// <![CDATA[PERAPATAN DATA TINGGI MUKA LAUT SATELIT ALTIMETER TOPEX/POSEIDON MENGGUNAKNA METODE INTERPOLASI KRIGING]]> JEMBRISER TS /231995029995 Penulis DEWI KANIA SARI Dosen Pembimbing 1 103GD/03 Penulis
Data tinggi muka laut atau disebut Sea Sulface Height (SSH) sangat diperfukan untuk studi-studi kelautan. Kendala yang dihadapi adalah sulit dan mahalnya pengumpulan data SSH. Dengan munculnya teknologi satelit maka kemudahan dan kemurahan untuk pengkoleksian data tersebut dapat diatasi. Meskipun demikian untuk studi-studi kelautan pada wilayah yang relatif kecil ketersediaan data tersebut tidak memadai. Permasalahan ini dapat diatasi dengan melakukan perapatan data SSH menggunakan metode interpolasi spasial, salah satu di antaranya adalah metode Kriging. Kriging adalah metoda perapatan geostatistika yang telah terbukli kegunaannya dan popular di berbagai bidang. Metode lni menunjukkan peta hasil perapatan yang baik dari data keruangan yang tidak teratur (irregularly). Pada perkembangannya metode ini digunakan sebagai metoda interpolasi yang terbaik dan termasuk dalam kelompok B.L.U.E (Best Unear Unbiased Estimatol). Kriging adalah Best Estimator karena meminimalisasikan kesalahan estimasi; Unear Estimator karena menerapkan bobot rata-rata pada setiap data yang ada; Unbiased Estimator karena jumlah kesalahan estimasi adalah 0 (prinsip kuadrat terkecil). Pada penelitian ini dilakukan perapatan data SSH hasil pengamatan satelit Topex!Poseidon. Data tersebut adalah data hasil pengamatan pada tanggal 04 April1998 dengan kerapatan 0.5° yang berjumlah 10 buah data SSH.Perapatan data tersebut dilakukan dengan menggunakan metode Kriging yang terdapat pada perangkat lunak Surfer 7.02. Metoda Kriging yang digunakan pada penelitian ini menggunakan tiga model variogram, yakni : model Unear. Exponential, dan Spherical. Dari hasil proses penginterpolasian menggunakan ketiga model variogram dilakukan anaJisis temadap besar penyimpangan antara nilai data SSh sebenamya dengan nilai data SSH yang diperoleh dari hasil interpolasi. Hasil interpolasi yang diperoleh berupa kontur data SSH dengan kerapatan data SSH 10' (± 18 km).