// <![CDATA[DAMPAK PENGAKTIFAN KEMBALI KERETA API BANDUNG-JATINANGOR TERHADAP PENGURANGAN VOLUME LALU-LINTAS PADA RUAS JALAN CILEUNYI-JATINANGOR]]> Ratna Agustina, S.T., M.T.. Dosen Pembimbing 2 Akhmad Setiobudi, Ir, M.T. Dosen Pembimbing 1 R.DEWI LESTARI / 242000022 Penulis
Keberadaaan perguruan tinggi di Jatinangor memacu adanya perkembangan kegiatan yang cenderung bersifat spontan dan tak terarah. Perkembangan kegiatan tersebut menimbulkan permasalahan, salah satunya masalah transportasi. Permasalahan transportasi yang muncul adalah ruas jalan yang tidak dapat lagi menampung arus komuter, sehingga per lu dilakukan upaya pengembangan transportasi kereta api yang memiliki banyak keuntungan antara lain realtif murah dan dapat menghemat waktu. Dalam rencana pengembangan kereta api dilakukan identifikasi jumlah permintaan dan sediaan kereta api untuk Bandung-Jatinangor. Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui dampak pengaktifan kembali K.A Bandung-Jatinangor terhadap pengurangan volume lalu-lintas pada ruas jalan Cileunyi-Jatinangor. Metode analisis yang digunakan adalah regresi linier sederhana dan polinimial untuk mengetahui jumlah komuter tahun 2014, yang terdiri dari mahasiswa, staf dan penduduk Jatinangor yang bekerja di Bandung, untuk menentukan jumlah gerbong yang dibutuhkan untuk K.A Bandung-Jatinangor dan un tuk mengetahui pengurangan volume lalu-lintas Cileunyi-Jatinangor. Berdasarkan hasil analisis diperoleh perkiraan potensi komuter yang menggunakan K.A sebanyak 8.746 orang (terdiri dari 3.302 orang mahasiswa dan staf, dan 5.444 orang penduduk Jatinangor). Jumlah gerbong yang dibutuhkan adalah 6 gerbong/rangkaian, karena rencana K.A Bandung-Jatinangor ini terdiri dari 2 (dua) rangkaian, sedangkan pengurangan volume lalu-lintas Cileunyi-Jatinangor ini berkurang sebesar 63 SMP/Jam. Rekomendasi yang dapat diberikan dengan adanya rencana pengaktifan kembali K.A Bandung-Jatinangor ini adalah perhatian pemerintah terhadap berkurangnya pendapatan bagi pengusaha angkutan umum. Rekomendasi lainnya adalah perhatian pada jumlah permintaan dan jumlah gerbong yang dibutuhkan, mengingat kebutuhan dan populasi manusia yang semakin meningkat dan rekomendasi untuk perencanaan jangka panjangnya adalah jalan layang (flyover) karena jalur K.A Bandung-Jatinangor tersebut melewati jalan propinsi, yang bertujuan untuk melancarkan arus lalu-lintas.