// <![CDATA[OPTIMASI PEMANFAATAN RUANG BERDASARKAN DAYA DUKUNG FISIK DAN LINGKUNGAN DALAM MENINGKATKAN EKONOMI WILAYAH (Studi Kasus :]]> Akhmad Setiobudi, Ir., M.T Dosen Pembimbing 1 DHANI GUMELAR / 2496019 Penulis
Ruang merupakan wadah atau tempat mahluk hidup termasuk manusia melakukan kegiatan. Ruang merupakan sumber daya yang penting artinya bagi kehidupan dan perencanaan serta pelaksanaan pembangunan yang berkelanjutan. Ruang termasuk didalamnya adalah lahan berupa sumber daya alam maupun buatan mempunyai kapasitas yang terbatas, sehingga diperlukannya penataan pemanfaatan ruang. Disadari bahwa ketersediaan ruang adalah terbatas, artinya bila pemanfaatan ruang tidak tertata dengan baik kemungkinan besar terjadi pemborosan pemanfaatan ruang. Pemborosan pemanfaatan ruang tersebut apabila ditinjau dari segi ekonomi wilayah sangat merugikan, karena sumber daya alam dan buatan yang ada tidak dapat dimanfaatkan secara optimal yang dapat mengurangi nilai tambah ekonomi bagi wilayah tersebut. Karena itu diperlukan penataan ruang untuk mengatur pola pemanfaatannya berdasarkan kegiatan, jenis kegiatan, fungsi lokasi kualitas ruang dan estetika lingkungan. Salah satu cara mengelola sumber daya alam dan lingkungan yang lebih bijaksana adalah memanfaatkan sumber daya alam sesuai dengan daya dukungnya (fisik dan lingkungan). Hal tersebut dilakukan agar tercipta kesinambungan antara lingkungan binaan dengan lingkungan alami. Kabupaten Bekasi merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Jawa Barat yang memiliki potensi sumber daya alam dan sumber daya buatan serta ditunjang oleh kondisi geografis yang menguntungkan dan strategis. Hal tersebut dapat dilihat dari ditetapkannya Kabupaten Bekasi sebagai kawasan penyanggga DKI Jakarta dengan pengembangan kawasan budidaya berupa kawasan perumahan dan kawasan industri. Potensi yang dimiliki oleh Kabupaten Bekasi tersebut disisi lain telah menimbulkan pemasalahan yang apabila ditijnau dari segi ekonomi cukup merugikan. Seperti munculnya lahan-lahan tidur dan tergesemya kawasan pertanian menjadi kawasan non pertanian sehingga menyebabkan tidak optimalnya penggunaan lahan. Maka diperlukan pengaturan pemanfaatan ruang berdasarkan daya dukung fisik dan lingkungan yang dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian wilayah (tercermin dalam nilai PDRB). Pengaturan tersebut berupa pengaturan komposisi pemanfatan ruang yang dapat dikembangkan. Pengaturan terse but yaitu dengan menggunakan permodelan dan beberapa metode analisis seperti regresi linear, overlay dan program linear. Langkah pertama adalah melakukan identifi.kasi hubungan antara pemanfaatan ruang terhadap pembentukan nilai PDRB. Langkah kedua adalah melakukan identifikasi kesesuaian lahan berdasarkan daya dukung fisik dan lingkungan, sehingga dapat ditentukan jenis kawasan yang dapat dikembangkan, termasuk ketersediaan lahan yang dapat dikembangkan dan batasan luas yang dikembangkan dari masing-masing kawasan. Langkah ketiga adalah penyusunan model optimasi yaitu dengan menentukan fungsi tujuan yang dibatasi oleh fungsi kendala berupa batasan kawasan budidaya, batasan pengembangan kawasan budidaya dan ketersediaan sumber daya alam berupa sumber daya air. Kemudian dilakukan penerapan skenario pengembangan, agar dapat diketahui jenis kawasan mana yang dapat dikembangkan dan memberikan nilai tambah bagi ekonomi wilayah. Dalam skenario tersebut berisi kebijaksanaan pengembangan dari masing-masing kawasan dan kebijaksanaan tersebut menjadi limitasi atau batasan bagi pengembangan kawasan budidaya. Berdasarkan hasil analisis diperoleh hasil yang optimal dalam pemanfaatan ruang berdasarkan daya dukung fisik dan lingkungan, yaitu berupa komposisi pemanfaatan ruaang dan sumber daya yang terpakai dengan keluaran berupa nilai PDRB yang maksimal. Nilai PDRB yang dihasilkan yaitu sebesar Rp 19.441.858,935 (Jutaan), dengan komposisi pemanfaatan ruang untuk pertanian lahan basah seluas 55.597,45 ha, pertanian lahan kering seluas 18.527,26 ha, industri seluas 9.223.45 ha dan perumahan, permukiman, jasa dan perkotaan seluas 29.112,93 ha. Sumber daya air yang dimanfaatkan adalah sebesar 9.1014,9 liter/detik/hektar, sehingga mempunyai sisa cadangan sumber daya air sebesar 388.951.937,150 liter/detik/hektar.