// <![CDATA[PUSAT INTERPRETASI URBAN JALAN ASIA AFRIKA, BANDUNG (BANDUNG URBAN INTERPRETATION CENTRE)]]> GOSHA MUHAMMAD / 212004092 Penulis Juarni Anita, Ir., M.Eng. Dosen Pembimbing 1 Shirley Wahadamaputera, Ir., M.T. Dosen Pembimbing 2
Sebuah kota tidak dapat melepaskan dirinya dari sejarah. Didalamnya selalu terdapat bangunan-bangunan peninggalan masa lampau sebagai saksi bisu perjalanan waktu. Bangunan ini dapat berupa tempat berlangsungnya suatu peristiwa bersejarah, ataupun artefak arsitektur yang berguna bagi pembelajaran dan penelitian. Bandung sebagai kota yang dibangun pada masa kolonial Hindia-Belanda, dirancang sebagai kota tropis dengan konsep kota taman, dipersiapkan sebagai kota yang selalu mengikuti perkembangan dunia. Hal ini tampak dari banyaknya bangunan peninggalan masa lampau yang terpengaruh beragam langgam, mulai dari neo klasik, art deco, hingga international style. Perjalanan waktu menghasilkan perubahan tatanan ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Hal ini memberikan pengaruh yang besar pada keberadaan kawasan dan bangunan warisan sejarah. Pusat kegiatan masa lampau yang menjadi identitas kota, menjadi tidak menarik untuk dikunjungi. Akibatnya banyak bangunan yang terbengkalai dan terancam untuk dirubuhkan. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan identitas kota sekaligus meningkatkan kehidupan di kawasan warisan sejarah ialah dengan menjadikannya pusat aktivitas. Seiring dengan belum adanya sarana yang memberikan informasi mengenai warisan sejarah, seluk beluk kehidupan dan visi masa depan Kota Bandung, maka “Pusat Interpretasi Urban Bandung” mencoba menghadirkan usulan untuk menjawab kebutuhan diatas. Sekaligus memberi contoh bagaimana mempertahankan identitas kota melalui proses konservasi adaptive re-use. Bangunan yang digunakan ialah bekas toko de Vries, sebuah bangunan cagar budaya kategori A di Jalan Asia Afrika nomor 104-112. Restorasi dilakukan dengan memperbaiki kerusakan dan membangun kembali elemen bangunan yang telah hilang. Adaptasi dilakukan dengan menyesuaikan ruang dalam dari fungsi semula kedalam fungsi baru sebagai galeri interpretasi. Fungsi pendukung seperti galeri temporer, ruang serba guna, workshop, perpustakaan, ruang komunitas, coffee shop, dan fine dining restaurant dibangun di belakang bangunan de Vries sebagai massa tambahan. Bangunan tambahan ini akan berharmoni dengan bangunan lain didalam kawasan dalam aspek ukuran, proporsi, skyline, dan warna. Namun dari segi irama dan bentuk akan dibuat kontras guna memprovokasi pengamat agar tertarik untuk masuk ke dalam. Sebagai perantara antara bangunan lama dengan baru, ditempatkan sebuah inner courtyard berupa amphiteater terbuka yang berfungsi sebagai magnet aktivitas. Fungsi edukasi yang diramu dengan rekreasi dan komersial akan saling mendukung dan menciptakan aktivitas publik ditengah tengah kawasan warisan sejarah. Sehingga diharapkan dapat mendorong kegiatan turisme dalam kota sekaligus mampu meningkatkan keterkaitan intelektual dan emosional warga dengan Kota Bandung itu sendiri.