// <![CDATA[KOREKSI DISTORSI LENSA KAMERA NON METRIK MENGGUNAKAN METODE DIRECT LINER TRANSFORMATION]]> Bambang Rudianto, Ir. M.T. Dosen Pembimbing 1 Edy M. Kartasasmlta / 232001010 Penulis
Distorsi Lensa dapat menyebabkan posisi pada suatu citra fotografik mengalami perobahan dari lokasi yang sebenamya, sehingga kualitas spasial serta geometric menjadi berkurang. Untuk mendapatkan informasi spasial yang akurat dari suatu citra fotografik hasil pemotretan kamera non metrik maka setiap jenis koreksi harus diberikan, salah satu di antaranya yaitu kalibrasi kamera. Kalibrasi kamera meropakan suatu proses untuk menentukan elemen orientasi dalam dan distorsi lensa pada suatu objek. Secara umum terdapat dua metode yang digunakan dalam kalibrasi kamera yaitu laboratorium dan test field. Metode yang digunakan untuk mengevaluasi distorsi lensa yang terjadi pada citra fotografik dalam studi ini yaitu metode Direct Unear Transformation, dimana metode ini meropakan pengembangan dari cara kalibrasi berdasarkan data hasil tes laboratorium. Metode ini dimulai dengan memotret templet grid yang dibuat dari bahan fiber dengan ukuran 40 em x 30 em. Setiap sel templet grid digaris dengan tangan yang ukurannya 2,5cm x 2,5cm. Pada saat pemotretan diasumsikan sumbu-sumbu optik dari kamera tegak luros templet grid. Pemotretan citra fotografik dilakukan dalam jarak yang berbeda-beda yaitu 0,8 m, 1,2 m dan 1,4 m. Dari ketiga jarak pemotretan citra fotografik tersebut masing-masing ditentukan titik sekutu sebanyak 12 buah, untuk melakukan transformasi Direct Unear Transformation. Dimana pemecahan parameter transformasinya dilakukan dengan hitung perataan parameter. Dari ketiga jarak pemotretan didapatkan bahwa kualitas spasial citra fotografik cenderung menjadi berkurang pada posisi titik-titik templet grid yang jauh dari titik utama, namun dengan dilakukan kalibrasi kamera posisi titik-titik grid terdistorsi ditransformasikan menggunakan metode Direct Unear Transformation sehingga kembali menjadi posisi yang sebenamya (kondisi ideal). Dari ketiga jarak pemotretan, kondisi ideal (kolinear) hasil transformasi tercipta pada jarak 1,2 m hal ini terbukti dari uji statistik parameter transformasinya paling ban yak diterima dengan tingkat signifikasi 10% dan 5% dimana parameter yang ditolaknya hanya parameter distorsi lensa decentering yang pada umumnya besamya kecil dan diabaikan.