EVALUASI PERUNTUKAN LAHAN INDUSTRI BERDASARKAN KRITERIA FISIK (Studi Kasus: Wilayah Kota Bandung)
Tanah dan lahan merupakan sumberdaya alam yang penting dalam menopang setiap aktivitas kehidupan manusia baik sebagai sumber daya yang dapat diperoleh maupun sebagai sebagai terrpat tinggal. Perkembangan Kota Bandung yang lebih pesat dibandingkan dengan kota-kota lain, kebutuhan akan lahan yang semakin meningkat, pencarian lahan dengan nilai yang rendah dan perencanaan guna lahan tanpa memperhatikan peraturan maupun rencana yang telah ditetapkan, dapat menimbulkan suatu dampak negatif diantaranya adalah penyalahgunaan atau penyimpangan pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan Rencana Umum Tata Ruang dan Kebijaksanaan Pemerintah Kota Bandung yang salah satunya yaitu penyebaran lokasi industri. Akibat terjadinya pergeseran fungsi guna lahan tersebut, maka perlu dilakukan suatu pemantauan penggunaan lahan bagi kegiatan industri di Kota Bandung dan melihat sejauh mana terjadinya penyimpangan pada sebaran kegiatan indutri dengan didasari oleh arahan pemerintah Kota Bandung, kriteria fisik baik alami maupun binaan serta strandarisasi lokasi industry. Guna menunjang kegiatan penelitian ini metoda analisis yang akan digunakan dalam proses pecahan masalah ini adalah metode analisis Superimpose atau Overlay yaitu pertampalan antara data spasial dan non spasial tanpa pembobotan, dengan bantuan software Mapinfo. Proses pengurrpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan melakukan survey sekunder keberbagai instansi terkait. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukan bahwa dalam penyebaran lokasi industri terjadi cukup banyak penyimpangan baik terhadap faktor fisik alamiah maupun fisik binaan. Penyimpangan yang paling dominan terjadi pada faktor fisik alamiah dasar adalah penyimpangan terhadap kemiringan lereng terutama pada kemiringan >40 %. Pada dasarnya jika hanya dilihat dari factor fisik alamiah dasar masih cukup banyak lokasi industri yang sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan, namun karena kondisi air tanah semakin lama semakin buruk maka zona konservasi air tanah juga dirasakan perlu untuk mengkaji lokasi industri. Hasil yang diperoleh menunjukan kebanyakan industri berada di zona konservasi air tanah 2 yang merupakan salah satu zona yang paling dilarang untuk diambil air tanahnya bagi kegiatan industri, karena setiap tahunnya terjadi penurunan muka air tanah yang relatif tinggi. Sedangkan pada factor fisik binaan penyimpangan yang terjadi lebih dominan terhadap perumahan dan pertanian. Faktor aksesibil tas di Kota bandung cukup baik untuk menunjang kegiatan industri, karena Kota Bandung dikelilingi oleh jaringan jalan dengan klasifikasi arteri dan kolektor, serta didukung oleh keberadaan terminal peti kemas di WP Gedebage.
Detail Information
Citation
APA Style
. (2003).EVALUASI PERUNTUKAN LAHAN INDUSTRI BERDASARKAN KRITERIA FISIK (Studi Kasus: Wilayah Kota Bandung) ().Teknik Planologi:FTSP
Chicago Style
.EVALUASI PERUNTUKAN LAHAN INDUSTRI BERDASARKAN KRITERIA FISIK (Studi Kasus: Wilayah Kota Bandung) ().Teknik Planologi:FTSP,2003.Text
MLA Style
.EVALUASI PERUNTUKAN LAHAN INDUSTRI BERDASARKAN KRITERIA FISIK (Studi Kasus: Wilayah Kota Bandung) ().Teknik Planologi:FTSP,2003.Text
Turabian Style
.EVALUASI PERUNTUKAN LAHAN INDUSTRI BERDASARKAN KRITERIA FISIK (Studi Kasus: Wilayah Kota Bandung) ().Teknik Planologi:FTSP,2003.Text