// <![CDATA[URUTAN PRIORITAS PERBAIKAN KEGAGALAN BEDASARKAN METODE FAILURE MODE EFFECT ANALYSIS (FMEA) DAN METODE GREY]]> Ir. Yuniar, M.T. Dosen Pembimbing 1 SATYA ARGO BAGASKORO / 132019023 Penulis
FMEA adalah teknik yang digunakan untuk meningkatkan keandalan dan keamanan suatu proses dengan cara mengidentifikasi potensi kegagalan atau disebut modus kegagalan pada proses tersebut. Setiap modus kegagalan akan dinilai menggunakan tiga parameter, yaitu keparahan (severity - S), kemungkinan terjadinya (occurrence - O), dan kemungkinan kegagalan deteksi (detectability - D). Ketiga parameter itu kemudian digabungkan, gabungan dari tiga parameter tersebut dikenal dengan Angka Prioritas Risiko (Risk Priority A Number - RPN) (Alijoyo dkk, 2020). Prioritas perbaikan produk menggunakan metoda FMEA dapat menghasilkan nilai RPN yang sama dengan nilai S,O,D berbeda yang menyebabkan terjadinya kesulitan dalam menentukan urutan prioritas. Metode fuzzy grey menjadi metode pendekatan lain yang dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan penentuan urutan prioritas jika nilai RPN sama. Pada penelitian ini akan digunakan data hasil penelitian Putra (2010) yang menggunakan FMEA konvensional. Penggunaan metode grey dapat menentukan bobot yang berbeda untuk tiap faktor sehingga dapat mengatasi kelemahan metode FMEA tradisional untuk menentukan prioritas resiko agar dapat dilakukan usulan perbaikan (Liu dkk, 2011). Perbedaan urutan prioritas perbaikan yang dihasilkan dengan metode FMEA konvensional sebanyak 21 peringkat, sedangkan menggunakan metode fuzzy grey bertambah menjadi 24 peringkat. Hal ini menandakan bahwa penggunaanFMEA fuzzy grey dapat memecahkan masalah FMEA konvensional. Maka dari itu metode grey dapat digunakan sebagai alternatif lain selain menggunakan FMEA fuzzy untuk memecahka masalah pada FMEA konvensional.