STUDI WILAYAH PELAYANAN ANGKUTAN UMUM TRANSIT DI KOTA PEKAN BARU
Perkembangan kota dan pertumbuhan penduduk yang pesat di Kota Pekan Baru yang tidak diiringi dengan adanya suatu rencana sistem angkutan umum yang baik pada akhirnya menimbulkan persoalan ruang pelayanan bagi warga kota yang ditandai dengan penggunaan moda antara, misalnya ojeg untuk mencapai rute angkutan kota akibat jarak capai yang terlalu jauh. Oleh karena itu, studi ini dilakukan untuk mengkaji salah satu bagian dari sistem pelayanan, yaitu wilayah pelayanan angkutan kota dengan indikator jarak layak berjalan kaki karena dengan jarak ini pengguna dapat mencapai rute angkutan kota tanpa perlu lagi menggunakan moda antara.
Berdasarkan hasil pengukuran wilayah yang terlayani angkutan kota di Kota Pekan Baru temyata hanya mencakup bagian wilayah sebesar 18% dari total luas wilayah. Dari proporsi wilayah yang terlayani itu terlihat bahwa tingkat pelayanan angkutan kota yang ada pada saat ini masih rendah dan belum merata. Dengan mengutamakan wilayah kelurahan yang dari hasil analisis harus dilayani angkutan kota, didapat luas wilayah sebesar 57 km2, yang sudah terlayani seluas 24 km2 (42%) artinya masih ada bagian seluas 33 km2 (58%) yang harus terlayani angkutan kota. Setelah dilakukan kajian cakupan wilayah pelayanan, ternyata mencakup seluas 56 km2 (98%), terjadi penambahan seluas sebesar 32 km2 (56%).
Dari temuan-temuan tersebut, maka studi ini merekomendasikan beberapa hal dalam rangka memenuhi kebutuhan penduduk yang belum tercakup dalam wilayah pelayanan angkutan kota, sebagai berikut:
1. Dari sisi sediaan prasarana jaringan jalan
Salah satu hambatan dalam pemenuhan angkutan kota adalah tidak tersedianya jaringan jalan seperti di Kelurahan Limbungan, Meranti Pandak, Tangkerang Barat, Tangkerang Tengah dan Tangkerang Selatan sehingga masih ada bagian wilayah kelurahan yang tetap tidak terlayani. Oleh karena itu sebaiknya dibangun beberapa jaringan jalan baru agar penduduk yang berada di bagian tersebut terlayani.
2. Dari sisi pembangunan kota
Sistem kegiatan yang masih terpusat menyebabkan terkonsentrasinya pergerakan di seputar pusat kota. Oleh karena, itu pemerataan pembangunan kiranya perlu lebih ditekankan, karena masih banyak daerah di luar pusat kota terutama daerah pinggiran yang potensial untuk menjadi wilayah terbangun. Jika hal ini terjadi, baik penduduk maupun arus pergerakan di Kota Pekan Baru tidak lagi terlalu terpusat.
3. Dari sisi moda angkutan
Dalam pemenuhan pelayanan peranglrutan bagi warga kota, kondisi prasarana transportasi sering jadi kendala dalam sistem pelayanan, seperti kapasitas atau kualitas jaringan jalan yang rendah, oleh karena itu perlu diperhitungkan untuk mengadakan moda lain yang tersubsidi, seperti ojeg ataupun bemo. Subsidi ini diterapkan sebagai rangsangan agar .operator mau mengoperasikanya di wilayah yang tidak bisa dilayani oleh moda angkutan kota seperti bus dan oplet atau di wilayah yang tingkat kebutuhan pelayanannya rendah seperti di wilayah pinggiran. Dengan begitu, semua keperluan pergerakan yang terjadi dapat terlayani.
Detail Information
Citation
APA Style
. (2006).STUDI WILAYAH PELAYANAN ANGKUTAN UMUM TRANSIT DI KOTA PEKAN BARU ().Teknik Planologi:FTSP
Chicago Style
.STUDI WILAYAH PELAYANAN ANGKUTAN UMUM TRANSIT DI KOTA PEKAN BARU ().Teknik Planologi:FTSP,2006.Text
MLA Style
.STUDI WILAYAH PELAYANAN ANGKUTAN UMUM TRANSIT DI KOTA PEKAN BARU ().Teknik Planologi:FTSP,2006.Text
Turabian Style
.STUDI WILAYAH PELAYANAN ANGKUTAN UMUM TRANSIT DI KOTA PEKAN BARU ().Teknik Planologi:FTSP,2006.Text