// <![CDATA[EVALUASI LOKASI PUSAT-PUSAT SEKUNDER DI KOTA BANDUNG]]> Dr. Sadar Yuni Raharjo, Ir., M.T Dosen Pembimbing 1 RIRI SELV/iANTI / 2497008 Penulis
Pertambahan Penduduk menyebabkan meningkatna beban pusat kola dalam penyediaan fasilitas pelayanan. Karena pusat kola memiliki daya dukung terbatas, maka tekanan yang terus menerus trhadapnya akan menyebabkan degradasi lingkungan yang mengganggu kesejahteraan warga kota. Dengan alasan tersebut, maka perlu dibentuk sup pusal atau lebih dikenal dengan sebutan pusat sekunder (PS) yang melayani sebagian wilayah kota sebagai hirarki kedua setelah pusat kota. Sesuai dengan arahan RDTRK masing-masing wilayah pengembangan (WP) di Kota Bandung, lokasi pusat - pusat sekunder tersebut berada di: I. Untuk WP Cibeunying, lokasi PS berada di kawasan Sadang Serang (Kelurahan Sadang Serang). 2. Untuk WP Bojonagara lokasi PS berada di kawasan Setrasari (Kelurahan Sukagalih). 3. Untuk WP Karees lokasi PS berada di kawasan Martanegara (Kelurahan Turangga) 4. Untuk WP Tegalega lokasi PS berada di kawasan Kopo Kencana (Kelurahan Kopo). 5. Untuk WP Ujung Berung PS berada di kawasan Arcamanik (Kelurahan Sukamiskin). 6. Untuk WP Gedebage lokasi PS berada di kawasan Cipamokolan (Kelurahan Cipamokolan). Rencana Detail Tala Ruang Kola masing-masing WP Ielah menetapkan lokasi dan fungsi pusat sekunder untuk wilayahnya yang diharapkan dapat berfungsi sebagai 'counter magnet ' pusat kota dalam mengakomodasikan kegiatan penduduk, sehingga tidak menimbulkan ‘bottle neck' (penumpukan pergerakan), khususnya di kawasan pusat kola dan sekitarnya. Selama interval waktu 1992 - 2002 , diindikasikan tidak berjungsinya secara optimal ke enam pusat-pusat sekunder tersebut. Ketidakberfungsian ini dikaitkan dengan tujuan pembentukan pusat sekunder itu sendiri, seperti yang telah dijelaskan diatas. Pada kenyataannya, setelah ditetapkannya rencana pengembangan pusat sekunder tersebut, pergerakan penduduk masih terakumulasi di pusat kota dan zona-zona sekitar pusat kota. Volume rata-rata jaringan alan utama menuju pusat kota hampir semuanya melebihi kapasitasnya, antara lain Jl. Ir. H Juanda (VIC = 0.884), Jl. A. Yani (VIC= 1.146}, Jl. Lengkong (VIC= 1.17) dan Jl. Veteran (VIC = 1.505), untuk kawasan pusat kota itu sendiri VIC rationya sudah > 1, ini berarti tingkat pelayanannya sudah rendahl aksesibilitasnya rendah. Kondisi ini pada akhirnya akan memberikan eksternalitas negatif bagi masyarakat maupun kerugian sosial-ekonomi lainny antara lain kemacetan lalu lintas yang akan merugikan masyarakat karena pemborosan waktu dan biaya, polusi udara maupun suara dan kerugian sosial-ekonomi lainnya. Berdasarkan pertimbangan tersebut, mndorong untuk dilakukannya studi evaluative terhadap pusat-pusat sekunder di Kota Bandung. Salah satu faktor yang sangat berpengamh terhadap keberhasilan pusat-pusat sekunder tersebut adalah ketepatan lokasi. Dalam studi kali ini, evaluasi dilakukan dengan membandingkan lokasi pusat-pusat sekunder arahan RDTRK dengan lokasi - lokasi pusat sekunder eksisting. Lokasi pusat sekunder eksisting merupakan lokasi yang saat ini lebih mampu bertindak sebagai pusat sekunder berdasarkan penilaian kelengkapan (keterpusatan) fasilitas dan tmgkat aksesibilitasnya. Karena lokasi suatu pusat sekunder dalam keberhasilannya harus didukung oleh ketersediaanfasilitas dan potensi aksesibilitasnya. Temuan studi ini adalah bahwa dari ke-enam pusat sekunder yang ditetapkan RDTRK hanya 2 ptJSal sekunder yang memmjukkan ketepatan sebagai lokasi pusat sekunder, yaitu WP Karees dan WP Tegalega. Bagi ke-empat WP lainnya, lokasi yang lebih mampu bertindak sebagai pusat sekunder bergeser ke lokasi lain yang lebih berkembang. Antara lain untuk WP Cibeunying bergeser ke Kelurahan Citarum, untuk WP Bojonagara bergeser ke Kelurahan Pasteur, untuk WP Ujung Berung bergeser ke Kelurahan Ujung Benmg, untuk WP Gedebage bergeser ke Kelurahan Sekejati. Dari hasil temuan tersebut, diusulkan beberapa rekomendasi diantaranya adalah agar studi evaluasi ini dapat dijadikan bahan masukan bagi keperluan revisi RDTRK khususnya mengenai rencana pengembangan pusat-pusat sekunder. Mengingat rencana saat ini sudah tidak dapat dijadikan acuan untuk pengembangan pusat sekunder masa yang akan datang.