// <![CDATA[STUDI ALTERNATIF PEMBIAYAAN PDAM KOTA BANDUNG]]> Dr. Sadar Yuni Raharjo, Ir.,MSP Dosen Pembimbing 1 Zulfadly Urufi, S.T., M.Eng Dosen Pembimbing 2 FRANSISCA ANDA CHRISMA DEWI / 241996001 Penulis
PDAM Kota Bandung sejak tahun 1992 - 2000 selalu mengalarni kerugian dengan total sebesar Rp. 142.391 juta. Penyebabnya biaya yang dikeluarkan lebih besar dibandingkan dengan pendapatan. Selain itu sebagai salah satu surnber pendapatan asli daerah (PAD) Kota Bandung, diharuskan untuk memberikan pemasukan, keterlibatan PEMDA mernbuat PDAM tidak leluasa untuk rnenentukan kebijakan perusahaannya. Studi ini bertujuan untuk rnenentukan alternatif-alternatif pembiayaan untuk memperbaiki kondisi keuangan PDAM Kota Bandung, sebagai salah satu surnber PAD. Studi ini berupa penelitian deskriptif, yaitu menganalisis hal - hal yang berkaitan dengan kondisi keuangan PDAM Kota Bandung dan menentukan alternatif-alternatif untuk memperbaiki kondisi keuangan PDAM. Dalam studi ini dilakukan analisis komponen-komponen yang mempengaruhi pendapatan usaha PDAM, dalam pembuatan alternative berdasarkan pertimbangan dengan memperhatikan komponen yang ada, peraturan, serta rencana dari PEMDA Kota Bandung dan PDAM Kota Bandung, dilakukan juga analisis dampak ekstemal yang mungkin timbul akibat altematif yang diusulkan Sedangkan untuk mengetahui kelayakan dari setiap alternatif dipergunakan teknik analisis pembiayaan NPV dan BCR.Untuk alternatif kerjasama dengan swasta menggunakan analisis BEP (Break Even Point). Sehubungan dengan hal tersebut di atas maka melalui studi ini diusulkan empat altematif, dengan asumsi kenaikkan tarif dan produksi air menggunakan rencana PDAM. Alternatif pertama, tanpa kenaikan tarif, ada penambahan jumlah produksi air bersih. Pertimbangannya penambahan jumlah produksi air bersih karena adanya rencana PEMDA Kota Bandung dan PDAM Kota Bandung dalam membangun sumber air baku Baru. Alternatif kedua dengan kenaikan tarif tetapi produksi air bersih tetap. Pertimbangannya sumber air baku berkurang, akan tetapi perlu menaikkan tarif untuk mengimbangi biaya produksi; Alternatif ketiga, tarif naik dan produksi air bersih bertambah, dengan pertimbangan adanya rencana PEMDA Kota Bandung dan PDAM Kota Bandung dalam membangun sumber air baku baru dan untuk itu memerlukan biaya untuk mengusahakan penambahan jumlah produksi air bersih Alternatif keempat,ketjasama dengan swasta, pertimbangannya pemerintah kesulitan modal untuk rnendanai kegiatan PDAM, rnengurangi campur tangan pernerintah dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Dari hasil perhitungan berdasarkan alternatif I, total kerugian sebesar Rp.380.410.434.983, NPV -Rp.54.395.118.966 dan BCR 0,89, alternatif I tidak memiliki nilai kelayakan usaha ; alternatif 11, total keuntungan sebesar Rp.113.318.041.017, NPV Rp.21.839.814.897 dan BCR 1.045, alternatif II memiliki nilai kelayakan usaha ; alternatif Ill, total keuntungan sebesar Rp.324.380.816.017, NPV Rp.69.526.265.597 dan BCR 1.043, alternatif IV rnerniliki nilai kelayakan usaha yang lebih baik; alternatif IV, NPV Rp.69.660.359.812 dan BCR 1.144, dan akan BEP pada tahun ke 19 , alternalif IV memiliki nilai kelayakan usaha dan dana ditanggung oleh pihak swasta. Selain itu dari setiap altematif menimbulkan dampak ekstemalitas yaitu adanya kenaikkan tarif akan rnenirnbulkan protes dari rnasyarakat, adanya peningkatan produksi air berarti menambahjumlah pengambilan air dari sumber air baku,jika tidak ada upaya untuk melestarikan daerah sumber air baku maka sumber daya alam (air) akan terkuras dan kemungkinan akan habis. Berdasarkan hasil analisis diatas temyata kerugian dialami karena tidak adanya kenaikkan tarif dan tingkat kebocoran air yang tinggi serta peraturan yang mempengaruhi kegiatan usaha PDAM.