// <![CDATA[TINGKAT KELELAHAN SUPIR SHUTTLE SERVICE BERDASARKAN KADAR KORTISOL DALAM DARAH DAN NASA-TLX (TASK LOAD INDEX)]]> Caecilia Sri Wahyuning Dosen Pembimbing 2 Arie Desrianty Dosen Pembimbing 1 IRSAL KARIM/132007112 Penulis
Kecelakaan kendaraan shuttle Service dari tahun ke tahun semakin meningkat. Kecelakaan ini diakibatkan oleh kelelahan yang terjadi pada supir saat mengendalikan kemudi. Kelelahan dibagi menjadi dua, yaitu kelelahan fisik dan kelelahan mental. kelelahan fisik dicirikan dengan keadaan otot pada tubuh yang melemah, sedangkan kelelahan mental terjadi akibat luasnya lingkup permasalahan yang dihadapi. Dampak dari kelelahan mental adalah stres. Saat tubuh dalam keadaan stres, tubuh mengeluarkan homon kortisol. Saat tubuh kelebihan hormon kortisol maka tubuh tersebut akan mudah terserang penyakit, begitu juga sebaliknya. Salah satu faktor yang dapat membuat terjadinya kelelahan pada saat supir mengendalikan kemudi adalah pembagian jam kerja. Dampak dari pembagian kerja yang tidak teratur adalah supir akan kekurangan waktu istirahat sehingga membuat tubuh akan merasa cepat lelah ketika melakukan pekerjaan. Pembagian kerja untuk supir yang tidak teratur terjadi pada jasa transportasi Tavel X. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengukuran kadar kortisol untuk mengetahui kelelahan fisik dan pengukuran beban kerja mental menggunakan NASA-TLX (Task Load Index) untuk mengetahui kelelahan mental. Pengumpulan data dibagi menjadi tiga yaitu data perusahaan, data sampel darah dan data rating NASA-TLX. Data perusahaan menjelaskan pembagian kerja yang terdapat pada Travel X. Data sampel darah berasal dari satu orang supir sebanyak 6 buah sampel yang diambil pada waktu yang berbeda. Sampel darah ini dilakukan pengukuran kadar kortisol di laboratorium. Data rating NASA-TLX berisikan rating nilai kategori yang terdapat pada NASA-TLX. Pengolahan data yang dilakukan adalah, pengolahan data terhadap kadar kortisol dan pengolahan data terhadap NASA-TLX. Pengolahan data terhadap kadar kortisol dilakukan pengujian Analysis of Variance (ANOVA) untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar kortisol yang terjadi pada setiap waktu pengambilan data. Pengolahan data terhadap NASA-TLX adalah menentukan score rata-rata NASA-TLX. Nilai kadar kortisol yang didapatkan dari hasil pengukuran di laboratorium yaitu: pada pukul 12.20 adalah 5,96 μg/dL, pukul 15.00 adalah 4,69 μg/dL, pukul 15.35 adalah 4,37 μg/dL, pukul 18.20 adalah 2,86 μg/dL, pukul 18.50 adalah 2,49 μg/dL, dan pukul 20.45 adalah 1,67 μg/dL. Hasil dari pengolahan data yang telah dilakukan untuk pengujian ANOVA, didapatkatkan kesimpulan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar kortisol yang terjadi pada siang, sore, dan malam hari. Kemudian dari hasil pengolahan NASA-TLX didapatkan score rata-rata pada siang hari adalah 72,33%, sore hari 82,67%, dan malam hari adalah 88,67%. Dari hasil pengolahan data yang telah dilakukan adalah didapatkan penurunan nilai kadar kortisol dan peningkatan score rata-rata dari waktu ke waktu. Kadar kortisol yang terjadi pada malam hari merupakan kadar kortisol yang paling rendah dan berada di luar batas nilai rujukan (nilai rujukan: 2,3 μg/dL s/d 11,9 μg/dL), hal ini berarti tubuh kekurangan kadar kortisol. Dampak dari tubuh kekurangan kadar kortisol adalah tubuh akan mudah terserang penyakit. Kemudian apabila nilai kadar kortisol pada malam hari dikaitkan dengan score ratarata NASA-TLX, maka dapat diketahui bahwa terjadi kelelahan fisik yang diakibatkan oleh kelelahan mental yang terjadi pada tubuh supir tersebut. Hal ini dikarenakan faktor yang paling dominan dari score rata-rata NASA-TLX pada malam hari adalah Physical Demand. Oleh karena itu, rekomendasi yang dilakukan untuk mengatasi kemungkinan terjadinya tubuh kekurangan kadar kortisol adalah dengan melakukan pebuatan pembagian jam kerja untuk supir, agar supir dapat melakukan istirahat yang cukup ketika melakukan pekerjaan.