// <![CDATA[PEMURNIAN ZIRKONIA DARI MINERAL ZIRKON HASIL PENCUCIAN TIMAH BANGKA DENGAN CARA PELEBURAN MENGGUNAKAN NATRIUM PEROKSIDA]]> Carlina D. Ariono, lr., MT. Dosen Pembimbing 1 Rido Hanifan P / 142001073 Penulis Rahmiati Rahayu K / 142001107 Penulis 2 SUPRYONO HS., Drs. Dosen Pembimbing 2
Zirkon terbentuk sebagai mineral ikutan pada batuan Na-Feldsfar, seperti batuan asarn (granit dan syenit) dan batuan metamorf (gneiss dan skiss). Selama ini mineral zirkon hanya dihasilkan sebagai produk samping dari logam timah dan emas. Zirkon diolah melalui beberapa tahap pemisahan untuk memisahkan zircon dari mineral - mineral pengotor seperti ilmenit, kalsit, kasiterit, monasit, pirit, markasit, hematit, magnetit, dan kuarsa. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kondisi optimum agar didapatkan kadar zirkonia dari mineral zirkon hasil pencucian timah Bangka yang setinggi-tingginya. Adapun cara penentuan kondisi optimumnya adalah dengan memvariasikan waktu peleburan (5, 8, 10 dan 15 menit) dan konsentrasi asarn klorida (9, 18 dan 36M) pada saat perlakuan kimia dengan cara peleburan dengan natrium peroksida. Penelitian ini dilakukan pada dua sampel, yaitu sampel bahan asal (sampel A) dan sampel bahan olahan (sampel B). Sebelum dilakukan peleburan, sampel terlebih dahulu dianalisis secara mineralogi. Hasil analisis ini menunjuklam bahwa kadar zirkon pada sampel A adalah 64,07% dan setelah melalui pemisahan secara fisika dengan Magnetic Separator dan High Tension Separator kadar zirkon meningkat hingga 83,38% (sampel B). Kondisi optimum yang diperoleh pada saat perlakuan kimia untuk mendapatkan kadar zirkonia yang setinggi-tingginya adalah pada waktu peleburan 10 menit dengan konsentrasi asam klorida 36 M. Hal ini makin diperkuat dengan hasil analisis X Ray Difraction (XRD) yang menunjukkan bahwa puncak difraktogram tunggal mineral yang teridentiflkasi pada sampel A setelah mendapat perlakuan secara kimia adalah mineral antara dari zirkonia sedangkan pada sampel B mineral yang teridentifikasi adalah zirkonia murni.