// <![CDATA[RUMAH SUSUN SEDERHANA BERSAHABAT DI PERUMAHAN SARIJADI BANDUNG.]]> DENNY REZARIO / 212006094 Penulis Ir. Dwi Kustianingrum, MT. Ir. Dassa Sudana
Kepadatan penduduk mengharuskan mencari alternatif untuk menyediakan tempat tinggal. Tidak hanya untuk masyarakat yang memiliki uang berlebih, tetapi juga untuk masyarakat dari kalangan bawah. Kepadatan penduduk seringkali menyita lahan sehingga ruang tempat tinggal menjadi terbatas dan berdesakan. Apalagi masyarakat pedatang tidak terbendung kehadirannya. Ada pendatang yang tinggal dalam waktu yang tidak pendek. Bahkan telah pindah sebagai warga. Kota-kota besar pastilah mengalami seperti itu. Rumah susun adalah salah satu altenatif yang diplih, setidaknya untuk masyarakat menengah ke bawah. Untuk masyarakat yang memiliki uang sangat berlebih, apartemen adalah pilihan alternatif yang lain. Seperti kota-kota besar lainnya yang berkembang menjadi sebuah metropolitan, Kota Bandung sebagai ibukota Provinsi Jawa Barat juga mengalami permasalahan serius dalam pengaturan spasial (tata ruang). Hampir semua permasalahan yang dihadapi kota-kota metropolitan, saat ini dapat dicirikan di Bandung. Seperti kemacetan lalu lintas, kesemrawutan peruntukan kawasan, bertumbuhannya pemukiman kumuh (baik slum maupun squatter), tingkat kenyamanan hidup menurun drastis, penurunan kualitas lingkungan hidup, dan arus urban yang terus meningkat. Masalah urban merupakan masalah yang sangat kompleks berkaitan dengan berbagai permasalahan yang muncul akibatnya.Urbanisasi ini, menjadikan Bandung heurin ku tangtung. Menurut keterangan, saat ini penduduk yang resmi memiliki KTP Bandung jumlahnya sekira 2,7 juta jiwa, tapi pada hari kerja diperkirakan bisa menjadi 3 - 3,5 juta jiwa. Pemerintah Kota selama ini dinilai lebih berpihak kepada pengembang yang mengedepankan konsep hunian horisontal ketimbang konsep rumah susun (rusun). Sudah terbilang banyak produk perencanaan yang telah disusun baik oleh Pemkot, Pemkab, Pemprov serta pemerintah pusat. Sayangnya, berbagai produk perencanaan itu banyak ditentang oleh berbagai kalangan dengan alasan program tersebut kurang sesuai dengan peruntukkannya atau kurang tepat sasaran. Dengan semakin tumbuhnya perekonomian, kota Bandung terus dibanjiri oleh pendatang dari berbagai daerah. Tetapi Bandung tidak lagi memiliki lahan yang dapat digunakan sebagai land use. Kondisi seperti ini, penulis tertarik untuk mengangkat permasalahan tersebut.