TINGKAT AKSESIBILITAS KAWASAN PUSAT KOTA DAN PUSAT WP KOTA BANDUNG DITINJAU DARI RUTE ANGKUTAN UMUM
Keberadaan suatu pusat kota seyogyanya dapat memberikan pelayanan terhadap daerah sekitarnya. Teori poros yang dikemukakan oleh Babcock (1932) menekankan peranan transportasi dalam mempengaruhi struktur keruangan kota dan mobilitas yang terjadi dipengaruhi oleh poros transportasi yang menghubungkan CBD (Central Business District) dengan daerah bagian luarnya. Kota Bandung sebagai ibu kota Provinsi Jawa Barat saat ini memiliki 2 (dua) pusat kota dengan 6 (enam) Wilayah Pengembangan (WP) yang dilayaninya. Sesuai dengan syarat pusat kota yaitu memiliki tingkat aksesibilitas yang tinggi, mobilitas antar pusat kota maupun pusat kota dengan WP yang dilayaninya harus diperhatikan. Angkutan kota sebagai moda yang cukup banyak digunakan oleh penduduk di Kota Bandung, dapat dijadikan sarana transportasi untuk mengukur tingkat aksesibilitas pusat kota dan pusat WP Kota Bandung.
Besarnya tingkat aksesibilitas dalam penelitian ini diperoleh dari metode analisis pengukuran fisik tingkat aksesibilitas dengan menggunakan metode Hansen. Analisis ini berfungsi untuk melihat bagaimana suatu guna lahan memiliki tingkat aksesibilitas jika dilihat dari beberapa faktor yaitu jarak, waktu tempuh, dan ongkos transportasi yang secara fisik dapat dinyatakan dalam bentuk hambatan perjalanan. Dari analisis yang telah dilakukan, yaitu perhitungan tingkat aksesibilitas pusat kota terhadap sub pusat kota, sub pusat kota terhadap pusat kota, dan pusat kota terhadap pusat kota yang lainnya, diperoleh hasil bahwa pusat Kota Bandung bagian barat yaitu pusat kota Alun-Alun memiliki daya hubung yang tinggi dibanding pusat Kota Bandung bagian timur. Berdasarkan pusat kota yang melayaninya, pada umumnya pusat WP di Kota Bandung memiliki daya hubung yang rendah. Pusat WP yang memiliki tingkat aksesibilitas yang tinggi adalah pusat sekunder Kopo Kencana yang merupakan pusat sekunder WP Tegalega dan pusat sekunder Margasari yang merupakan pusat sekunder WP Gede Bage. Tingginya tingkat aksesibilitas tersebut sangat dipengaruhi oleh ketiga faktor penentu tingkat aksesibilitas dan juga guna lahan yang menjadi tarikan aktivitas di suatu wilayah. Berdasarkan analisis prasarana dan sarana transportasi sebagai daya dukung tingkat aksesibilitas, fungsi jaringan jalan lokal yang dilewati oleh angkutan umum lebih berpotensi menimbulkan kemacetan akibat adanya gangguan
sisi jalan sehingga memperpanjang waktu tempuh khususnya di Jalan Belakang Pasar. Adanya dukungan kebijakan yang tercantum dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung tahun 2004 sangat mempengaruhi besarnya tingkat aksesibilitas pusat kota dan pusat WP Kota Bandung agar menjadi lebih baik. Rekomendasi yang diaj ukan dalam peneli tian ini adalah agar pemerintah mampu mempertahankan tingginya tingkat aksesibilitas khususnya di pusat kota Alun-Alun dan wilayah pengembangannya serta membenahi rendahnya tingkat aksesibilitas di kawasan pusat primer Gede Bage.
Detail Information
Citation
APA Style
. (2007).TINGKAT AKSESIBILITAS KAWASAN PUSAT KOTA DAN PUSAT WP KOTA BANDUNG DITINJAU DARI RUTE ANGKUTAN UMUM ().Teknik Planologi:FTSP
Chicago Style
.TINGKAT AKSESIBILITAS KAWASAN PUSAT KOTA DAN PUSAT WP KOTA BANDUNG DITINJAU DARI RUTE ANGKUTAN UMUM ().Teknik Planologi:FTSP,2007.Text
MLA Style
.TINGKAT AKSESIBILITAS KAWASAN PUSAT KOTA DAN PUSAT WP KOTA BANDUNG DITINJAU DARI RUTE ANGKUTAN UMUM ().Teknik Planologi:FTSP,2007.Text
Turabian Style
.TINGKAT AKSESIBILITAS KAWASAN PUSAT KOTA DAN PUSAT WP KOTA BANDUNG DITINJAU DARI RUTE ANGKUTAN UMUM ().Teknik Planologi:FTSP,2007.Text