// <![CDATA[IMPLEMENTASI KONSEP BUILDING INFORMATION MODELING (BIM) PADA STRUKTUR BETON GEDUNG PONED PUSKESMAS UJUNG JAYA KABUPATEN SUMEDANG]]> 0403046802 - Kamaludin., ST.,M.T., M.Kom, Dosen Pembimbing 1 Ratih Dewi Shima, S.T., M.T Dosen Pembimbing 2 DWIKA PRIMA PRATAMA / 222018240 Penulis
Banyaknya pembangunan infrastruktur di Indonesia membuat industri konstruksi di Indonesia merupakan salah satu industri yang telah mengalami kemajuan yang cukup pesat. Pertumbuhan ekonomi Indonesia di angka 4,73% per September 2015 masih jauh dari harapan, terutama karena Indonesia membutuhkan pertumbuhan minimal 7% agar dapat menjadi negara maju pada tahun 2025, dengan menganut semangat percepatan, pemerintah Indonesia telah melakukan sejumlah upaya dalam rangka mendorong investasi untuk beragam sektor terkait infrastruktur. Meningkatnya pembangunan infrastruktur mempengaruhi berbagai pelaksana jasa konstruksi untuk meningkatkan mutu proyek secara lebih efektif dan efisien. Building Information Modeling (BIM) merupakan suatu metode yang dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Mengetahui hal tersebut, maka tujuan dari penelitian ini untuk mengkaji lebih lanjut tentang implementasi BIM, mengetahui selisih volume serta rencana anggaran biaya dan risiko kolaborasi perangkat lunak yang berkonsep BIM dari studi kasus pekerjaan struktural dan arsitektural pada proyek pembangunan gedung PONED Puskesmas Ujung Jaya yang berlokasi di Kabupaten Sumedang. Penelitian dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Tekla Structures dan ArciCAD, didapatkan Rencana Anggaran Biaya menggunakan metode BIM pada pembangunan gedung puskesmas Ujung Jaya Kabupaten Sumedang untuk pekerjaan struktural Rp Rp 456.743.276,01 diperoleh selisih sebesar -14,68% atau Rp 67.049.912,91 sedangkan rencana anggaran biaya pada pekerjaan arsitektural yaitu Rp 623.254.574,71 diperoleh selisih 1,25% atau Rp 7.790.682,18 terhadap data RAB konsultan perencana, sedangkan pada selisih metode konvensional koreksi untuk pekerjaan struktural sebesar 8,25% atau Rp 37.681.320,27 dan 1,57% atau Rp 9.785.096,82 pada pekerjaan arsitektural. Perbedaan pada metode BIM dan konvensional disebabkan oleh rencana anggaran biaya dan gambar DED tidak sesuai dikarenakan rencana anggaran biaya tersebut merupakan RAB penawaran, oleh karena itu adanya metode konvensional koreksi agar perhitungan RAB sesuai dengan gambar DED yang belum dilakukan penawaran, sedangkan perbedaan pada metode BIM dan konvensional koreksi disebabkan oleh perhitungan yang tidak sedetail pada perangkat lunak