// <![CDATA[PENGELOLAAN ANGKUTAN DAN LALU LINTAS DI SEKITAR STASIUN KERETA CIMAHI]]> Suwardjoko P. Warpani, Ir., MTCP Dosen Pembimbing 1 Ratna Agustina, S.T., M.T.. Dosen Pembimbing 2 WENNY GUSTAMOLA / 242001074 Penulis
Pertumbuhan dan perkembangan suatu kota diikuti dengan peningkatan aktivitas sosial ekonomi masyarakatnya. Meningkatnya aktivitas penduduk berakibat pada peningkatan kebutuhan ruang dan peningkatan pergerakan orang atau barang. Kota Cimahi sebagai kota yang sedang berkembang berusaha melengkapi kebutuhan masyarakatnya dengan melakukan pembangunan prasarana dan sarana perkotaan. Ketersedian prasarana dan sarana yang lengkap membuat Kota Cimahi menjadi sebuah kota yang tumbuh dan berkembang pesat dengan aktivitas sosial ekonomi masyarakat yang semakin tinggi yang mengakibatkan meningkatnya pergerakan orang atau barang. Pergerakan orang dan barang sangat membutuhkan perangkutan. Sistem perangkutan Kota Cimahi meliputi jalan raya dan jalan rel. Dalam pengoperasiannya, antara jalan rel dan jalan raya mempunyai beberapa konflik, yaitu jalan rel yang berada sebidang dengan jalan raya menjadi tundaan untuk lalu lintas jalan raya ketika kereta melintas serta kapasitas jalan rel tidak dapat digunakan secara maksimal karena pergerakan kereta harus memperhatikan lalu lintas jalan raya. Kondisi ini terjadi pada lintasan kereta di sekitar Stasiun Cimahi yang berada sebidang dengan Jalan Gatot Subroto dan Jalan RS Dustira. Kedua ruas jalan ini merupakan jalan yang yang mengapit Stasiun Cimahi dan berada dalam posisi sejajar dengan jarak ± 250 meter. Dengan frekuensi perjalanan 5 kereta/jam saat ini, lalu lintas jalan raya mengalami tundaan sekurangnya 10 menit setiap jam. Tundaan lalu lintas jalan raya ini akan bertambah karena frekuensi perjalanan kereta akan meningkat dengan adanya rencana penyediaan angkutan umum massal yang dapat mengangkut penumpang dalam jumlah besar, beroperasi secara cepat, nyaman, aman, terjadwal dan berfrekuensi tinggi pada koridor-koridor utama berbasis rel untuk melayani Bandung Metropolitan Area. Dampak perpotongan lintasan kereta dengan Jalan Gatot Subroto dan Jalan RS Dustira dapat dilihat berdasarkan analisis yang dilakukan dengan melihat keterkaitan antara sistem kegiatan, sistem jaringan dan sistem pergerakan di sekitar Stasiun kereta Cimahi. Untuk melakukan analisis, diperlukan data mengenai tata guna lahan, pemanfaatan lahan, tata ruang, ketersediaan prasarana dan sarana perangkutan, aksesibilitas, volume dan komposisi lalu lintas, kapasitas serta tingkat pelayanan jalan. Setelah diketahui dampak perpotongan lintasan kereta dengan Jalan Gatot Subroto dan Jalan RS Dustira, maka beberapa usulan diajukan untuk mengelola angkutan dan lalu lintas di sekitar stasiun kereta Cimahi yang dapat meminimalisasi konflik antara jalan rel dan jalan raya, sehingga dapat meningkatkan keandalan angkutan dan lalu lintas Kota Cimahi secara keseluruhan.