// <![CDATA[PERENCANAAN SHIFT KERJA DENGAN MEMPERHATIKAN BEBAN FISIOLOGIS PEKERJA DI PERUSAHAAN TEKSTIL (STUDI KASUS DI CV. MAEMUNAH MAJALAYA)]]> Ir. Caecillia S. W., M.T. Dosen Pembimbing 2 Ir. Yanti Heliyanti Dosen Pembimbing 1 WIWIN PUJIASTUTI / 13-1999-158 Penulis
CV. Maemunah Majalaya merupakan perusahaan tekstil yang memproduksi kain grey, dan saat ini perusahaan mengembangkan usaha dengan memproduksi kain sutera. Dalam usaha memenuhi pesanan pelanggan dan mengoptimalkan pemakaian mesin maka perusahaan memberlakukan shift kerja di bagian tenun. Selain itu jika memungkinkan tahun 2004 ini perusahaan ingin memberlakukan 7 hari kerja dalam seminggu, kecuali hari libur nasional. Keadaan shift kerja di perusahaan saat ini pemberlakuan shift kerja 6 hari, yaitu 6 hari pagi, 6 hari siang dan 6 hari malam (6-6-6), libur didapat pada hari Minggu dan hari libur nasional. Pekerja dibagi 3 kelompok, shift pagi dari pukul 07.00-15 .00, shift siang dari pukul 15.00-23.00 dan shift malam dari pukul 23 .00-07.00 wib. Dengan shift kerja saat ini ternyata tidak dapat memenuhi pesanan tepat waktu. Selain itu shift kerja 6-6-6 ini tidak dapat direkomendasikan karena kerja malam yang panjang dapat menimbulkan beberapa problem diantaranya problem kesehatan dan fisiologi tubuh. Rotasi shift kerja hendaknya dalam waktu singkat, shift malam berturut-turut hendaknya tidak melebihi 3 hari, dan setelah shift malam hendaknya diikuti dengan istirahat 24 jam penuh. Mengatasi efek negatif yang ditimbulkan dengan shift kerja saat ini, maka pada penelitian akan dicari kebijakan pembagian shift kerja yang memberikan beban fisiologis terkecil. Shift kerja yang diujicobakan: shift kerja 6-6-6, shift kerja 2-2-2/Rota Metropolitan yaitu 2 hari pagi 2 hari siang 2 hari malam dan shift kerja 2-2-3/Rota Kontinental yaitu 2 hari pagi 2 hari siang 3 hari malam. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh shift kerja 6-6-6, shift kerja 2-2-2 dan shift kerja 2-2-3 terhadap beban fisiologis pekerja, disamping itu mengusulkan shift kerja yang memberikan beban fisiologis terkecil untuk diterapkan di perusahaan. Pengukuran beban fisiologis pada penelitian ini menggunakan data denyut jantung dan untuk mengetahui kelelahan subjektif operator digunakan kuesioner Nordic Body Map. Hasil analisis statistik, denyut jantung sebelum bekerja/awal, setelah bekerja dan konsumsi energi menunjukkan perbedaan secara bermakna antara shift 6-6-6 dengan 2-2-2, 6-6-6 dengan 2-2-3 dan antara 2-2-2 dengan 2-2-3. Shift kerja 2-2-2 terbukti memberikan angka denyut jantung sebelum bekerja/awal, setelah bekerja dan konsumsi energi terkecil dari dua shift kerja lainnya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah. Hasil kuesioner Nordic Body Map menunjukkan dengan shift kerja 2-2-2 dan 2-2-3 kelelahan yang dirasakan operator setelah bekerja mengalami penurunan. Penurunan terbesar dirasakan pada shift kerja 2-2-2 misalnya kelelahan pada bagian pinggang hanya 13 orang dengan shift kerja 2-2-2 dan 2-2-3, sedangkan dengan shift 6-6-6 sebanyak 18 orang. Ditinjau dari sudut pandang ergonomi terutama dengan pendekatan beban fisik maka shift 2-2-2 lebih baik dari shift 2-2-3 dan 6-6-6 dan shift ini dapat direkomendasikan untuk diterapkan di perusahaan CV. Maemunah