// <![CDATA[USULAN TATA LETAK FASILITAS SHOCK ABSORBER STRUT (FRONT) UNTUK DAIHATSU TARUNA DENGAN MENGGUNAKAN METODE SIMULATED ANNEALING DI PT. KAYABA INDONESIA]]> Dr. Kusmaningrum., Ir., M.T Dosen Pembimbing 1 Lisye Fitria, Ir., MT. Dosen Pembimbing 2 AMIDA RATNA SHAMBAWA / 131995161 Penulis
Masalah tata letak fasilitas merupakan salah satu masalah yang terpenting pada suatu indistri manufaktur. Bila penempatan fasilitas dilakukan secara tepat, dapat meminimumkan Ongkos Material Handling dan meningkatkan efisiensi operasi manufaktur keseluruhan. Ada beberapa metode untuk menyelesaikan tata letak fasilitas yaitu metode optimal dan metode heuristik. Algoritma Simulated Annealing merupakan salah satu metode yang digunakan untuk perancangan tata letak fasilitas. SA yang dikembangkan oleh Helmi (2003) ini mampu melakukan pertukaran untuk semua fasilitas dan menghasilkan rancangan tata letak berupa AAD (Area Allocation Diagram). Algoritma SA merupakan algoritma general untuk menyelesaikan masalah optimasi kombinatorial dan secara asimtotik bisa dipandang sebagai algoritma optimasi meskipun pada prakteknya berperilaku seperti sebuah algoritma aproksimasi (heuristik) .Algoritma ini didasarkan pada analogi antara simulasi proses annealing benda solid (logam) dengan masalah pencarian solusi optimasi Kombinatorial. Dalam penelitian ini perancangan tata letak fasilitas dengan model SA dilakukan dengan pendekatan basil ARD (ActiVIty Relationship Diagram) yaitu setiap fasilitas diubah dalam bentuk modul yang memiliki ukuran tertentu. Modul-modul tersebut secara system akan disusun berdasar tingkat kedekatan dengan tujuan minimasi OMH. Dari ARD minimum yang diperoleh dilakukan penyusunan tata letak fasilitas (Template). Penelitian dilakukan di PT. Kayaba Indonesia pada bagian Shoock Arsorber (Front) pada Daihatsu taruna. Untuk melakukan pengolahan data dilakukan penentuan parameter-parameter yang akan digunakan pada algoritma SA. Dengan menggunakan temperatur awal (To) : 100, 500, 1000,10000 temperatur akhir (fa) 1, laju pendinginan (ex) digunakao 0,8, 0,9, 0,99, 0,999 dan jumlah iterasi (Nt) digunakan 10. Pada penelitian yang dilakukan didapat hasil yang optimal adalah dengan menggunakan temperatur awal 10000, temperatur akhir laju pendinginan 0,9999 dan jumlah ierasi 10. Perbandingan antara tata letak lama dengan tata letak hasil penelitian dapat disajikan pada tabel berikut : Pada penelitian yang dilakukan didapat hasil yang optimal adalah dengan menggunakan temperatur awal lOOOO, temperatur akhir 1, laju pendinginan 0,9999 dan jumlah ierasi 10. Dari tabel di atas diketahui bahwa metode SA dapat menghasilkan tata letak lebih baik dengan menghasilkan OMH lebih minim