berkaitan dan saling mendukung dimana semakin besar nilai U%, CV%, thin, thick, dan neps maka semakin jelek kerataan benang (kualitas benang jelek) dan sebaliknya. Dari data laporan bulanan kualitas di mesin OE terlihat kualitas benang OE CD 10 CL lebih jelek karena didukung oleh data rata-rata berat efektif yang berada di bawah standar, nilai CV% yang jelek, rata-rata twist berada di bawah standar, dan rata-rata putus benang/200 spindel/jam berada jauh di atas standar yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Dari data putus benang terlihat bahwa data putus bcnang OE CD 10 CL jauh lebih banyak dibandingkan dengan OE CD 16 CL sehingga berdampak pada penurunan jumlah produksi per hari dan efisiensi mesin menjadi turun . Dari data pengontrolan laporan informator mesin no. l2 & no.14 terlihat kualitas benang OE CD 10 CL sangat jelek sesuai dengan laporan informator. Cacat dapat dideteksi jika sliver sudah dipintal menjadi benang di mesin OE. Sliver tidak sepenuhnya dapat dijadikan ukuran ketidakrataan benang, dan proses pembentukan benang tidak dapat diamati secara kasat mata. Oleh karena itu, analisis lebih menguraikan komponen/lbagian-bagian spindel yang berinteraksi langsung dengan material yang diduga sebagai salah satu penyebab timbulnya ketidakrataan benang dan data-data kualitas yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Hasil kesimpulan dari penelitian Tugas Akhir ini adalah memberikan usulan-usulan perbaikan mengenai performansi mesin untuk meminimasi frekuensi putus benang di mesin OE, antara lain pembersihan komponen dari penumpukan kotoran (fly waste, debu halus, serat-serat asing yang menempel) lebih maksimal, jangan pernah terlambat mengganti spare part mesin yang berinteraksi langsung dengan material dan mengadakan frekuensi pemeriksaan sesering mungkin seperti condensor, feed tray, feed roll, combing roll, channel plate, rotor, doff tube, navel, supporting disc, brake shoe, oli and wick, tingkatkan kebersihan mesin menggunakan angin compressor dan jalur pembuangan trash (kotoran), tingkatkan kerja blower, AC diatur kembali, material yang banyak mengandung kotoran jangan dipakai lagi.